Jember, agitasi.id – Mahasiswa merupakan ujung tombak dalam kemajuan sebuah bangsa, hal ini lumrah disampaikan dikalangan umum. Karena mereka diharapkan mampu menganalisa dan mencari solusi atas seluruh problem yang terjadi disekitarnya. Kemampuan mahasiswa ini diasah ketika mereka berada diperguruan tinggi dengan segala fasilitas serta budaya intelektualnya.

Berangkat dari fasilitas dan budaya intelktual tersebut, perguruan tinggi pun menyediakan segala instrumen pembelajaran didalamnya termasuk pembelajaran dalam berkontestasi politik yang berorientasi pada pengembangan budaya intelektual dan pembangunan mental sehingga mahasiswa dituntut untuk beradu gagasan serta memberi solusi alternative dalam setiap problem yang ada dikampus.

Jika kita cermati fenomena  hari ini, Politik kampus bukan lagi sekedar pembelajaran  politik yang didasarkan pada gagasan dan nilai-nilai perjuangan, melainkan telah bergeser menjadi arena rivalitas untuk menunjukkan dominasi antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, antar ormas dengan ormas yang lain bahkan juga antara senior satu dengan senior yang lain. Hal ini akan berakibat pada problem baru yang berupa penindasan dan diskriminasi oleh kelompok  pemenang kepada kelompok yang kalah. Dan juga menjadikan mental mahasiswa yang konservatif dan enggan untuk objektif.

Selain itu dampak, lainnya adalah terpecah belahnya antar kelompok ini akan berakibat pada kemerosotan dalam gerakan mahasiswa itu sendiri karena tidak ada persatuan  baik dalam konteks melihat kedzoliman birokrasi kampus dan kepekaan terhadap isu-isu sosial lainnya, lalu jika kondisinya sudah sedemikian bagaiamana menjawab pertanyaan dari para buruh dan masyarakat kecil lainnya, kemana para mahasiswa yang biasa menemani kami dalam menyuarakan hak-hak kami? Bagaiamana dengan kebijakam pemerintah yang merugikan kami? Mungkin kita jawab dengan sok gagah saja ya dan tanpa kemunafikan, “maaf pak buk, kami sedang sibuk mengambil kursi kami yang diambil atau maaf pak buk,kami sedang sibuk mempertahankan posisi kami.” Beginilah faktanya kondisi kita hari ini.

Fenomena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena melihat mirisnya kualitas gerakan mahasiswa dan orientasi perjuangan mahasiswa hari ini, sangatlah merosot dan tidak bertaring. Benar saja, karena para mahasiswa hari ini lebih sibuk merebutkan jabatan  dikampus daripada menganalisa dan mengkritisi isu-isu sosial dan birokrasi kampus. Orientasi perjuangan sudah bergeser dari yang awalnya sebagai agent of change menjadi manusia bermental cengeng, dari yang tujuaannya agent of control justru berubah menjadi pengontrol, dan yang sebelumnya agent analisis justru jadi manusia pragmatis.

Sebagai solusi dan refleksi. pertama, kita sebagai mahasiswa seharusnya tidak taklid begitu saja terhadap apapun dan oleh siapapun, karena kita diberi kesempatan dan keberuntungan untuk mengasah kritical thingking (berfikir kritis) dan berfikir secara objektif. Karena hanya itu modal awal mahasiswa, dalam belajar bersikap disegala kondisi. Jika sejak menjadi mahasiswa saja sudah oportunis dan konservatif bagaiamana kelak ketika berada ditengah masyarakat?. Kedua, kepada seluruh senior dan pendahulu berhentilah mengintervensi adek-adek kalian ini, berhentilah ikut campur, biarkan mereka berdaulat atas masa perjuangan mereka. Jangan pecah belah mereka apalagi atas dasar kepentingan kalian masing masing. Ketiga, jangan menjadikan kontestasi kampus sebagai segalanya, sehingga kita melupakan hal hal yang bersifat fundamental dalam perjuangan mahasiswa. Kita tidak boleh mati matian merebutkan kursi yang sifatnya periodik.

Penulis : Agil Nasihul Umam Adalah Sekretaris Umum PMII Rayon Syariah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.