AGITASI.ID – Kalau kamu mahasiswa baru dan akan mencoba mencari organisasi ekstra (ormek) kampus. Lalu menemukan pamflet khas di layar media sosial dengan penuh foto dosen, dekan, rektor bahkan hingga presiden dengan caption, “Saya dulu anggota organisasi ini.” Dan berfikir: Serius nih mereka dari organisasi ini?!.
Tenang, kamu nggk sendirian. Memang begitu gaya norak promosi ormek yang belum juga punah dan tetap diwariskan oleh seniornya. Strategi rebranding ormek dengan modal nempel foto tokoh pejabat terkenal agar terlihat keren.
Tentu, dengan harapan mahasiswa baru bakal terkesima dengan pamflet itu, lalu daftar dan ikut meramaikan aktivitas organisasi. Memang strategi itu cukup masuk akal, tapi coba kalian pikir-pikir lagi.
Sebab, realita yang sebenarnya tidak sama dengan foto yang terpampang di pamflet. Satu hal yang sering dilupakan oleh pengurus organisasi bahwa zaman kini sudah berubah.
Jadi jelas, tidak sama dengan masa mereka yang sudah terjadi puluhan tahun lalu.
Apalagi foto yang dipajang memiliki latar belakang kampus yang berbeda. Misalnya, kuliah para tokoh itu ada di UGM, tapi kampusmu ternyata di UIN.
Tentu dengan kondisi ini tantangan serta medannya sudah berbeda. Tapi entah kenapa masih saja dipaksa untuk dipampang sebagai ajang promosi organisasi.
Oke, kalau emang bukan anti promosi macam begitu. Tapi jangan sampai promosinya malah menyesatkan mahasiswa baru.
Niatnya biar terlihat keren. Sementara calon anggotanya disuguhi harapan palsu yang jauh dari realita organisasi.
Sebab, nggak semua orang siap disambut kenyataan pahit dengan ungkapan, “Loh kok nggak sekeren di pamfletnya ya?”
Ormek apapun tujuannya pasti untuk kaderisasi. Jadi bagaimana para anggota itu dibentuk dan ditempa, bukan sekadar dikasih pameran pamflet dan poster.
Untuk meluruskan ini, saya merekomendasikan tentang argumentasi titik pijak nalar yang mesti kamu jadikan dasar dalam mengembangkan ormek.
1. Argumentasi Idealis: melanjutkan warisan luhur organisasi, bukan hanya nama besar saja, tapi juga spirit perjuangan harus ditampilkan pula.
2. Argumentasi Strategis: fokus pada pengembangan potensi anggota, biar mereka tahu perannya sehingga bisa berkembang sesuai minat, kapasitas dan kapabilitas.
3. Argumentasi Praktis: nambah kuantitas memang perlu, tapi harus diimbangi dengan kualitas pula, biar nggak hanya nambahi grup WA. Sadar nggk?!
4. Argumentasi Pragmatis: nyiapin pemimpin masa depan yang punya kompetensi untuk memimpin agar tidak jadi pemimpin yang tersesat dan asal-asalan.
Kalau dari empat ini nggak jalan, organisasimu cuma jadi tempat nongkrong orang berseragam saja.
Rebranding harusnya relevan dengan kebutuhan zaman. Tampilan proses organisasi bukan pampang foto para pejabat kampus dan tokoh nasional.
Lalu merekrut anggota sebanyak-banyaknya dan dihamburkan begitu saja. Kasian, itu semua anak orang.
Jika masih maksa dan ngebet nampilin foto pejabat kampus, mending tampilkan anggota ormek yang berprestasi. Sudah bisa bikin agenda yang berkemajuan dan berkelanjutan.
Kalau masih kurang, tampilkan juga aktivitas organisasi dan dampak nyatanya kepada masyarakat sekitar.
Tawaran ini, kiranya lebih relevan daripada mampang foto rektor atau foto mantan anggota yang sudah menjabat jadi dewan legislator daerah.
Rebranding memang perlu, tapi sekali lagi bukan berarti anti promosi. Kalau mau promosi lakukanlah dengan jujur, dengan memperlihatkan kegiatan nyata yang mencerminkan semangat kolektif anggota organisasi.
Kita hidup di zaman mahasiswa sudah mulai berpikir realistis!.
Pikiran mahasiswa sudah bukan siapa alumninya. Namun, yang lebih penting adalah apa yang bisa mereka lakukan dan dapatkan. Sayangnya, semua itu tidak bisa dijawab hanya dengan pamflet dan banner semata.
Penulis: Ilham Hidayatullah (Demisioner Ketua Komisariat PMII UIN KHAS Jember Periode 2023/2024)
Editor: Fadli Raghiel