Sekolah Tinggi Alkitab Jember Gelar Nobar ‘Menolak Punah’, Soroti Dampak Fast Fashion

Suasana setelah nobar dan diskusi film 'Menolak Punah' di Sekolah Tinggi Alkitab Jember.
Suasana setelah nobar dan diskusi film 'Menolak Punah' di Sekolah Tinggi Alkitab Jember.

Jember, Agitasi.id – Sekolah Tinggi Alkitab (STA) Jember menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film berjudul “Menolak Punah” pada Jumat, 8 Mei 2026, pekan lalu.

Kegiatan ini menyoroti dampak negatif fast fashion terhadap sampah tekstil.

Bacaan Lainnya

Acara yang dihadiri mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum tersebut, menyajikan diskusi mengenai bagaimana pola konsumsi pakaian dengan siklus fast fashion, sehingga menyebabkan masalah sampah dan pencemaran lingkungan.

Film tersebut menekankan pentingnya kebijakan berpakaian yang bijak, menolak budaya FOMO (Fear of Missing Out), dan membedakan antara kebutuhan dengan keinginan.

“Jangan mudah FOMO, sekarang semuanya serba instan, termasuk sandang. Anak-anak gen Z cenderung menginginkan yang instan sehingga lahirlah fast fashion. Mereka membeli karena ‘lapar mata’, setelah dipakai sebentar dan ada model baru, yang lama menjadi sampah,” ujar Dina Putu Ayu Kristiani, selaku pemandu diskusi sekaligus Ketua Sobung Sarka Jember.

Menurutnya, pencemaran air di Indonesia dipengaruhi secara signifikan oleh limbah industri dan pasca konsumsi, termasuk sisa kain dan pakaian bekas.

Kondisi ini berpotensi merusak biota air dan ekosistem, sehingga memengaruhi kesehatan bumi secara luas.

Pembicara lain, Anandita Azharunnisa Sasmita, menekankan bahwa konsumen seringkali menjadi korban model bisnis industri fast fashion.

“Fast fashion dirancang agar cepat usang, bahan dibuat kurang awet sehingga konsumen terus membeli model baru. Dampak lingkungan ditanggung oleh masyarakat bawah, bukan pelaku industri,” jelasnya.

Pada acara nobar tersebut, juga menyoroti peredaran pakaian impor murah yang memasuki pasar lokal di Indonesia.

Praktik thrifting atau penjualan pakaian bekas antar warga sebenarnya membantu sirkulasi barang, namun arus besar pakaian impor murah, justru berisiko menambah volume sampah di Indonesia.

Baca Juga :  SRIKANDI AKADEMISI dan AKTIVIS , RAIH GELAR DOKTOR

“Baju kiriman dari luar negeri yang dijual murah memang bermula dari niat baik, tetapi akhirnya menjadi sampah di sini,” ujar Anandita.

Acara ini menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan dengan mengubah pola konsumsi pakaian, agar lebih mencintai produk dalam negeri, dan membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. (*)

Penulis: Syarifah D. R. Nadiyah

Editor: Nadila Sania S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *