Agitasi.id.Jember, Beberapa hari kemarin Universitas Islam Kiai Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember digoncang pemberitaan negatif. Pasalnya, ada beberapa masalah dalam kegiataan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) tahun ini. Masalahnya, tentu sebagaimana yang diketahui dan viral beberapa minggu terkahir ini, yakni adanya peristiwa rektor menantang duel mahasiswa dan joget di masjid. Kedua peristiwa ini banyak membuat nitizen penasaran. Banyak pihak mencerca dan menyayangkan fenomena ini terjadi di peguruan tinggi yang Agama yang mestinya menjunjung tinggi moralitas. Dua peristiwa ini berusaha diklarifikasi oleh internal UIN KHAS sendiri. Crew Agitasi.Id sore tadi tanggal 26/08/2022 menerima catatan klarifikasi resmi dari ketua Steering Committee (SC) PBAK dalam bentuk artikel dengan judul “Klarifikasi Ketua SC PBAK UIN KHAS Jember”. Lengkapnya adalah sebagaimana berikut;

“Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) UIN KHAS Jember tahun 2022 yang dilaksanakan pada tanggal 22-24 Agustus 2022 telah resmi ditutup. Kesuksesan acara PBAK ini tidak bisa saya katakan sukses secara mulus. Lantaran banyak kejadian tidak terduga yang tidak sesuai dengan konsep acara yang kami rencanakan. Sebagai ketua SC dari Mahasiswa yang bertanggungjawab atas konsep acara PBAK Mahasiswa, kami pribadi menyadari betul akan hal itu. Fenomena yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan konsep yang kami rancang. Kejadian tersebut bukan disengaja kami konsep, melainkan margin error daripada konsep.

Banyak faktor yang kemudian menjadikan acara PBAK ini, tidak sesuai dengan apa yang kami konsepkan. Berikut kami jelaskan di antara factor-faktor penyebabnya sesuai dari evaluasi bersama elemen kepanitian; Pertama, kurang maksimalnya Organizing Committee (OC) melaksanakan konsep yang kami (SC) buat. Kedua, kendala kontrol kami (SC) terhadap elemen kepanitian. Ketiga, ada kejadian yang benar-benar murni diluar dari konsep kita (SC) dan diluar campur tangan pelaksana (OC). Dari ketiga faktor tersebut menjadi indicator fenomena yang tak terduga dan tidak sengaja.

Pada senin tanggal 22 Agustus, Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) UIN KHAS Jember dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sampai saat sambutan dari Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Babun Suharto, S.E., M.M., kejadian tidak terduga terjadi. Prosesi upacara pengkibaran bendera merah putih. Tepatnya saat Rektor menyampaikan amanat Pembina upacara, hal fenomenal terjadi dan membuat seisi lapangan terkejut, termasuk kami pribadi sebagai ketua SC. Ada pelepasan tulisan banner/baliho Aksi yang yang dilepas oleh oknum mahasiswa. Tulisan baliho aksi tersebut bermacam-macam sesuai video yang beredar, bahkan salah satunya ada yang menyerang pribadi Rektor. Misalnya “TURUNKAN BABUN SUHARTO”, dll. Sesuai dengan penelusuran informasi yang kami lakukan, tulisan baliho tersebut adalah berawal dari tuntutan aksi Aliansi Mahasiswa UIN KHAS Menggugat (AMM) yang belum diamini oleh pak Rektor. Hal demikian yang membuat pak Rektor spontanitas murka, karena marwahnya dijatuhkan dihadapan mahasiswa baru. Beginilah kejadian yang sebenarnya ada dilapangan. Kendati demikian, publik menganggap ini setting-an oposan kami selaku elemen yang bertanggungjawab, karena berangkat dari ketidaktahuan mereka ketika melihat video yang beredar. Salah satu publik yang tidak tahu menggapi video yang beredar tersebut adalah tulisan di kompasiana yang menggunakan Anonim Mahasiswa Cerdas (Baca; Bobroknya PBAK 2022 UIN Khas Jember, Mahasiswa Baru Dirugikan dengan Ketidaksiapan Panitia Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Bobroknya PBAK 2022 UIN Khas Jember, Mahasiswa Baru Dirugikan dengan Ketidaksiapan Panitia”. Tulisan ini seolah-olah menyalahkan kami. dan tulisan tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahan tulisannya. Sama sekali tidak mencerminkan mahasiswa yang memiliki nalar objektif.

Pada hari yang sama, senin 22 Agustus pada jam 21.00 WIB, setelah melakukan rapat evaluasi karena acara opening PBAK yang berakhir ricuh. Hancurnya konsep yang kami (SC) buat, berpengaruh terhadap psikis elemen kepanitiaan. Kemudian kami berusaha untuk menghibur diri dengan mendengarkan music. Ada yang menikmatinya sembari berjoget, momentum tersebut terbilang langkah. Sehingga ada yang merekam untuk diposting di history WhattApps. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam rekaman video tersebut, tetapi momentumnya saja yang tidak pas. Ketika kondisi dikalangan civitas akademika memanas karena kejadian dilapangan sebelumnya. Hal ini sama seperti yang jelaskan Norman Fairclough dalam teori Critical Discourse Analysis (CDA)-nya (baca; Norman Fairclough, Language and Power). Dalam ilmu linguistic, bahasa memiliki tiga komponen; subjek, objek, dan konteks. Ketika video kepanitian (SC) tampil ke public menjadi informasi ketika diterima oleh kontek yang tepat. Tetapi ketika diterima oleh konteks yang tidak salah, maka bahasa symbol itu berubah menjadi wacana. Kami-pun menyadari, akan ada saja pihak yang mengkaitkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya, yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Kami menyadari betul akan apa yang kami lakukan. Berharap kepada mahasiswa agar minimal belajar bagaimana menganalisa wacana dengan kritis. Disisi lain, kami akan mengklarifikasi atas tulisan dimedia Kompasiana yang ditulis dengan akun anonym yang sama,” Pantas PBAK Kacau, Ternyata Begini Karakter DEMA UIN KHAS” yang membuat informasi palsu.

Dalam artikel tersebut dikatakan, “Demi Allah ini bukan isu, tapi fakta. Mereka Malam hura-hura, karaoke an, yang cewek merokok, dan banyak lagi kisah yang tidak enak didengar, konon katanya mulut mereka beberapa ada yang suka meneguk miras.” Narasi ini nampak mengatasnamakan Tuhan dan menyebut huruf Qosam ditujukan untuk memperkuat provokasinya terhadap publik. Tetapi semua itu kurang benar. Pertama, kita (SC) tidak berkaraoke, melainkan memutar musik sembari menikmati lantunan musik tersebut dengan menarikannya. Kedua, diksi “Hura-hura”, memang sudah kami katakan, tujuan kami untuk menghibur diri. Bersenang-senang dalam arti menghibur diri (baca; KBBI), itu dibutuhkan karena kondisi psikis kepanitiaan pada saat itu terganggu akibat dari kejadian siang hari di lapangan.

Ketiga, diksi “cewek merokok” itu tidak benar sebagai fakta. Hoaks. Kami bisa mempertanggungjawabkan klarifikasi ini, tetapi kami tidak akan sudi membawa nama Tuhan atau menyebut huruf Qosam dalam persoalan ini. Kemudian silahkan dibuktikan kebenaran fakta yang mengatasnamakan nama Tuhan-Nya (mereka). Kalaupun, misalkan, ada wanita yang merokok, apa salahnya. Kalau pegiat aktifis feminism mendengar “wanita merokok” itu disalahkan, niscaya meraka akan geram kemudian melakukan pendampingan loh. Tetapi semua itu bukan fakta yang benar dibalik video yang beredar. Terakhir, diksi ”konon katanya mulut mereka beberapa ada yang suka meneguk miras.” Pencantuman diksi “konon katanya” sejak awal sudah gagal sebagai fakta. Monggo kita telisisk menggunakan kerangka kebahasaan. Apa itu “fakta”, apa itu “konon”, apa itu “katanya”. Apa perbedaan antara ketiganya. Tentu ketiganya sudah kontranarasi sejak dalam diksi, apalagi dalam penafsirannya. Belum lagi ditambah “mulut mereka beberapa ada yang suka meneguk miras”, dalam diksi “beberapa” mengandung makna yang tidak konkrit, multitafsir, dan tidak jelas. Sehingga sekaligus kami menghimbau terhadap pembaca, agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang banyak berterbangan di media tetapi nir-makna, kosong relita, dan Shadow Reality (baca; Jean Baudrillard).

Pada selasa tanggal 22 Agustus, ada fenomena Rektor bernyanyi dengan mahasiswa, itu murni bukan konsep dari panitia SC mahasiswa, melaikan konsep dari panitia dosen sebagaimana klarifikasi oleh ketua panitia dosen Dr. Saihan. Disisi lain, mengenai oknum pendamping kelompok (PK) yang juga ikut menemani berjoget, kami (SC) telah memanggil oknum yang bersangkutan dalam rapat evaluasi kepanitiaan. Seluruh telah diberitakan dalam Website resmi UIN Khas dengan Judul “Panitia PBAK UIN KHAS Jember Klarifikasi Soal Video Viral di Sosial Media”.

Demikian klarifikasi kami tulis dengan penuh hikmat dan secara sadar. Sekaligus kami selaku ketua Streering Committee (SC) memohon maaf secara sungguh dan penuh ikhlas terhadap beberapa pihak yang dirugikan. Kemudian terhadap pihak yang salah paham ketika menerima rekaman video yang beredar karena berangkat dari ketidak-tahuannya. Terakhir, menghimbau dengan sungguh, kepada seluruh mahasiswa kampus tercinta kita, kampus UIN KHAS Jember supaya mempunyai paradigm dan landasan dalam berfikir dan bertindak yang sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Supaya tercipta suasana kampus yang gandung akan nilai moderat (tawasut), Toleran (Tasamuh), Berimbang (Tawazun), dan adil (Ta’adul). Semoga kampus tercinta kita bisa menjadi rumpun tempat bedialektikanya Insan Ulul Al-bab”.

Demikian isi artikel yang dikirimkan pada email resmi Agitasi.id. Crew agitasi.Id juga berusaha menguhubungi langsung sang penulis artikel. Saat ditemui, ia mengatakan, “saya buat tulisan itu agar kasus ini jelas dan tidak ada pihak mengambil keuntungan dari dua kejadian ini. Selain itu, biar jelas, yang salah dan yang benar”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.