CAPTION DAN KEBERTAHANAN IDELIALISME PMII

CAPTION DAN KEBERTAHANAN IDELIALISME PMII

agitasi.id – Kembali sakit perut sepertinya jika melihat para komplotan intelektual organik “claimnya” Berangkat pada zona-zona penempatan kongres PMII. Sakit perut bukan tanpa alasan, karena mereka seperti eksis tersenyum memposting foto dengan caption beragam, tapi intinya adalah semoga selamat sampai tujuan. Lagi-lagi semoga saja Ini hanya sakit perut yang biasa saja, mungkin akibat ngakak terlalu parah dengan menanyakan. “Ini kira-kira apa sih pengaruhnya pada stabilitas organisasi dari hulu ke hilir (PB hingga rayon).

Namun turst pada orang-orang yang menancapkan tujuan PMII dalam hati, nalar dan tindakan pasti tak akan lupa bahwa idealisme sangat penting pada organisasi ini. Harapan sesungguhnya adalah terbukanya kran dialektis pada forum Kongres, Kongres bukan malah menjadi ajang selfi di tengah pandemi dan ajang safari proyek post strategis negeri para senior yang sudah jadi staf mentri bahkan mungkin presiden.

Stidaknya ada 20 calon menuju 1 ketua PB dan 1 PB Kopri. Dari itu sebetulnya dapat diketahui bahwa sumber daya manusia organisasi sangat kompetitif dan miliki kompetensi. Namun, hal tersebut bukan dipandang kebanggaan ketika prodak PB seperti singa ompong karena kadangnya sudah ber AC dan mungkin terlalu dekat dengan pemangku proyek negara.

Diketahui bahwa dalam pengamatan selama menjadi bagian keluarga organisasi besar ini, masih banyak rupanya pengendoran-pengendoran nadi perjuangan dan doktrinasi pengalaman idealisme. Kebanyakan masih terlalu silaunya kita terhadap senior yang jadi ini dan itu, yang katanya dipandang sukses. Kesilauan itu makin menjadi-jadi ketika PB malah tak menghasilkan sentrum kaderisasi berupa minimal manifesto bagi komplotan tingkat provinsi, kabupaten, komisariat maupun rayon.

Bayangkan saja persoalan diskusi paradigma, keindonesiaan dan aswaja itu sudah dianggap kuno. Para kader-kader lebih mantap menghabiskan pemikirannya pada strategi game, tiktok, instagram dan nongkrong di cafe mewah. Bukan lantas seluruh kader, namun kebanyakan hari ini tantangan kita begitu kompleks.

Belum lagi soal pendemi. Itu menciptakan anomali pada roda perjuangan organisasi ini. Ya, meskipun masih ada sekelumit bagian organisasi di akar rumput masih kekeh berjuang meski minim respon dari pimpinan tertinggi organisasi.

Entahlah sangat minim informasi terkait bagaimana sebetulnya proses pemilihan pimpinan baru di PB. Tapi, semoga saja tak asal ada uangnya, tak asal ada peluang jadi staf mentri dan presiden, para kader terbaik masing-masing daerah yang diberangkatkan lantas mengganderungkan suaranya pada calon tersebut. Semoga saja tidak, karena menurut keyakinan bahwa daerah-daerah lebih intens merasakan nasi tanpa lauk dan singkong keras rakyat, bukan seperti PB yang sudah kelasnya memang harus makan nasi dan lauk ala mukbang dan stik kentang serta kitela karena PB sebagai ujung tombak kader-kader daerah yang merasakan dan akan menyuarakan  derita rakyat apalagi didaerah post tambang para oligarki. Dan PB harus rapat sama presiden, menteri dan DPR RI.

PB sebagai ujung tombak tak masalah jika harus makan mukbang dan makan stik kentang bersama pimpinan. Tetapi aspirasi dari kader-kader daerah harus menjadi bahan agar PB mampu menetralisir bahkan mengusir lupanya mentri, DPR bahkan presiden terhadap masalah-masalah di berbagai penjuru negeri. Termasuk diantara isu maritim dan agraria.

Dari itu juga agar paradigma kritis tansformatif yang terus menjadi candu bagi kegiatan kader-kader di PKD agar berguna. Artinya, kader di tingkatan bawah dibuat mabuk oleh seabrek teori perlawanan dan pembelaan terhadap kaum mustadafin. Seperti patron kita terhadap madzab Frankfurt, kiri islam hasan hanafi, ali asghar enginer sampai simfoni teologi pembebasan Gustafo Guiterez. Kemudian kemana peran PB ketika paradigma itu sudah menjadi role model kader di daerah khususnya daerah tambang yang selalu siap menghadang tronton, kebijakan tidak pro rakyat dan uang sogok proyek perusahaan tambang. Entah dimana fungsi dan peran PB jika begitu, atau mungkin PB juga menjadi bagian legitimasi pelaksanaan tambang di berbagai daerah (naudzubillah).

Nah, kongres kali ini dengan tema “Organisasi maju untuk peradaban baru” menarik sekali. Ini seperti doa dan obat pelipur lara terhadap kegelisahan kader se Indonesia. Akan tetapi, tentu akan menjadi racun jika kemajuan PMII malah menciptakan peradaban Baru yang mengalienasikan “terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah swt, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

Utamakan idealisme bukan anarkisme pada kongres. Agar prodak ide di PMII tak menjadi seperti sambal ayam geprek. Panas di lidah panas di perut dan hanya asal panas-panasan saja dalam melontarkan kata dan suara di forum kongres.

Abaikan jika kurang benar, karena masih belia maka ayo kita refleksi bersama.

Jember, 17 Maret 2021 : 15.14

Ahmad Raziqi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.