Menelisik Aksesibilitas dan Pendidikan Inklusif, Menggali Realitas Mahasiswa Difabel di UIN KHAS Jember

Ilustrasi : Agitasi/Alfa Reza

AGITASI.ID – Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, telah mengalami banyak perubahan baik dari metode pembelajaran hingga pembangunan infrastruktur. Meski begitu, realita ini dihadapkan pada kritik tajam terkait kurangnya aksesibilitas bagi mahasiswa disabilitas.

Dalam kasusnya, tidak ada infrastruktur yang dirancang secara khusus untuk mendukung kebutuhan mahasiswa disabilitas. Lift hanya terdapat di beberapa gedung tertentu, sementara tangga-tangga yang ada jarang menggunakan bidang miring, membuat akses bagi mahasiswa disabilitas menjadi sulit.

Bacaan Lainnya

“Sebenarnya kampus ini sudah banyak pembangunan, namun tidak ada satupun pembangunan yang mengarah ke aksebilitas untuk disabilitas,” ujar salah satu dosen berinisial DN.

Kendala tidak hanya terbatas pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pemenuhan terhadap metode pembelajaran. Di undang-undang telah dengan jelas menegaskan pentingnya memenuhi kebutuhan mahasiswa disabilitas. Namun hal ini belum sepenuhnya terpenuhi di lingkungan akademik UIN KHAS Jember.

Hal ini mendapat pendapat kritis dari salah seorang aktivis mahasiswa, Ilham Hidayatulloh. Dia menjelaskan bahwa saat ini kampus UIN KHAS Jember tidak memenuhi Regulasi yang ditetapkan terkait pemenuhan kebutuhan disabilitas.

“Terkait pemenuhan kebutuhan terhadap kelompok disabilitas, kami melihat bahwa kampus masih kurang dapat memberikan fasilitas yang memadai bagi mereka. Padahal undang-undang menyatakan bahwa mereka juga memiliki hak atas pemenuhan kebutuhannya,” kritik dari Ilham.

Mahasiswa disabilitas sering mengalami kesulitan dalam mengakses pembelajaran, akibat kurangnya pemahaman dari dosen dalam mengajar sesuai dengan kebutuhan mereka. Permasalahan ini semakin diperparah dengan minimnya kerja sama antara UIN KHAS Jember dengan komunitas difabel.

Baca Juga :  Krisis Air Bersih, Di Tengah Cuaca Hujan Ekstrem

“Setau saya kampus tidak pernah bergerak untuk kelompok disabilitas,” lanjut Ilham.

Walaupun pernah terdapat acara longmarch mengelilingi kampus, peringati Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2022. Acara ini sebenarnya sudah diapresiasi oleh beberapa tokoh kampus, seperti Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Namun, sayangnya itu hanya bentuk apresiasi saja tidak ada keberlanjutan untuk kampus.

“Memang acara itu diapresiasi oleh wakil rektor yang saat ini menjabat sebagai rektor, namun sepertinya itu tidak ada keberlanjutan terkait pemenuhan fasilitas disabilitas,” kata salah satu mahasiswa yang mengikuti acara tersebut.

Hal ini menimbulkan pertanyaan serius terkait komitmen kampus, dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua mahasiswa. Bahkan ada ungkapan dari seorang mahasiswa difabel yang berkuliah di UIN KHAS Jember, betapa sulitnya proses belajar mengajar bagi mereka akibat aksesibilitas yang terbatas dan kurangnya dukungan.

“Saya hanya ingin kuliah dengan nyaman, akan tetapi yang saya rasakan bukan kenyamanan, tetapi siksaan dalam mengakses beberapa fasilitas dan aksebilitas kampus,” ujar mahasiswa difabel UIN KHAS Jember berinisial ARN.(*)

Penulis : Roudlotul Atfal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *