Jember, agitasi.id – Ketua dan Anggota hanya beda jabatan, Senior dan junior hanya beda langkah proses, Intra dan extra hanya beda lingkup, sedangkan PR *ya* dengan konglomerat hanya beda nasab, kalo sagnenya ya.. sama saja!.

Setiap kontestasi pemberdayaan organisasi atau komunitas, pasti terhimpun para calon kandidat, disusul realita selanjutnya penetapan calon terpilih dan akan sampai pula pada pelantikan. Dengan rinci dan tuntas moment perekrutan kepengurusan hadir dengan berbagai sistem sebagai kesempurnaan jajaran. Salah satu sistemnya bisa berupa sistem open recrutment, egosentris kelompok, atau titipan senior.

Baik, salah satu sistem telah selesai diterapkan. Semuanya bersumpah diatas Al quran, disanalah simpuh marwah dibangun. Hal yang pertama diupayakan oleh setiap kepala bisa iya atau tidak, adalah hubungan lawan jenis bagi yang memiliki kedekatan dengan puan atau tuan. Mengapa demikian?. Karena setiap mereka merasa hal tersebut adalah aib karena tidak sesuai dengan terma agama, dan kata senior hal ini bukan contoh yang baik. Gegerlah…. ! Semua hubungan kedekatan lawan jenis, dipertanggung jawabkan dengan cara nya masing masing, tergantung pilihan setiap person yang menjalaninya.

EKSPOSISI            

Model tanggung jawab pertama, memilih menghalalkan hubungan dengan ikatan sirri, model tanggung jawab kedua, memilih meneruskan hubungan dengan sembunyi-sembunyi, lanjut model tanggung jawab yang ketiga memilih untuk meninggalkan pergi, dan model tanggung jawab yang tragis dan tak jelas menggantungkan hubungan nya bermuka dua, mengoleksi sebagai bahan seleksi dengan pola kaderisasi. Sangat luas bukan cara-cara tersebut demi menjaga marwah nya?. Peran identitas semakin menjadi jadi, ia tak berfikir adakah atau tidak hati yang tersakiti.

DEFINITIF

Terdapat titik terang dari 90 sampai 100 komentar, bahwa fungsionalisasi jabatan menjadi kendala perlawanan dalam kedekatan hubungan. Hal ini menjadi ketidakberdayaan pecundang dalam membebaskan tanggung jawabnya, seperti model kedua ketiga dan tak jelas lainnya, terkecualikan model pertama yang lurus dengan terma agama.

Perlu kita ketahui Insting hidup dan Insting sagne bukanlah hal yang salah. Keduanya bersifat konstan, bisa menjadi energi besar dalam reaksi kompromi jika dibanding kebutuhan lain yang kurang penting. Kita perlu pahami kesatuan hidup dan sagne, yang digaris bawahi adalah penyatuan kehendak, jika sagne tersebut disatukan oleh orang yang tertidur tanpa rasio kebaikan, maka kehendak setelah melakukan kepuasan pasti akan menghilangkan diri. Begitupun sagne berikutnya, jika sagne disatukan dengan pola pikir rasio kebaikan, maka yang terjadi kehendak akan mengkhawatirkan pola yang ia lakukan.

Sumber sagne: adalah kondisi jasmaniah atau kebutuhan. Sagne bersifat konstan (terangsang) biasanya kebutuhan ini timbul saat usia balligh.

Tujuan sagne: Memenuhi kebutuhan insting kenikmatan duniawi.

Obyek sagne: Menjembatani anatara kebutuhan yang timbul dengan pemenuhannya. Bukan hanya pemuasan liar, bisa jadi meliputi kegiatan mencari pasangan.

KRITIK

Kembali ke Eksposisi, tampang jabatan telah menjadi tuhan. Topeng sagne telah disembunyikan sebaik mungkin. Obyek luar diri telah apik dan menarik dari depan. Namun keberuntungan tidak terberkahi dari ia yang meneruskan hubungan secara sembunyi sembunyi, dan ia yang meninggalkan pergi serta pola tak jelas koleksi tersebut. Semuanya tertangkap basah oleh publik. Miring perbincangan sana-sini, nyaris seperti malaikat Munkar dan Nakir. Obyek ego bertarung antara tokoh dan para lawan yang berkomentar merebut kebenaran. Cacat lah etos kepemimpinan…

Alam menyatukan pikiran pemilah, bukti terbaik kebenaran kembali pada norma yang ia pakai. Jika ciri hubungan lawan jenis menjadi monster magis dalam cerak ceruk kepemimpinan, janganlah meluruskan keputusan karena jabatan. Setiap pasangan bukanlah hal pertaruhan, setiap kedekatan bukan hambatan dalam melakukan etos kewajiban, jika anda memutuskan hal tersebut karena jabatan, sangat tampak bahwa ke sagne-an anda kelas bawah dan sangat rendah.

SOLUSI SPEKULATIF

Mekanisme pertahanan sagne menjadi kecemasan moral. Sehingga kecemasan tersebut membutuhkan teori dan motivasi sebagai jalan keluar dalam menemukan titik terang memenuhi kebutuhan. Mengaca pada Erich Fromm yang menggabungkan teori freud dan Marx dalam memperoleh martabat kebebasan. Ia mengatakan “ Kebutuhan manusia, yang sesuai dengan eksistensinya dibagi menjadi dua kelompok kebutuhan. Pertama: kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu dan menjadi otonom, yang terdiri dari kebutuhan Relatedness, Rootedness, Transcedence, Unity, Identity. Dan yang kedua kebutuhan memahami dunia, mempunyai tujuan dan memanfaatkan sifat unik manusia yang terdiri dari kebutuhan Frame of orientation, Frame of devotion,  Excitation-Stimulation dan Effectiveness.” Penyesuaian inilah mampu memberikan gambaran bagaimana pemetaan tersebut berpartispasi sebagai pembelaan.

Di sisi lain derivat dalam Al quran, Nafsu pada umumnya dihubungkan dengan kebutuhan biologis, matrealisme atau hal yang bersifat keduniawian. Sehingga disimpulkan bahwa nafsu bertingkah laku sesuai kebutuhannya. Terdapat pembahasan inti pula, nafsu yang berarti dorongan tersebut memiliki dua kemungkinan positif atau negatif. Adakalanya pada awalnya baik tetapi disalah gunakan, dan tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan menjadi negatif. Nafsu atau dorongan seksual bisa positif apabila citanya melanjutkan generasi umat manusia dengan cara yang baik tidak menyelisihi aturan syariat. Dengan ini Allah memberikan pilihan kepada umat manusia memilih yang positif atau yang negatif : وهدينه النجدين “Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”.

Dari sini kita bisa berfikir dan berkomentar dengan bijak, Bahwa kitalah yang bisa mengatur tempramen nafsu kita, akan  dibawa kemana arahnya, jabatan bukanlah hal cidera dalam mengkondisikan kemauan. Keberpihakan tuhan adalah aktualisasi kita dalam kebenarannya.

Capailah Sagne dijalannya dengan ketentuanya…!

Penulis : Sayyidatul Qohwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.