Jember, agitasi.id – Sepi dari keramaian, terdengar sayup-sayup angin di atas sepetak tanah suara berbagai macam hewanpun lengkap. Berada dalam alam terbuka diklat Accoustic Theater of Syariah (ATOS) dilaksanakan, selama kurun waktu 3 hari para calon dulur-dulur ATOS ini mengadakan diklat lapang. Sebelumnya diklat atos ini juga usai melaksanakan diklat ruang, untuk membedah materi-materi khusunya dalam seni Theather. Bentuk dari implementatif materi yang sudah dibahas dalam diklat ruang maka atos mengadakan diklat lapang, bertempat di Desa Langsepan, Rowoindah, Kec. Ajung. Pada diklat lapang ATOS ini terdiri dari beberapa materi diantaranya, naskah, olah vocal, manjemen produksi, keaktoran, musik, puisi. Pada malam puncak semua peserta menampilkan pementasan dan sarasehan. “Membentuk karakteristik peserta khususnya, supaya responsif terhadap keadaan yang ada di sekitarnya. Itulah tujuan utama berkesenian dan diklat lapang ini. Jadi seni itu bukan orang yang pandai bermain musik, bukan orang yang pandai berpuisi, bukan orang yang padai bertheater, tapi orang yang memiliki jiwa-jiwa seni, dan jiwa-jiwa keindahan. Intinya diklat kesenian ini bukan kita mendidik orang supaya keras dan lain semacamnya. Akan tetapi, agar kita bisa mengolah rasa,” ujar dulur Muzayyin, selaku Ketua Panitia saat diwawancarai tim agitasi.id tentang tujuan diadakannya diklat ini. Rudianto sebagai peserta mengungkapkan bahwa “bagi saya banyak manfaat yang di dapat salah satunya kami banyak mengambil pengalaman dan pengetahuan tentang seni itu sendiri. Selain itu, kita juga mendapat materi-amteri kesenian dan bentuk implementasi dari materi yang kami dapatkan. Namun, dari berbagai macam manfaat yang tak bisa saya sebutkan semuanya adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa sampaikan pada keluarga baru ini. Kami banyak mengahabiskan waktu dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga terbentuk kultur baru dalam lingkaran seni.” ngkapnya.

Pewarta : Majid
Editor : ENH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.