Kamis, 06 Januari 2022

AGITASI.IDKain penutup kepala perempuan yang biasa disebut jilbab memang sudah tidak asing lagi bagi kita, sejatinya selembar kain tipis yang terletak di kepala sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Akan tetapi Muazzez Ilmiye Cig seorang arkeolog Sumeria dalam bukunya “My Reaction as a Citizen” menemukan bahwa jilbab telah ada jauh sebelum islam lahir, lebih tepatnya asal usulnya disinyalir telah ada sejak peradaban Sumeria di wilayah Mesopotamia yang kini menjadi wilayah Irak Tenggara.

Dalam temuannya ia menyebut jilbab pada saat itu memiliki konotasi negatif, dipergunakan oleh pekerja prostitusi pada masa peradaban Sumeria. Biasanya jilbab digunakan perempuan yang bekerja sebagai prostitusi di kuil, untuk membedakan dengan biarawati di kuil yang juga memakai penutup kepala namun bukan jilbab. Akibat dari pernyataannya tersebut Cig digugat di pengadilan Turki, namun di vonis bebas (tidak bersalah).

Dari asal-usulnya saja jilbab sudah diperdebatkan. Banyak perempuan yang menggunakan kain di atas kepalanya namun tidak tau asal-usulnya. Hanya saja perempuan muslim tau bahwa hukum menutup aurat dan mengulurkan jilbab di seluruh tubuhnya tertera dalam Al-Qur’an.  Mengapa fenomena jilbab menjadi realitas yang kontroversi dan kerap kali diperdebatkan? Padahal bagi perempuan untuk ‘berjilbab’ atau ‘tidak berjilbab’ adalah pilihan. Katanya life is choice? Perempuan ya punya hak dan otoritas atas dirinya. Tentu yang memilih tidak memakai jilbab punya alasan begitupun sebaliknya. Nah, jangan jadikan jilbab sebagai simbol keshalihan. Sesama manusia kan gak ada yang tau tingkat keshalihan manusia lainnya. Benar-benar ini kuasa Tuhan rek …

Saya contohkan seorang perempuan muslimah bernama Humairah Hanif dalam kolom berjudul “Ok in magazines, no go in work places” memungkas opininya “So please start accepting me for what is in my head, rather than what is on it.” Dalam opininya tersebut Humairah ingin mengajak masyarakat inggris untuk melihat isi otaknya, dengan tanpa mengunggulkan jilbab dikepalanya. Jilbab dikepalanya seperti tidak memiliki kuasa apapun.

Humairah hanya ingin dilihat dari sisi lain yang dirinya miliki, yakni kualitas pemikirannya serta integritasnya. Memang benar bahwa jilbab yang ia gunakan adalah identitas dirinya sebagai perempuan muslimah. Tapi jilbab bagi Humairah tidak sama sekali mewakili keshalihan, dan moralitasnya.

Saya sangat sepakat dengan opini Humairah ini, terlalu remeh menyetarakan keshalihan dengan selembar kain tipis diatas kepala. Secara subjektif nih, saya sebagai perempuan yang beragama islam dan memilih untuk berjilbab berani menjamin itu. Sebab memaknai islam sebagai nilai, ajaran serta tradisi tidak bisa jika hanya direduksi sebagai norma berpakaian untuk wanita saja. Permasalahan kompleks dalam hidup yang silih berganti, konteks pemecahan masalah terkait spiritualitas, tidak ada sangkut-pautnya dengan jilbab.

Hal-hal kebaikan seperti ikhlas, qanaah, tawakkal, rendah hati, dan saling mengasihi, cenderung melibatkan pergulatan batin yang berlipat kali lebih rumit dari pada sekedar kain tipis. Loh ya masak, perempuan yang tidak memakai jilbab dianggap tidak ada yang ikhlas dan tidak saling mengasihi dalam hidupnya. Begitupun sebaliknya, jilbab juga tak memiliki peran kepada tindakan keshalehan yang akhirnya disesali seperti kebohongan, dan kebencian.

Banyak sekali contoh realitas yang sering kita jumpai, perempuan yang memilih untuk membuka jilbab dihujat habis-habisan. Seperti Rina Nose, Nikita Mirzani, Rachel Venya, dan perempuan-perempuan lainnya. Komentar yang saya lihat di media sosialnya justru kebanyakan mereka yang beragama dan memakai jilbab. Bisa jadi mereka melepas jilbab karena ada pertimbangan yang salah di awal atau karena tuntutan pekerjaan. Kita boleh mendekatkan diri kepada Tuhan selangkah demi selangkah seiring pekerjaan yang kita geluti juga aktivitas yang kita cintai saat ini, tanpa harus meninggalkannya.

Seperti opini dalam buku Muslimah yang Diperdebatkan karya Kalis Mardiasih “Percayalah, memakai simbol keshalihan, lalu berjualan oleh-oleh dengan label Islami bukanlah jalan hijrah satu-satunya.” Biarkan perempuan yang melepas jilbab menempuh jalan hijrah dengan lebih tenang dan tidak terburu-buru.

Contoh statement menggelitik lainnya, perempuan berjilbab namun merokok, biasanya orang-orang terdekat akan memberi sedikit wejangan yang menyinggung dengan berkata “Kalau kamu perokok mending lepas saja jilbabnya!” loh,. merokok itu hal yang menurutnya gak etis kok malah disuruh menghilangkan kebaikan yang lain. Terkadang yang paling beragama lah yang tidak bisa saling menghargai, lagi-lagi terjebak kepada simbol kain tipis.

Mari kita sama-sama subjektif tentang kain tipis di atas kepala ini. Jangan anggap jilbab sebagai satu-satunya simbol keshalihan perempuan. Yang berjilbab belum tentu yang paling baik akhlak dan amal ibadahnya, dan yang tidak berjilbab juga belum tentu buruk moralitasnya. Namun perlu digaris bawahi bahwa, yang berjilbab selangkah lebih baik untuk memenuhi kewajiban identitas sebagai muslimah.

 

Oleh : Erisha Najwa Himaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.