AGITASI.ID, JEMBER- Di tengah suasana Vihara yang tenang dan penuh keteduhan, tampak sosok sederhana dengan langkah tegap yang rutin berkeliling memastikan keadaan tetap aman dan tertib.
Sosok itu adalah Misnan, yang akrab disapa Umar, seorang pria paruh baya yang telah mengabdi selama 15 tahun sebagai penjaga Vihara Dhamma Metta Jember.
Meski memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda dari mayoritas orang beragama Budha di sekitarnya, kehadiran Misnan justru menjadi bukti nyata bahwa ketulusan hati mampu meruntuhkan sekat perbedaan.
Sebelum menjalani kehidupannya seperti sekarang, Misnan menghabiskan sebagian waktunya di kampung halamannya, Sumenep. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tidak pernah memilih pekerjaan demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Berbagai macam profesi telah Misnan jalani, mulai dari menjadi tukang bangunan, pengumpul barang bekas atau rongsokan, hingga melakukan pekerjaan berat lainnya yang mengandalkan tenaga fisik.
Hidupnya penuh dengan keringat dan perjuangan, hingga takdir tuhan membawa perubahan besar yang mengubah arah langkahnya.
“Sebelum saya bekerja sebagai penjaga Vihara, saya ini pekerja keras dan tidak memilih-milih pekerjaan” ujarnya dengan penuh semangat.
Sekitar sebelum tahun 2011, Misnan menderita penyakit katarak yang menyerang kedua matanya. Meski akhirnya sembuh setelah menjalani serangkaian pengobatan.
Kondisi penglihatannya tidak lagi kuat seperti saat masih muda. Akibat keterbatasan itu, ia tidak lagi sanggup melakukan pekerjaan berat yang membutuhkan fisik yang prima.
Di saat bingung mencari jalan keluar dan sumber nafkah yang sesuai dengan kondisinya, datanglah tawaran pekerjaan untuk menjaga Vihara. Mulai dari tahun 2011 itulah, Misnan resmi mengabdi dan bertugas sebagai penjaga keamanan di tempat tersebut hingga saat ini.
Beban hidup yang dipikul oleh Misnan sebenarnya sangat terasa berat di pundaknya. Ia harus menafkahi enam anak beserta istrinya, yang sangat dicintai.
Namun, cobaan hidup kembali datang, sang istri meninggal dunia lebih dulu, sehingga seluruh tanggung jawab membesarkan dan menghidupi anak-anak kini bertumpu sepenuhnya pada dirinya.
Sebagai penjaga Vihara, Misnan hanya mendapatkan upah sebesar Rp 50 ribu untuk setiap harinya. Ketika ditanya jurnalis Agitasi apakah jumlah uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Misnan menjawab sembari memberikan senyuman penuh arti.
“Kalau dilihat dari nominalnya, sebenarnya uang ini tidak cukup. Tapi saya pasrahkan saja semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkapnya dengan tatapan yang teduh.
Alasan mengapa Misnan memilih bekerja di tempat yang berbeda latar belakang keyakinan, dirinya pun menjelaskan secara sederhana, namun mendalam. Misnan menyatakan bahwa pekerjaan ini diterimanya sebagai jalan rezeki yang dibuka Tuhan.
Baginya, pekerjaan adalah amanah yang harus dijaga, dan rezeki itu datang dari Allah tanpa memandang di mana tempat manusia itu bekerja.
Pengorbanan dan perjuangan yang diberikan Misnan patut diacungi jempol. Dalam satu minggu penuh, ia hanya mengambil waktu istirahat atau libur selama satu hari saja, tepatnya di hari Kamis malam hingga Jumat.
Selepas waktu istirahat itu, Misnan sudah kembali hadir dan siap menjalankan kewajibannya menjaga Vihara seperti biasa. Rutinitas berat ini sudah ia jalani bertahun-tahun lamanya dengan penuh kesabaran tanpa pernah mengeluh.
Kontributor: Ridlo Syukron Fatahillah
Editor: Fadli Raghiel