Memoar KH. Nuril Huda ; Muassis dan Tokoh Inspirator Kader PMII yang telah Wafat

AGITASI.ID Kabar duka datang menyelimuti keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). KH. NURIL HUDA bin KH. MOHAMMAD SHOIB, sosok salah satu muassis/pendiri PMII telah wafat pada Rabu (20 /12/2023) pukul 06.35 WIB di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga Bekasi Timur. Kepergiannya sebagai tokoh inspirator memberi banyak kenangan bagi kader-kader PMII.

Menurut pesan yang diterima dari group WhatsApp PMII RASYA CENTER. Jenazah disemayamkan pada hari Rabu mulai sekitar pukul 10.00 – 15.30 WIB di Rumah Duka, Perumahan Kemang Pratama, Cluster Kemang Pratama Regency, Jl. Pirus, Blok F-25, Pekayon, Kota Bekasi.

Bacaan Lainnya

Almarhum diberangkatkan  sekitar pukul 16.00 WIB menuju Jawa Timur dan dimakamkan di Komplek Ponpes Darul Ulum, Medali, Kec. Sugio, Kab. Lamongan, Jawa Timur.

Meski telah berpulang ke rahmatullah, perlu kita sadari bahwa beliau hanya meninggal jasadnya. Namun, ada yang perlu kita ingat, berkat jasa perjuangan beliau dan 12 sahabatnya, PMII hingga kini masih eksis dengan mengemban semangat pesan moral dan gerakan intelektualnya.

Mengenang Kiprah Dedikasi

Semangat dalam bergerak diorganisasi terlihat sejak beliau masih muda. Dilansir dari laman jatim.nu.or.id KH. Nuril Huda di tahun 1955 saat usia 17 tahun, beliau mendirikan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sugiyo, Lamongan dan menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah.

Selain itu pada Muktamar Cipasung, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua LDNU dan di tahun 1999 menjadi Ketua LDNU menggantikan KH. Sulam Syamsun. Masih belum selesai mengabdikan diri, di Muktamar NU Boyolali beliau kembali berkhidmat sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) LDNU masa khidmat 2004-2010. Pengangkatannya dilakukan berdasarkan SK PBNU nomor 028/A.II.03.e/5/2005.

Baca Juga :  Gaungkan Pelatihan Pers, Degradasi Baca-Tulis Minggat

Sebagai salah satu 13 pendiri PMII, beliau pernah memberikan arahan di Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) PMII di Gedung Asrama Haji Donohudan,  Boyolali-Jawa Tengah. Bahwa didirikannya PMII pada 17 April 1960 adalah untuk membela Ahlussunah wal Jamaah sepanjang masa. Beliau dan 12 sahabatnya sempat puasa sunah sebelum mendirikan PMII.

Sosok deklarator kelahiran Lamongan dengan sisi kharismatiknya, selalu menginspirasi kader-kader PMII dalam setiap proses agar tetap memiliki semangat juang.

Semasa masih belum wafat, beliau tak kenal lelah dalam membersamai kader-kader PMII. Terbukti, mengutip dari laman tugujatim.id, saat beliau hadir dalam  seminar pembukaan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) PC PMII Tuban. “Setiap acara PMII pasti saya akan datang, kalau diundang. Kalau saya tidak bisa jalan, akan gunakan tongkat, kalau saya sudah tidak bisa bangun, maka saya akan datang di acara PMII dengan menggunakan kursi roda. Karena jiwa dan raga saya, sudah saya hibahkan untuk PMII,” dawuh beliau.

Sebenarnya masih banyak kiprah dan sepak terjang beliau yang patut kita teladani. Oleh karena itu, kader-kader PMII bisa merefleksikan dari apa yang telah diperjuangkan oleh para muassis, sehingga setiap menjalani proses di PMII bisa lebih khidmat.

Allahummafirlahu kepada KH. Nuril Huda, semoga diterima segala amal ibadah dan jasa-jasa perjuangannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *