Jember, Agitasi.id – Pemilihan Raya (PEMIRA) diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, sejak tanggal 2 hingga 12 Maret 2026. Pemira yang diikuti oleh mahasiswa dengan hak suara memilihnya ini telah menciderai sistem demokrasi kampus.
Kondisi tersebut mendapat respon dari Ketua Umum HMI Komisariat Al Fatih, UIN KHAS Jember, Muhammad Bagus Ilmawan, mengatakan bahwa Pemira yang berjalan masih bermotif sama seperti tahun sebelumnya.
“Hal yang seperti itu sering terjadi di kampus UIN KHAS Jember. Karena permasalahan yang sama tidak berubah dengan motif yang serupa juga, yang akhirnya itu bisa menimbulkan perbedaan pandangan yang begitu besar dari beberapa kalangan atau golongan tertentu,” kata Bagus kepada Agitasi pada Jumat, 13 Maret 2026, pekan lalu.
Senada dengan respon tersebut, Ketua Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI UIN KHAS Jember, Muhammad Farrel Sayyid Nanda Zaufa, menilai jika praktik demokrasi yang terjadi di ruang lingkup kampus saat pelaksanaan Pemira diduga mengalami kecacatan.
Salah satunya, saat pemberkasan paslon eksekutif nomor 2 HMPS Bahasa dan Sastra Arab pada Fakultas Ushuludin, Adab dan Humaniora (Fuah).
Pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Fuah UIN KHAS Jember, sebelumnya telah menyatakan tidak lolos pemberkasan pada paslon tersebut.
Menurut Farel, padahal paslon tersebut telah memenuhi prosedur. “Paslon sudah menyetorkan administrasi sesuai persyaratan umum,” katanya.
Saat Farel mengkonfirmasi, pihak KPUM Fuah kemudian mengunggah pemberitahuan baru pemberkasan paslon di media sosialnya.
“Kami dari panitia KPUM FUAH memohon maaf yang sebesar-besarnya, dan menyatakan klarifikasi atas kesalahan serta keteledoran dalam menginput berkas dari paslon 2 Prodi BSA. Maka dengan demikian, paslon 2 Prodi BSA, kami nyatakan berkas administrasi yang semula tidak lolos menjadi lolos administrasi. Serta bisa untuk terus mencalonkan diri sebagaimana alur administrasi selanjutnya,” tulis klarifikasi, pada unggahan cerita Instagram @kpum_fuah_uinkhasjember.
Farrel juga menyoroti saat perhitungan suara paslon yang tidak diperbolehkan melihat absensi mahasiswa di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Padahal masih perhitungan suara dan para panitia masih ada di sana semua. Meski dari paslon sendiri yang menanyakan terkait absensi, juga tidak mau terbuka. Dari hal tersebut sudah terlihat, bahwa nilai transpransi Pemira sudah tidak diindahkan,” kata Farrel.
Selain itu, menurut Farrel ada ketidakadilan dalam Pemira di UIN KHAS Jember. Pertama, paslon dipersulit surat rekomendasi dari ketua HMPS sebelumnya, sedangkan paslon yang lain dipermudah.
Kedua, menjelang sore penutupan pemberkasan, pihak panitia KPUM mengumumkan bahwa ada perpanjangan pendaftaran sampai pukul 00.00.
Merasa janggal dengan hal itu, Bagus juga menuturkan bahwa hanya Fakultas Syariah dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi) yang ditutup pendaftaran, sedangkan fakultas yang lain tidak.
“Ketika kami mentabayunkan pada ketua KPUM Universitas, kenapa hal ini bisa terjadi. Kita butuh keadilan. Kemudian ketua KPUM menyampaikan ditinjau terlebih dahulu, sedangkan yang mendaftar di Fakultas Syariah, khususnya di ruang lingkup HMPS terutama, masih ada satu calon masing-masing di setiap prodi,” kata Bagus saat dihubungi melalui WhatsApp.
Kata Bagus, meskipun Paslon sudah mendapatkan surat rekomendasi dari ketua HMPS sebelumnya, tetapi belum tercantum stempel dan tanda tangan tertulis.
“Kita menunggu lama di depan Sekertariat Bersama (Sekber), itu sekitar lima jam. Tetapi ketuanya ini tidak datang ataupun membalas chat yang kita sampaikan seperti itu, termasuk telfon juga tidak pernah diangkat. Pada akhirnya, ada beberapa paslon yang gugur saat pemberkasan. Jadi ini sebuah kejanggalan menurut saya,” katanya.
Pemira Bukan Ajang Kontestasi Ide, Tapi Tradisi Aklamasi Paslon
Momen Pemira di UIN KHAS merupakan ajang kontestasi ide mahasiswa. Namun, hal itu tidak lagi berjalan karena adanya Paslon tunggal di Daerah Pemilihan (dapil) setiap fakultas.
“Karena banyak beberapa calon yang aklamasi, tidak beradu secara demokrasi dan sebagainya. Itu sangat disayangkan sekali dengan adanya momentum (Pemira) ini,” ujar Bagus.
Ia menuturkan bahwa kreativitas mahasiswa saat berkontestasi di Pemira masih stagnan. Padahal menurutnya, di kampus lain sudah dibuka secara umum untuk teknis pemilihan, sehingga mahasiswa dapat belajar ilmu politik di lingkup kampus.
“Dengan adanya Pemira, tapi calonnya satu-satu, kebanyakan aklamasi itu sangat memalukan,” kata Bagus. (*)
Sementara itu, Agitasi telah menghubungi Ketua KPUM UIN KHAS Jember, dia ternyata masih ada acara di luar kota dan saat dikonfirmasi ulang tidak ada respon.
Penulis: Nur Aini
Editor: Fadli Raghiel
*Catatan Redaksi:
Isi berita ini telah diperbaiki setelah ada koreksi dari pembaca.