Ngenger Luncurkan dan Bedah Buku Karya KH Abdul Chalim Siddiq di PPI. Ashri Jember

Ngenger Luncurkan dan Bedah Buku "Hari-hari Revolusi Indonesia" karya KH Abdul Chalim Siddiq di PPI. Ashri, Kaliwates, Jember pada Sabtu (25/10/2025).

Talangsari-Kaliwates, Agitasi.id – Upaya yang dapat dilakukan untuk mengingat kembali masa-masa perang melawan penjajah di era kolonial, salah satunya dengan melihat catatan harian.

Ngenger sebagai media riset kebudayaan, telah meluncurkan sekaligus membedah buku karya KH Abdul Chalim Siddiq di Pondok Pesantren Islam Ashiddiqi Putri atau PPI. Ashri, Talangsari, Kecamatan Kaliwates, Jember.

Bacaan Lainnya

Buku berjudul “Hari-hari Revolusi Indonesia” itu, berasal dari catatan harian KH Abdul Chalim Siddiq, sejak 24 Juli hingga 12 November 1947 yang dialih aksara dari arab pegon ke bahasa Indonesia. Acara itu berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember.

Muhammad Khusna Amal, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN KHAS Jember mengatakan kalau ketekunan Kiai Abdul Chalim Siddiq, tidak hanya mengajar dan mengamalkan ilmu.

“Salah satu tradisi yang sungguh-sungguh sangat penting, dan sekarang menurut saya hilang ataupun tergerus oleh hadirnya berbagai media sosial, yakni spirit untuk menuliskan catatan-catatan harian, yang tampaknya remeh temeh, tetapi ternyata itu bisa menjadi dokumen intelektual,” katanya.

Acara itu dihadiri Pengasuh PPI. Ashri, Muhammad Ayub Saiful Ridjal. Ia tidak mengira jika catatan harian ayahnya bakalan menjadi buku setebal 268 halaman.

“Karena tidak terbesit sama sekali, bahwa dari kesekian catatannya abah (ayah) akan menjadi sebuah buku,” tutur putra Kiai Abdul Chalim Siddiq atau akrab disapa Gus Saif pada Sabtu, 25 Oktober 2025.

Gus Saif turut bangga dengan diluncurkan buku karya ayahnya, berharap bisa menjadi pegangan para santri dan alumni Pondok Ashri.

Baca Juga :  Kisah Muhammad, Lansia Penjual Buah Pisang yang Tak Pernah Lelah Demi Bertahan Hidup

Dalam bedah buku itu menghadirkan tiga narasumber, di antaranya ada dari kalangan komunitas sejarah, akademisi dan peneliti.

Founder Komunitas Pegon, Bahrur Rohim atau akrab dengan nama Ayung Notonegoro, mengungkapkan bahwa Kiai Chalim ini hidup dalam lingkungan keluarga yang mempunyai keterkaitan kiprah di kepenulisan.

Hal itu karena saudara-saudara Kiai Chalim banyak yang meninggalkan catatan-catatan semasa hidupnya.

“Bani Siddiq ini bukan intelektual murni, seperti dosen yang memang pekerjaannya itu mengajar. Tapi lebih banyak terjun di lapangan. Jadi, banyak karya-karyanya itu tidak diniatkan serius sebagai satu buku, atau pemikiran yang lengkap,” kata Ayung.

Menurut Ayung catatan harian ini sebuah bentuk inspirasi untuk tetap berkarya dalam kondisi apapun.

“Kalau kita membaca (buku) Hari-hari Revolusi Indonesia ini, sangat terasa sekali. Bagaimana beliau (KH Abdul Chalim) menuliskan diari catatannya itu  di tengah perjuangan (masa kolonial) yang tidak mudah,” katanya.

Lebih lanjut, Ayung menuturkan dalam temuan dokumen, KH Abdul Chalim Siddiq memiliki nama pena tertentu yang dia gunakan saat menulis artikel di majalah berita Nahdlatul Ulama.

“Beliau dulu itu seringkali menggunakan kode pena itu AAAS. Mungkin kalau A pertama ini Abdul Chalim. S nya Siddiq,” katanya.

Ketekunan menulis semasa hidup KH Abdul Chalim sama dengan Kakaknya, Kiai Mahfudz Siddiq. Kiai Chalim pernah menjadi pemimpin redaksi pada suatu surat kabar yaitu Majalah Suluh Kita.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Al-Falah Assunniyah atau UAS Kencong, Rijal Mumazziq Zionis atau Gus Rijal menuturkan hadirnya buku karya KH Abdul Chalim merupakan bentuk upaya penyelamatan saat seseorang sudah lupa.

“Tapi ketika ada punjer (pusat) semacam ini (buku), buku biografi, maka ini menjadi satu penyelamat ingatan kolektif kelurga besar,” tuturnya.

Baca Juga :  TPA Pakusari Jember Lakukan Daur Ulang Sampah yang Sudah Menggunung hingga 27 Meter Jadi Barang Ekonomis

Menurut Rijal, catatan harian KH Abdul Chalim Siddiq mempunyai gaya penulisan yang khas. Meskipun tidak dapat dipungkiri dalam alih aksara itu, ada penambahan keterangan pemahaman dari penyunting.

“Karena ditulis dalam masa perang, maka catatan-catatan ini tidak sempurna. Karena catatan perang, maka tulisan ini kadang kala menggunakan istilah-istilah singkatan, termasuk saat KH Abdul Chalim secara blak-blakkan menuliskan nama kiai-kiai di Jember saat itu, termasuk karakteristiknya,” tuturnya.

Ia juga menuturkan kalau dalam tulisan KH Abdul Chalim Siddiq, banyak sandi atau kode yang digunakan untuk menandai suatu keterangan tertentu.

“Saya juga banyak menemukan sandi-sandi yang ditulis oleh KH Abdul Chalim Siddiq. Misalnya, laporan ini dari Jenggawah, Kaf Ha Ya ‘Ain Shod: Macan putih. Pakai sandi itu kemudian ada kalimat-kalimat yang ada di situ,” tuturnya.

Sementara itu, Dosen Sejarah Universitas Jember, Ratna Endang W, mengungkapkan kekecewaannya saat buku ini diluncurkan. Karena umur catatan harian KH Abdul Chalim Siddiq itu hampir sama dengan 80 tahun Indonesia merdeka.

“Saya sebetulnya agak kecewa. Kenapa kok baru sekarang buku ini ditemukan. Karena terus terang saja. Saya sebagai orang awam itu berpikirnya hanya begini, kenapa sih di historiografi Indonesia atau buku sejarah itu yang didengung-dengunkan, hanya kerajaan-kerajaan,” tuturnya.

Ratna mengapresiasi bahwa buku catatan harian itu, Kiai Chalim tidak sekadar menulis di setiap peristiwa saat masa kolonial.

“Ini seperti beliau (KH Abdul Chalim Siddiq) bisa membaca kondisi (masa penjajahan) diterjemahkan (dinarasikan) dalam bentuk tulisan,” katanya.

Menurut Ratna, walaupun buku ini disebut sebagai sumber sekunder dalam penelitian sejarah. Tetapi, baginya muatan di dalam buku tersebut merupakan sumber primer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *