Melacak Jejak Peradaban Keraton Sumenep, Potret Warisan Leluhur yang Tidak Diperuntukkan Kepada Keluarga Kerajaan

Ruangan dalam di Keraton Sumenep, Selasa, 12/08/2025. (Foto: Agitasi/Nadila Sania).

Sumenep, Agitasi.id Di Jalan Dr. Sutomo Nomor 6, Lingkungan Delama, Pajagalan, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi kejayaan masa lalu Kabupaten Sumenep. Bangunan itu dulu menjadi Keraton Sumenep kini difungsikan sebagai museum, yang kental menyimpan jejak tradisi dan budaya.

Dibangun pada 1762 atas rancangan Louw Phia Ngo, arsitek asal Semarang berdarah Tiongkok, yang memadukan arsitektur Islam, Eropa, Tiongkok, dan Jawa. Setiap lengkung pintu, pilar, dan tata ruangnya menjadi bukti betapa empat budaya itu menyatu dalam satu mahakarya.

Bacaan Lainnya

Memasuki area keraton, pengunjung seolah menembus lorong waktu. Di Museum 1 sebelah selatan, pigura foto para raja Sumenep dari generasi pertama hingga ketujuh berjejer rapi.

Salah satu rajanya ialah Raden Tirtonegoro Mohammad Saud (Bindhere Saud). Konon ia mempunyai karamah saat masih dalam kandungan yang mana sudah mampu menjawab perkataan ibunya. Ramalan leluhur telah menyebut, bahwa kelak tujuh keturunannya menjadi raja. Ternyata benar ramalan itu menjadi kenyataan.

Begitupun dengan Potret Panembahan Sumolo (Raden Asiruddin), Sultan Pakunataningrat (Sultan Abdurrahman), Panembahan Notokusumo II (Raden Moh. Saleh), Pangeran Ario Pakunataningrat, Pangeran Ario Pratamingkusumo, dan Tumenggung Ario Prabuwinoto terpampang megah di dinding. Di sisi lain, foto para bupati dan sekretaris daerah yang menandai masa transisi dari sistem kerajaan ke pemerintahan kabupaten.

“Panembahan Muhammad Shaleh adalah raja terakhir. Setelah beliau wafat, putranya, Pangeran Ario Pakunataningrat, diangkat sebagai bupati pertama. Tradisi kepemimpinan itu berlanjut ke anak dan cucunya hingga tujuh turunan,” tutur Aldy Kurniawan, Pemandu Pariwisata Museum, kepada Agitasi, pada Selasa (12/8/2025) pagi hari.

Koleksi kereta kencana dan baju adat Madura juga masih tersimpan bersih, seolah menambah kesan kemegahan masa lalu.

Saat melangkah ke Museum 2, pengunjung akan langsung memasuki pintu Labang Mesem. Gerbang tersebut diberi nama demikian, karena dahulu dijaga prajurit bertubuh kerdil dengan senyum yang tak pernah lepas. Di dalamnya, terdapat Kantor Koneng (dari kata Belanda koning,berarti kerja) menyimpan kisah luar biasa Sultan Abdurrahman. Seorang raja yang sanggup menulis mushaf Al-Qur’an selama 12 jam tanpa jeda. Mushaf itu masih tersimpan rapi hingga kini.

Baca Juga :  PBAK UIN KHAS Jember; Rektor Joget Berdiri, Mahasiswa Joget Berlari.

Tak hanya itu, Sultan Abdurrahman juga pernah dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) di bidang kebudayaan oleh Kerajaan Inggris, sebagai penghargaan atas jasanya dalam berbagai bidang, termasuk penerjemahan naskah-naskah manuskrip bersejarah.

Miniatur Asta Tinggi, Masjid Jami’ Sumenep, dan Asta Kiai Yusuf di Talango berjajar bersama koleksi peralatan dapur kerajaan dan perhiasan perak serta perunggu yang berkilau.

Di belakangnya, berdiri Rumah Penyepen, salah satu bangunan tertua peninggalan Bindhere Saud. Empat ruangannya termasuk kamar raja dan permaisuri, serta ruang bertapa di atap.

Terdapat pula cermin besar di dalamnya, konon digunakan rakyat untuk memastikan penampilan rapi sebelum menghadap raja.

Puncak kunjungan berada di bangunan utama Keraton Sumenep, peninggalan Panembahan Sumolo.

“Di Madura dulu ada tiga keraton: Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Pada abad ke-19, Belanda menghancurkan semua keraton, tapi hanya Keraton Sumenep yang tetap berdiri, meski pernah dibakar,” kata Raden Bagus Deny Fahrurrozi Suryoningprang, Cucu Pemangku Adat Kesultanan Sumenep, sekaligus Keturunan ke-VII trah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, saat dikonfirmasi Agitasi, pada Selasa (12/8/2025) malam hari.

Bangunan keraton memiliki tiga lantai: lantai pertama untuk kamar, lantai kedua untuk ruang keluarga kerajaan, dan lantai ketiga sebagai gudang.

Di depan pendopo keraton masih aktif digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk melatih siswa SD bermain gamelan.

“Setiap minggu, sekolah di Sumenep bergiliran belajar alat musik tradisional supaya suasana keraton tetap hidup,” kata Aldy, Pemandu Wisata Museum.

Di sisi timur, ada Taman Sare. Dulu tempat itu dijadikan pemandian permaisuri dan putri keraton. Tempat berupa kolam itu mendapat pasokan air dari delapan mata air yang tak pernah surut. Ketiga pintu masuknya diyakini memiliki kekuatan magis.

Baca Juga :  IKA PMII Jember Disebut SDM Rendah oleh Warganet Lantaran Pasang Spanduk Tolak Pembangunan Alun-Alun Jember

“Pintu pertama membuat awet muda dan mempermudah jodoh, pintu kedua meningkatkan karir dan pangkat, sedangkan pintu ketiga menambah iman dan ketakwaan,” tutur Raden Bagus Deny.

Keraton Sumenep masih menjaga tradisi seperti Kirab Pusaka setiap malam 1 Suro yakni prosesi pengembalian pusaka kerajaan. “Dulu juga ada kirab pemberian zakat setiap Ramadan. Panji-panji dibawa ke masjid untuk dibagikan pada rakyat. Kami ingin tradisi itu hidup lagi,” ujarnya.

Selain itu, di keraton juga rutin mengikuti festival kebudayaan, termasuk musik yang sukses menarik wisatawan mancanegara. Raden Deny juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda.

“Kita perlu membuat komunitas seni dan budaya dari SD sampai SMA, untuk menanamkan kecintaan pada seni sejak dini, atau bisa juga menggelar pertunjukan seni setiap malam Minggu. Ini bisa dikoordinasikan dengan dinas terkait dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Raden Deny tidak menyangkal meskipun secara penampilan dan ornamen, Keraton Sumenep mungkin kalah dibanding keraton-keraton besar di daerah lain.

Namun, ada keistimewaan yang tak dimiliki keraton manapun. “Keraton Sumenep adalah satu-satunya keraton yang tidak diwariskan kepada keluarga kerajaan, melainkan diperuntukkan bagi fakir miskin,” jelasnya.

Kini, pengelolaan Keraton Sumenep berada di bawah pemerintah daerah.
“Dahulu, pemerintah daerah menyewa kepada pihak lembaga wakaf setiap tahunnya. Lembaga itu bernama Lembaga Wakaf Panembahan Sumolo, yang mengurusi seluruh aset wakaf, baik bangunan maupun lahan di sekitar keraton. Hasil pengelolaannya dialokasikan untuk kepentingan masyarakat, mulai dari bantuan kain kafan, keranda, hingga kebutuhan sosial lainnya,” ujar Raden Bagus Deny.

Keraton Sumenep adalah bukti warisan leluhur yang tidak hanya berbicara tentang kemegahan, tetapi juga kemanusiaan.

Reporter dan Penulis: Nadila Sania

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *