LUMAJANG, AGITASI.id – Tangis dan keringat perjuangan para korban dan relawan kemanusiaan bencana erupsi Gunung Semeru belum kering, namun  beberapa pihak berusaha memanfaatkan momen pilu ini. Siapa yang tak geram?

Tak lama Lumajang tengah berduka atas terjadinya erupsi Gunung Semeru yang dimulai dengan letusan pertamanya pada 4 Desember silam. Sampai sekarang pun statusnya masih level 3 (siaga).

Musibah yang memantik semangat dan solidaritas kerja-kerja kemanusiaan ini, malah dimanfaatkan sebagai ajang komersial dan politik. Beberapa kejadian yang dinilai tidak etis oleh warga sekitar diantarnya:

Suting Sinetron di Posko Bencana

Melalui unggahan akun instagram @lumajang.ku, ditampilkan pelaksanaan suting sinetron yang sedang berlangsung di depan umum, dan disaksikan langsung oleh para pengungsi bencana.

Sinetron ini diduga adalah  sinetron garapan Verona Pictures. Sinetron ini berjudul Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM). Ditanyangkan perdana pada 9 Agustus 2021 di ANTV. Kebetulan sinetron ini dibintangi oleh Chris Laurent dan Alisia Rininta.

Slide  selanjutnya dalam postingan tersebut menunjukan sebuah pamflet atas nama warga Lumajang yang berisikan ajakan untuk boikot sinetron tersebut, dengan narasi “Lumajang masih dalam suasana berkabung. Mayat saudara-saudara kia yang terkubur material Semeru masih dalam harapan bisa ditemukan. Tim Anda datang ke pengungsian hanya untuk shooting film. Ditambah lagi aktor dan aktrisnya beradegan pelukan di depan anak-anak. Sungguh sangat menyayat hati kami. #PRAYFOR LUMAJANG”.

Baliho Puan Maharani Bertebaran

Baliho wajah menawan ketua DPR RI Puan Maharani bertebaran sepanjang jalan kecamatan Pasirian dan Kecamatan Candipuro Lumajang.

Baliho bertuliskan “Tangismu, tangisku, ceriamu, ceriaku. Saatnya bangkit menatap masa depan.” Ini disertai dengan foto Puan Maharani beserta font nama yang sungguh besar, dengan latar belakang para pengungsi bencana Semeru.

Hal ini mendapat respon dari beberapa warga lokal bahwa pemasangan baliho tersebut berlebihan, kenapa harus foto Puan yang begitu menonjol, beda dengan baliho-baliho dari LSM maupun ormas lain yang hanya ingin menempatkan identitas relawan.

DPC PDI-P Kabupaten Lumajang pun mengklaim bahwa baliho tersebut tidak dibuat dan dipasang oleh partai, namun oleh relawan Puan Maharani sendiri sejak akhir pekan sebelum Puan datang ke lokasi bencana Senin (20/12) silam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.