Cerita Sundari Sang Penjaga Cita Rasa Ketan di Pojok Mangli Jember

Suasana pagi saat Sundari sedang melayani pembeli ketan di lapaknya.
Suasana pagi saat Sundari sedang melayani pembeli ketan di lapaknya.

AGITASI.ID, JEMBER- Di sudut Perempatan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, ada satu aroma ketan yang sulit dilupakan oleh para pembelinya. Ketan hangat bercampur parutan kelapa dan kedelai itu menyelinap di antara asap kendaraan, deru motor, dan bunyi klakson yang bersahutan di lampu merah.

Tak jauh dari situ, rel kereta api membelah jalan. Sesekali, suara gemuruh roda besi yang menghantam rel membuat tanah bergetar kecil, memecah keheningan sejak dini hari.

Bacaan Lainnya

Di tempat itulah, seorang perempuan bernama Sundari, atau akrab dipanggil Buk Sun, menghabiskan keseharian hidupnya.

Perempuan kelahiran Jember, 10 Agustus 1969 itu, sudah puluhan tahun berjualan ketan di pinggir jalan dekat rel kereta api Mangli. Warung kecilnya sederhana, namun selalu punya tempat di hati pelanggan. Banyak orang datang bukan hanya karena lapar, tetapi karena rasa yang tak pernah berubah sejak dulu.

“Yang membuat ketan ini tetap eksis ya rasanya,” ujar Buk Sun sambil tersenyum ramah.

Baginya, menjaga rasa bukan sekadar urusan dagangan, tetapi cara menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah bertahun-tahun datang. Ia percaya, sekali rasa berubah, pelanggan pun perlahan pergi.

“Kalau rasa dirubah, mungkin konsumen akan meninggalkan. Jadi saya tidak pernah merubah rasa,” katanya pelan sambil tersenyumm gurau.

Sebab, mempertahankan rasa tak semudah membalik telapak tangan. Ada perjuangan panjang yang jarang diketahui banyak orang.

Usaha ketan itu sebenarnya bukan dimulai darinya. Warung tersebut merupakan peninggalan ibunya, Suyati, yang mulai dirintis sejak tahun 2005. Dari generasi ke generasi, ketan itu tetap bertahan di tengah perubahan zaman dan menjamurnya makanan modern.

Baca Juga :  Tingkatkan Kecintaan Pada Seni Theater, ATOS Adakan diklat Ruang dan Lapang

Dulu, lokasi jualannya berada di sebelah selatan lampu merah Mangli. Kini berpindah ke sisi pojok utara, tepat di dekat rel kereta api. Jarak rumahnya dengan tempat berjualan hanya sekitar 60 meter. Setiap hari, ia berjalan kaki dari rumahnya di Jalan Udang Windu RT 02 RW 11, Desa Mangli, menuju warung kecil yang menjadi saksi perjuangan hidupnya.

Namun siapa sangka, dari warung sederhana itulah Buk Sun berhasil menguliahkan kedua anaknya hingga lulus sarjana.

Anak pertamanya, Julial Hidayatullah, kuliah di Universitas Negeri Jember (UNEJ) jurusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan lulus pada tahun 2018. Kini ia bekerja di perusahaan telekomunikasi Tri di Kota Malang. Sementara anak keduanya, Ukrimatul Irhamnia, lulus dari Universitas PGRI Argopuro (UNIPAR) pada tahun 2023 dan sekarang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember.

Perjuangan Buk Sun untuk pendidikan anak-anaknya bukan hal mudah. Demi membiayai kuliah, ia pernah membuka warung hampir 20 jam sehari.

Rutinitasnya dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dini hari hingga sore pukul 16.00 WIB. Setelah beristirahat sebentar, ia kembali membuka warung dari pukul 17.00 WIB  sore sampai sekitar pukul 22.00 WIB malam. Begitulah kesehariannya saat itu berjalan selama bertahun-tahun.

Saat sebagian orang masih tertidur lelap, Buk Sun sudah sibuk menyiapkan ketan. Di waktu subuh, saat suasana Pasar Mangli mulai ramai. Suara tawar-menawar pedagang terdengar samar menemani dinginnya pagi. Para pekerja pasar, sopir, pengendara, hingga warga sekitar datang membeli kopi dan ketan di warung kecilnya.

Di tengah ramainya jalanan dan kerasnya hidup, Buk Sun tetap menjalani semuanya dengan sabar.

Suaminya kini bekerja sebagai pengemudi ojek. Jika sedang senggang, sang suami ikut membantu menjaga warung dan menemani Buk Sun berjualan.

Baca Juga :  Ketua KPMK Arif Sukoco: Perizinan Tambak Udang Vaname Kepanjen Masih Belum Jelas

Dalam sehari, ia biasanya menghabiskan 3 kilogram ketan. 1 kilogram dijual dari sore hingga malam, lalu sisanya dijual mulai dini hari sampai pagi. Dari 1 kilogram ketan, ia bisa menghasilkan sekitar 12 porsi. Harga satu porsinya Rp 6.000.

Meski terlihat sederhana, perhitungan dagangannya begitu teliti. Untuk tiga kilogram ketan, modal yang dibutuhkan sekitar Rp 113 ribu, termasuk kelapa dan kedelai. Dari hasil jualan itu, Buk Sun perlahan membangun masa depan anak-anaknya.

Ketan yang dijual Buk Sun dikenal berbeda. Ia menyebut ketannya sebagai ketan asli atau “siem”, tanpa campuran seperti beberapa penjual lain. Mungkin itu sebabnya, hingga sekarang pelanggan tetap datang.

Bagi Buk Sun, berjualan bukan sekadar mencari uang. Ada kebahagiaan sederhana yang ia rasakan setiap hari.

“Senang bisa komunikasi sama orang, bercanda, punya teman baru,” katanya dengan senyuman lebar dan nada gembiira.

Keramahan itu yang membuat warung kecilnya terasa hangat. Di usia 57 tahun, Buk Sun masih setia menjaga warung ketannya. Meskipun  bising kendaraan dan gemuruh kereta yang melintas, ia tetap berdiri melayani pembeli dengan senyum tipis yang tak pernah hilang

Ia hanya punya satu pesan sederhana bagi siapapun yang ingin berjualan.

“Harus sabar. Kalau tidak sabar, tidak mungkin bisa lama,” ujarnya dengan tatapan yang tulus dan jari telunjuk yang di angkat sebgai simbol mengingatkan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perjalanan panjang seorang ibu, yang membuktikan ketekunan kecil di pinggir jalan mampu mengubah masa depan keluarga.

Kontributor: Hefni Lutfi Ahmadi

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *