Omong Kosong Slogan ‘Semua Karena Cinta’ Bupati Jember

Ilustrator: Agitasi/Aris Sholihin

AGITASI.IDKata cinta kini sedang dikomersialisasi di Kabupaten Jember. Banyak sematan slogan “Semua Karena Cinta” di baliho, di caption Instagram, bahkan di pidato sambutan Bupati Jember.

Tapi, slogan kebanggaan itu seketika terdengar miris, karena ada kasus seorang mahasiswi asal Kecamatan Balung yang terkena serangan seksual dan tak segera ditangani. Parahnya, pelaku merupakan tetangga korban yang kini masih bebas berkeliaran.

Bacaan Lainnya

Slogan cinta itu mendadak kehilangan wujudnya. Yang tersisa hanyalah omong kosong, seperti permen rasa stroberi, tapi rasanya pahit.

Seakan-akan kata cinta memang sedang jadi asas pemerintahan Bupati Jember. Tapi kalau cinta tak mampu melindungi perempuan dari kekerasan, maka itu bukan cinta, tapi retorika politik yang dibungkus soft filter Instagram.

Dalam filsafat cinta ala Erich Fromm, cinta sejati bukan tentang kata-kata, melainkan tanggung jawab. Cinta adalah tindakan konkret, bukan slogan yang dicetak di spanduk.

Berbeda dengan yang ada pada slogan Bupati Jember. Cinta itu tampaknya cuma datang dalam bentuk seremonial: program Gus’e Menyapa, pose bersama ibu-ibu dan senyum ramah di depan kamera.

Lalu sunyi ketika ada anak bangsa terkena serangan seksual di rumahnya sendiri.

Pemerintah Jember terlalu sering jatuh cinta pada panggung, bukan pada rakyatnya. Ada cinta di depan kamera, tapi nihil empati di belakang layar.

Gus Bupati terlihat sangat cepat bereaksi ketika yang disentuh isu pesantren atau kiai, karena di situlah modal sosial elektoralnya.

Baca Juga :  Konsekuensi Hukum pada Tayangan Trans7 yang Hina Pesantren

Tapi begitu ada tubuh perempuan yang dilukai, pemerintah mendadak gagap. Seolah itu bukan bagian dari cinta yang dijanjikan.

Apa itu arti Semua Karena Cinta? Ya, mungkin cinta pada citra.

Polisi Lelet

Ketika kasus kekerasan seksual viral. Polsek Balung terkesan memandang kasus ini bukan soal anak bangsa yang terkena serangan seksual, melainkan tumpukan file kasus yang entah kapan ditindak.

Memang benar. Hukum di negeri ini kadang seperti sinetron. Pelaku bebas jalan-jalan, korban menanggung trauma, dan masyarakat disuguhi pernyataan: penyelidikan masih berjalan.

Secara lensa diskursus film, adegan begitu akan dihapus karena membosankan. Namun, di dunia nyata, inilah naskah yang diulang saban hari; negara datang terlambat, kalau tidak absen sekalian.

Kalau saja Kapolsek Balung membayangkan korban itu anak perempuannya sendiri, mungkin ia akan segera berlari, bukan berjalan. Tapi empati rupanya tak lagi jadi bagian dari SOP.

Menurut Simone de Beauvoir Simone dalam karya terkenalnya The Second Sex, berargumen bahwa perempuan sejak lama telah dijadikan objek (Beauvoir, 1956: 15). Diposisikan sebagai “yang liyan” (the other), yang selalu disingkirkan dari pusat perhatian sosial dan politik. Kasus kekerasan seksual di Kecamatan Balung adalah bukti hidupnya teori itu.

Paling menyebalkannya, Negara absen, aparat penegak hukum lelet, bahkan kepala desa yang sempat menyarankan jalan damai lewat pernikahan. Hal ini merupakan bentuk kekerasan simbolik yang lebih menusuk dari serangan seksual itu sendiri.

Masyarakat sudah tahu bahwa kata “cinta” yang dijual pemerintah Jember kini tak lagi selaras dengan realitas lapangan. Sebab cinta yang dijanjikan tak pernah hadir saat rakyat menangis.

Masyarakat seperti hidup dalam drama post-truth lokal: kebenaran bukan apa yang terjadi, tapi apa yang diunggah di media sosial Pemkab Jember.

Baca Juga :  GMNI FKIP dan FIB UNEJ Gelar Webinar Kronik Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Ketua Senat UNEJ: Propaganda Politik, Menurut Saya Harus Dihentikan!

Pemerintah Jember sibuk menulis caption penuh kasih, sementara seorang perempuan masih menunggu keadilan yang tak segera datang.

Cinta dalam konteks kekuasaan, memang mudah disulap menjadi kosmetik moral. Bisa menjelma sebagai bahan kampanye, jargon, bahkan strategi komunikasi politik.

Ketika cinta tidak melahirkan tanggung jawab, maka akan berubah menjadi kekerasan baru, kekerasan yang lebih halus, sistemik, dan licik.

Ketika Cinta Tak Lagi Menyentuh Korban

Ketika slogan Semua Karena Cinta tak lagi menyentuh. LBH IKA PMII, Fatayat NU, dan Kopri PMII Jember kini berdiri bersama korban. Hadirnya lembaga bantuan hukum tersebut, bukan karena kamera, tapi dengan keberanian.

Mereka tahu bahwa cinta sejati adalah advokasi, bukan slogan, sehingga melindungi korban berarti juga melindungi martabat kemanusiaan.

Sementara pemerintah Jember masih berdiam diri tak segera gerak. Gus Bupati yang dulu berjanji “Semua Karena Cinta”, tampaknya lupa bahwa cinta sejati adalah keberpihakan pada yang lemah.

Secara lanskap politik, mungkin itu terlalu berat. Sebab, mencintai korban berarti siap melakukan upaya penyelesaian kasus kekerasan seksual.

Suatu hari nanti, mungkin Gus Bupati akan menyapa lagi di acara “Gus’e Menyapa.” Namun, sebaiknya ia tahu, kalau masyarakat Balung sedang menunggu “Gus’e Bertindak”.

Cinta yang tidak bekerja, tidak menyembuhkan, tidak melindungi hanya akan menjadi omong kosong dan tak bisa menggantikan keadilan.

Penulis: Faiq Al Himam

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *