Talangsari-Kaliwates, Agitasi.id – Pengasuh Pondok Pesantren Islam Ashiddiqiyah Puteri (PPI Ashri), Muhammad Ayub Saiful Ridjal atau Gus Saif mengungkapkan alasan pendirian pondok saat acara bedah buku karya ayahnya, KH Abdul Chalim Siddiq pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Putera ke-12 dari 13 bersaudara pasangan KH Abdul Chalim Siddiq dan Nyai Hj Muzayyanah itu, membeberkan bahwa latar belakang berdirinya Pondok Ashri, tidak untuk membentuk alumni pesantren agar bisa menjadi nyai (tokoh agama) di masyarakat.
“Yang katanya (ayah) ingin mencetak kiai-kiai perempuan. Ini bahasanya abah (ayah). Bukan jadi nyai, tapi jadi kiai perempuan,” kata Gus Saif.
Lebih lanjut, Gus Saif memperjelas alasan itu, seorang santriwati tidak akan menjadi nyai, kalau bukan karena dinikahi seorang suami keturunan kiai.
“Artinya dadi santri Ashri iku uduk dadi nyai, nek suaminya kiai. Tapi, dadio kiai dewe (jadi santriwati Pondok Ashri itu tidak akan jadi nyai, kecuali memang suaminya seorang kiai. Tapi, jadilah kiai sendiri). Sebisa-bisanya jadilah kiai (perempuan). Ini cita-cita abah (ayah) saya, kenapa bikin pondok puteri,” katanya.
Pondok Ashri didirikan oleh KH Abdul Chalim Siddiq sejak tahun 1931. Sebelum kemudian terbagi dengan mendirikan asrama sendiri khusus puteri pada tahun 1964.
Menurut Gus Saif selama masa penjajahan melawan Belanda, Kiai Chalim malah bukan memusuhi, tetapi justru menikahi seorang puteri penjajah.
“Mosok anak e musohne dirabi (masa anaknya musuhnya dinikahi), nemu ta (ketemu ta?),” tuturnya.
Ia juga menuturkan jika berdirinya Pondok Ashri masih belum berstatus badan hukum. Alasan itu agar nantinya tidak mudah meminta bantuan pada negara.
“Sampai hari, Pondok Ashri tidak punya legalitas. Nggak bikin Menkumham. Agak menyalahi aturan sedikit. Tapi, maksud saya biar nggk gampang buat proposal, biar nggk gampang minta ke negara. Karena pesan abah (ayah) saya, sebagai warga negara ojo dadi benalu, dadio anggrek (jangan jadi Benalu, jadilah seperti Bunga Anggrek),” tuturnya.