Jember, agitasi.id – Hidup memang selalu dinamis, seperti roda yang berputar dari atas lalu kembali kebawah begitu seterusnya. kadang berada pada titik terendah dan juga berada pada titik paling puncak. Masalah hidup manusia yang harus berjuang dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Hanya ada satu yang dapat bertahan dari perang problematikanya, orang itu adalah manusia yang jeli dan cerdas dalam memanfaatkan waktu hidupnya. Saya selalu yakin bahwa waktu akan memberikan sesuatu yang menakjubkan dalam kehidupan ini. Waktu akan selalu mengukur sejauh mana kedewasaan manusia dalam perjalanan perjalanan dan perjalanan hidupnya. Suatu ketika waktu bertanya, apa yang sudah diraih dalam hidup ini? Apa yang kita cari dalam hidup ini? .

Ini adalah dialog penuh pencerahan dengan seorang sosok “guru spiritual” yang luar biasa bagi saya. Tulisan sederhana ini saya hadirkan untuk memusahabah, meng i’tibari, dan merefleksikan diri, saya dan mungkin bisa untuk orang lain. Sebab menurut saya isi dari dialog ini penuh dengan makna.

“Apa tujuan mu kesini nak?”

“Untuk mencari kebenaran, pak!”

“Jangan cari kebenaran, karena tidak ada yang namanya kebenaran, hanyalah pembenaran. Masing-masing orang memiliki versi kebenaran masing-masing sesuai sudut pandang masing-masing. Kebenaran ku, belum tentu kebenaran mu, begitu juga sebaliknya. Jika kamu mencari kebenaran, kamu akan kebingungan karena semua ada benarnya. Kamu tidak akan dapat menjadi orang yang benar, karena benar-salah sifatnya relatif. ”

“Kalau begitu saya akan mencari tahu!”

“Jangan cari kesetiaan, karena definisi adalah ‘apa yang disukai’. Jika ada hal-hal yang disukai orang lain dari kamu, maka kamu adalah orang yang baik, kamu adalah pahlawan. Jika ada hal-hal yang orang lain yang tidak disukai dari kamu, maka kamu adalah musuh dan penjahat. Kamu tidak akan dapat menjadi orang yang baik, karena baik-sifat buruknya relatif. ”

“Jika kebenaran dan hak itu relatif, lalu apa yang sebenarnya harus saya cari dalam hidup ini?”

“Carilah dirimu yang sebenarnya, kebenaran dan kebenaran mu sendiri. Semua yang didalam hati nurani, bukan dari urapan orang lain, bukan dari doktrin atau dogma, bukan pula dari gulungan kitab yang saling menyalahkan satu sama lain. Hidup adalah eksplorasi diri, jelajahi dirimu, jelajahi apa yang benar-benar menurut kamu. Jika salah, luruskan jalan mu, semua hal adalah relatif. Oleh karena itu, hiduplah orang-orang yang memilihnya, bukan sebagai apa yang orang lain pilihkan untuk kamu. ”

Sahabat-sahabati yang saya banggakan, tulisan ini benar-benar ditulis sebagai bahan musahabbah dan refleksi kehidupan. Namun pada kebenaran kebenaran hanya milik Tuhan, semoga bermanfaat.

Penulis: Moh. Mu’alim Kader Rayon Syariah Komisariat IAIN Jember

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.