Oleh: Mashur Imam,M.E*
“Wes to, semua boleh berbeda atas dasar perspektif baiknya masing-masing“
Kalimat ini lekang dalam sudut-sudut ingatan siapa saja yang pernah duduk berhadapan dengan Minan Jauhari. Sosok yang selalu penulis panggil “Cak” ini, hadir sebagai kontra budaya akademik yang hari ini kerap kali diklaim bising oleh ego sektoral dan keangkuhan intelektual. Sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, tentu kepergiannya menyisakan rumpang teramat besar. Wafat mendadak tanpa gejala, sebab musabab jelas, dan yang paling menyesakkan, juga tanpa pamit.
Sebenarnya cak Minan bukan siapa-siapa. Apalagi bagi yang memandangnya dari kejauhan, atau dari luar pagar birokrasi kampus, mungkin sosoknya hanyalah manusia biasa. Mungkin hanya terlihat sebagai rakyat akademisi pada umumnya, seorang pegawai negeri yang berangkat pagi dan pulang sore dengan rutinitas yang itu-itu saja.
Secara kasatmata, rekam jejak karir birokrasinya memang terbilang biasa-biasa saja. Bukan tokoh nasional yang wajahnya wara-wiri di layar televisi atau halaman media-media mainstream. Sepanjang pengabdiannya di kampus, jabatan struktural tertinggi yang pernah ia emban adalah Wakil Dekan (Wadek) III. Dalam tradisi politik kampus mana pun, Wadek III adalah jabatan yang sering kali tak bergelimang prestise akademis. Jabatan yang biasanya dikhususkan untuk “ngopeni” mahasiswa, mengurus kegiatan ekstrakurikuler, hingga menjadi palang pintu antara birokrasi kampus dan urusan kemahasiswaan.
Lumrah dianggap bahwa Wadek III, Jabatan Cak Minan ini, adalah jongos pimpinan kampus yang selalu khawatir pada kritik-kritik mahasiswa. Ketika musim demonstrasi tiba dan mahasiswa turun ke jalan membakar ban di depan rektorat, Wadek III yang diharapkan rela menjadi bemper pelindung. Jadi selama hidup, Cak Minan adalah orang yang ditugaskan untuk berdiri di garis depan, menghadapi teriakan parau para aktivis, dan meredam amarah mereka.
Mungkin, bagi banyak pejabat kampus, tugas ini adalah kutukan. Menghadapi mahasiswa yang sedang berdarah panas, membutuhkan kesabaran ekstra dan urat saraf yang tebal. Namun, tidak bagi Cak Minan. Sebagai pakar ilmu komunikasi yang tumbuh dan ditempa dalam kerasnya dunia pergerakan aktivis sejak masa mudanya, tugas mendinginkan kepala mahasiswa bukanlah sebuah beban.
Karakter aslinya yang dermawan, kalem, dan sangat menikmati perdebatan membuat jabatan itu terasa seperti habitat aslinya. Baginya, menemui demonstran, mendengarkan tuntutan mereka yang meledak-ledak, lalu berdebat secara dialektis, ibarat menikmati gorengan saat ngopi. Bisa dianggap bukan perkara berat yang tak bisa dinikmati. Ia tidak pernah memposisikan dirinya sebagai penguasa yang anti-kritik. Mahasiswa dipandangnya sebagai kawan diskusi atau anak, yang salah dan benarnya, tetap harus dicintai.
Jadi, tidak ada yang terlalu spesial atau heroik dari tugas-tugasnya sebagai Wadek III. Lumrah dan terlalu ringan bagi orang yang memang mantan aktivis dan telah kenyang pada perdebatan tetek bengek dunia mahasiswa. Menurut penulis, hal yang benar-benar menarik dan pantas diaturkan hormat adalah laku hidupnya sebagai seorang dosen yang kuat di tengah perguruan tinggi–yang meminjam istilah Peter Fleming–dalam kondisi “dark academia“.
Dunia akademik kita hari ini sedang tidak baik-baik saja. Menjadi dosen untuk sekadar mengajar di kelas, membimbing skripsi, dan mengurus nilai mahasiswa, tentu perkara gampang yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Yang istimewa di mata penulis, cak Minan sebagai intelektual telah berhasil keluar dari kerangkeng kebobrokan akademik dewasa ini. Ia menolak menjadi sekrup bisu dalam mesin birokrasi pendidikan yang semakin hari semakin kehilangan ruh keilmuannya.
Mari kita bicara jujur tentang kegelapan dunia akademik saat ini. Di banyak kampus, tridharma perguruan tinggi telah direduksi menjadi deretan angka, tabel, dan laporan pertanggungjawaban yang kaku. Banyak dosen yang bekerja layaknya buruh pabrik, dikejar-kejar oleh tenggat waktu kewajiban administratif, pengisian beban kerja dosen, dan perburuan “kum” untuk kenaikan pangkat. Atmosfer budaya intelektual akhirnya menguap, tergantikan obsesi pada indeks Scopus dan jurnal-jurnal berbayar yang sering kali berakhir pada kapitalisasi penelitian.
Dosen dihadapkan pada rutinitas yang sangat mekanis dan melelahkan. Kewajiban pengisian beban kerja yang kaku, target publikasi di jurnal berindeks yang sering kali transaksional, dan tuntutan administratif lainnya menyita hampir seluruh ruang pikir. Banyak dosen yang hari ini terpaksa bekerja layaknya mesin, mengejar tenggat waktu laporan pertanggungjawaban dan menumpuk kertas demi memenuhi syarat akreditasi program studi atau keperluan kenaikan pangkat.
Kondisi struktural semacam ini perlahan-lahan menumpulkan ketajaman intelektual para dosen sebagai makhluk yang katanya paling terdidik. Orang-orang yang pada masa mudanya dikenal memiliki nalar kritis, tajam, dan brilian terpaksa menyesuaikan diri dengan kultur fungsionalistis kampus. Budaya akademik mendisiplinkan dosen secara administratif dan abai dalam mendorong mereka menjadi pemikir yang merdeka.
Situasinya menjadi lebih memprihatinkan dengan kemunculan oknum-oknum birokrat kampus yang menduduki jabatan strategis semata-mata melalui jalur kedekatan, rekomendasi kekuasaan, atau kelihaian mencari muka di hadapan pimpinan rektorat. Kapasitas intelektual dan integritas akademik sering kali dikesampingkan demi mengamankan loyalitas kelompok.
Di tengah situasi pendidikan tinggi yang suram demikian, cak Minan sering memosikan dirinya sebagai martir. Ia terus berkarya dan konsisten menghidupkan tradisi keilmuan yang sehat tanpa peduli pada hiruk-pikuk pencitraan kampus. Salah satu peristiwa yang penulis ingat, saat ia menyelesaikan studi doktoralnya di bidang ilmu dakwah dan komunikasi Islam. Disertasi yang ia kerjakan bertahun-tahun berhasil dibukukan dan diterbitkan dengan judul “Dialektika Khilafah & Politik Kebangsaan”. Buku ini mengangkat tema yang sangat berat, mengupas wacana khilafah di tengah realitas ideologi kebangsaan, dan menuntut kerangka metodologi yang ketat.
Hal yang membuat penulis tertegun kala itu, ia tidak memarkan karyanya sebagai pajangan kebanggaan atau untuk mendongkrak popularitas dan prestise gelarnya. Justru, Cak Minan mendistribusikan buku itu kepada semua orang yang ia anggap berpotensi memberikan kritik. Dengan rasa tawaduk, ia mendatangi seluruh pihak. Ia membagikan buku itu kepada para guru besar atau senior-seniornya yang lebih sepuh di kampus. Bahkan anehnya, ia juga mendatangi penulis, yang usianya terpaut sangat jauh di bawahnya. Jarak usia dan senioritas seolah tak memiliki arti di matanya, jika itu berkaitan dengan diskursus keilmuan.
Ia menyerahkan bukunya secara langsung dan meminta penulis untuk membacanya perlahan, demi memberikan kritik yang tajam. Sebenarnya, ada pergolakan batin yang hebat saat itu, antara rasa malu sebagai junior yang ilmunya belum seberapa, dan rasa bangga karena dihargai sedemikian rupa oleh seorang doktor.
Penulis sangat berharap bukunya dapat menjadi arena pertarungan gagasan yang membuka lebar dialektika progresif di UIN KHAS Jember. Sayang seribu sayang, hingga akhir hayatnya, hingga Tuhan memanggilnya pulang, tak ada satu pun forum diskusi besar atau bedah buku yang digelar secara serius untuk menguji karyanya itu. Buku yang ditulis dengan keringat intelektual dibiarkan tergeletak begitu saja, dianggap tidak cukup penting, atau lebih ironis lagi, mungkin hanya dipandang sebagai produk administratif belaka.
Fenomena ini merupakan bukti konkret betapa gelapnya dunia akademik kita hari ini. Sangat jarang, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari, ada dosen yang secara sukarela dan berani meminta dirinya dikritik, apalagi meminta kritik tersebut dari mahasiswa atau kader yang usianya berada jauh di bawahnya. Tradisi kritik telah mati pelan-pelan, dibunuh oleh feodalisme kampus yang mengagungkan senioritas dan hirarki struktural. Dosen enggan dikritik mahasiswa karena dianggap meruntuhkan wibawa, sementara mahasiswa takut mengkritik dosen karena khawatir nilainya akan dipersulit. Lingkaran setan inilah yang melahirkan generasi akademisi penurut, bukan pemikir merdeka.
Cak Minan adalah antitesis dari situasi dark academia ini. Bolehlah, penulis menyebutnya, martir yang gugur saat mempertahankan keyakinannya bahwa kritik adalah nyawa dari ilmu pengetahuan. Sosoknya menjadi cermin retak yang memantulkan keburukan para pejabat kampus. Utamanya bagi mereka yang hanya mampu bersolek, yang menduduki jabatan empuk bukan karena rekam jejak riset atau publikasinya, melainkan semata-mata karena kelihaian bermanuver, kedekatan dengan lingkaran kekuasaan, atau bermodalkan rekomendasi dari pihak yang punya pengaruh.
Cak Minan tidak pernah dipilih dan dihormati karena intrik politik semacam itu. Dihormati dan akan terus dikenang karena etos kerjanya yang tulus. Diakui karena kapasitas intelektualnya yang mumpuni dalam upaya menguatkan kultur akademik yang mulai lapuk. Ia percaya bahwa kampus bukan pabrik pencetak ijazah atau tempat para dosen mencari penghidupan. Kampus rahim tempat ideologi diuji, tempat segala asumsi dibongkar, dan tempat kebenaran dicari tanpa henti melalui dialektika yang jujur tanpa marah-marah.
Semestinya, kepergian Cak Minan adalah alarm keras bagi kita semua yang masih mengaku sebagai kaum terpelajar. Ia wariskan keteladanan yang mahal tentang bagaimana seharusnya dosen atau kelompok akademisi bersikap. Semua mestinya sadar, bahwa puncak tertinggi dari pencapaian intelektual bukan gelar profesor atau jabatan struktural, tetapi kerendahan hati untuk menyadari bahwa kebenaran yang kita yakini belumlah final. Dan karenanya, selalu membutuhkan kritik dari orang lain, siapapun itu.
Mari kembangkan ilmu yang merdeka! malu jika ternyata kampuslah yang tak menghormati perkembangan pengetahuan. Hanya jadi kumpulan jejaring birokrasi yang tak ada bedanya dengan kartel.
*Penulis adalah Founder Dar Al Falasifah, Sekretearis Lakpesdam PCNU Jember, Dosen STAICI Situbondo dan Penyuluh Agama Islam KUA Kaliwates
*Artikel ini merupakan pendapat pribadi dari penulis opini, Redaksi Agitasi.id tidak bertanggungjawab atas komplain apapun dari tulisan ini