MENEKAN SENTIMENTAL POLITIK; Nasehat Politik Bagi Sang Profesor Muda UIN Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember

AGITASI.ID – Membincang politik di waktu sedang panas-panasnya kontestasi kekuasaan, perlu kehati-hatian dan keberanian. Hati-hati, sebab perbincangan tidak boleh menyinggung salah satu, dua atau bahkan banyak golongan. Mereka yang sedang berkontestasi, kadang ada yang sensitif dan amarahnya bagaikan ledakan bom di Jalur Gaza. Keberanian untuk menuangkan ide, apalagi bentuknya kritik, bisa salah dipahami sebagai hinaan, cemooh dan makian. Untuk itu, dalam artikel ini, penulis sungguh berhati-hati dan tentu tetap berusaha berani.

Sorotan utama artikel ini bukan soal politik-nasional yang biasanya dikemas dengan bahasa yang mendaki-daki. Walaupun tulisan ini berupaya membongkar gaya pikir guru besar yang terlihat sedang asyik melakukan manuver politik, bukan mesti dan harus memakai kata-kata ilmiah yang mendaki-daki. Sengaja ditulis sederhana, sebab penulis juga sederhana memahami pikiran si guru besar tersebut. Jadi bagi para pembaca, dimohon tenang dan tidak usah memakai teori bermuluk-muluk. Sederhanalah, pikiran dan tindakan guru besar yang dikaji juga gampang ditebak. Mahasiswa semester satu pun dapat mereka-rekanya.

Bacaan Lainnya

Tidak semua Profesor mampu memakai kapasitas kebesaran otaknya dalam menjalani kegiatan sosial, apalagi yang erat hubungannya dengan kekuasaan. Maklum Profesor juga manusia. Juga punya pikiran dan rasa emosional. Keduanya, sering konflik dalam menginterpretasikan realitas. Jika perasaan emosional yang menang, maka pikirannya akan melemah. Kondisi si Profesor dapat dianggap mengidap penyakit “sentimental politik”. Gejala umum penyakit ini adalah sedikit-dikit ngambek dan marah-marah dalam bermanuver, misalnya karena kalah dalam kontestasi. Penyakit ini ditandai dengan menguatnya efek perasaan melebihi akal politik rasionalnya.

Sekurang-kurangnya ada dua fenomena besar, yang mengindikasikan penyakit tersebut sedang menyerang kepala salah seorang guru besar di UIN Kiai Haji Ahmad Siddiq Jember. Pertama, walaupun pejabat baru di kampus Mangli telah resmi terpilih, namun tampak menyisakan sentimen para kontestan yang tak terpilih. Sebutan “Mangli” merupakan sub pemerintahan Kecamatan Kaliwates. Penyebutan ini, karena penulis melihat kontestasi politik kampus sangat kecil dan terlalu receh, untuk membuat marah seorang pakar yang berotak besar. Tapi entahlah, ternyata ada salah satunya guru besar yang merupakan kontestan perebutan pucuk pimpinan kampus ini, terlihat nyinyir dan penuh emosi. Belio mengkritik perkataan Rektor terpilih saat pelantikan kabinetnya. Kritik, tentu boleh sebagai alat manuver politik. Sayangnya, kritik yang dikemukakan hanya berbentuk whatsApp story. Argumentasinya, sangat terbatas. Padahal, seorang profesor pilih tanding, mestinya sangat mudah untuk menyusun gagasan rasional teoritis. Namun, kenapa tidak lakukan? Kenapa manuvernya terkesan seperti makhluk akademik yang biasa-biasa saja? Jika dianalisis, tentu banyak faktor. Bisa karena sibuk, atau dipengaruhi usia yang masih relatif muda untuk menyandang predikat Profesor. Allahu ‘alam.

Kedua, ada fenomena unik pada program perdana yang digelar Rektor Baru UIN KHAS Jember, yakni “Dialog Kebangsaan”. Ada asumsi miring pada program tersebut. Salah satu pemateri sempat mem-bully pakaian Rektor yang terkesan tradisional. Sontak, beberapa mahasiswa mengaku dan menyampaikan rasa kecewa pada forum kegiatan tersebut. Kejadian ini diberitakan oleh Agitasi.id dengan judul “Caleg PKB Bully Pakaian Rektor: Mahasiswa UIN KHAS Jember Kecewa”. Berita ini tentu memuat alasan-alasan rasional para mahasiswa. Yang membuat aneh, lagi-lagi, si Profesor nyinyir lewat statusnya. Belio me-repost berita tanpa argumentasi. Tentu, tindakan ini, pada hakikatnya tidak masalah. Hanya saja,  jika dihubungkan dengan perilaku sebelumnya (pada fenomena pertama), tampak memang gaya manuvernya tidak berubah. Seperti umumya kaula-kaula muda, nyinyir memakai status tanpa ide dan pengetahuan yang rigit dan rasional. Perilaku demikian yang merebak di daratan kampus Mangli saat ini.

Baca Juga :  BEREDAR; Surat Klarifikasi Panitia PBAK UIN KHAS Jember Tentang Masalah Tangtangan Duel Rektor dan Pristiwa Joget di Masjid

Menekan Sentimental Politik

Sentimental mula-mula hanya bahasa dagelan yang digunakan oleh Ashabul kopian penulis. Kata ini pantas digunakan untuk mengidentifikasi manusia-manusia “Mangli” yang berpolitik dengan sentimen (emosi-perasaan yang berlebihan). Orang dengan penyakit Sentimental, gampang membenci sesamanya. Sedikit melihat kesalahan, cacian keluar dan makian membahana. Manusia dengan tipe ini banyak dikenal sebagai ekstremis, fundamentalis dan semacamnya. Sebenarnya di Indonesia kelompok politik berpenyakit sentimental, telah lama dibubarkan. Mereka dikenakan Pasal, penyebaran kebencian (lihat pasal Pasal 45A Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016). Tentu semua guru besar, apalagi Profesor di bidang hukum tahu mengenai aturan positifnya.

Jika kurang paham, perlu penulis untuk menginterpretasikan kembali, apa yang dimaksud wacana yang terlihat sentimental. Sentimental selalu soal emosi. Tidak berkembang dalam ruang ide atau pikiran. Spiritnya berkembang akibat persoalan psikis, seperti kecemburuan, amarah, perasaan terganggu dan semacamnya yang terjadi secara fundamental. Akibatnya, wacana dan tindakan politiknya tidak berdasar pada ide dan gagasan rasional. Mereka sangat sensitif pada kejelekan lawannya. Biasanya mencak-mencak, teriak-teriak caci maki dan minimalnya, berkata nyinyir tanpa gagasan yang baik untuk dikonsumsi publik. Garis besarnya, yang membedakan tindakan sentimental dan tidak, adalah ada atau tidak dasar gagasannya. Kalau hanya mencaci dan menyanyi emosional, ya “burung beo pun bisa”.

Namun, penulis tidak berharap banyak tentang masalah ini. Memang semua manusia punya otak, tapi sedikit yang digunakan secara optimal. Memang semua guru besar itu top, utamanya dalam disiplin ilmunya, namun tidak menjamin bijaksana dalam memandang dan melakukan tindakan politik. Harusnya, guru besar bukan hanya memanfaatkan story WA untuk kepentingan politiknya. Guru besar itu punya tanggung jawab pengetahuan. Tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya. Hati-hati beranilah mengadu gagasan seperti cendekiawan dan ulama-ulama kita terdahulu. Seriuslah sebagai Profesor yang memimpin peradaban. Muntahkan ide-ide hebatnya. Agar juga terbaca sebagai penguat dialektika pengetahuan, bukan penyebar kebencian. Buktikan, Profesor muda dapat menjadi provokator pengetahuan bukan kebencian.

Baca Juga :  MENGAPA PEREMPUAN JAWA BEGITU IDAMAN?

Yuk Hentikan Bersentimental!!!

Nasehat Sujiwo Tejo yang dikutip oleh Gus Rizal Mumazziq (Rektor salah satu PTAIS Jember) dalam suatu seminar tentang “Moderasi Beragama dan Tantangan Politik Identitas” menyarankan, agar dalam berpolitik mencontoh falsafah anak kecil. Apa maksudnya? anak kecil ketika bermain sesama temannya, meski berantem dan bertengkar sampai nangis, kemudian esoknya, bermain bersama lagi. Anak kecil tidak mengabadikan emosi. Baginya dialektika dalam permainan tidak boleh mengabadikan kebencian. Bagi mereka permainan tidak merusak rasa persaudaraan. Begitupun dengan berpolitik, meski sebelumnya menjadi kontestan dalam politik, jangan terus-terusan terjebak pada sentimental politik. Lenyapkan emosinya, lalu kuatkan pikiran untuk membangun dialektika kampus yang lebih baik.

Jika tidak, sentimental politik akan berakibat buruk. Seorang atau komunal yang berpolitik dengan menggunakan sentimen perasaan yang berlebihan, akan mudah dimanfaatkan. Sentimen keidentitasan (Agama, Ras, Komunal) mudah dipolitisisasi. Pada konteks ini, yang pada akhirnya akan melahirkan politisasi sentimental. Secara sederhana, jika dibiarkan gaya politik sang guru besar cenderung merangkai dan memanfaatkan sentimen-sentimen tertentu (Agama, Ras, Komunal) sebagai alat untuk mencapai kepentingan. Dan ingat, ini strategi politik yang lumayan mengacaukan kondisi politik nasional akhir-akhir ini.

Untuk itu, sebenarnya tulisan ini tidak hanya bagi sang Profesor muda. Bagi siapa pun, jangan sampai sentimen politik mempengaruhi pertimbangan akal sehat! Utamanya, bagi aktor dan masyarakat akademisi. Bertindaklah politik yang bijak, bisa sellow dan amat rasional dalam melihat realita politik. Warning ini tertuju pada semua manusia-manusia, baik guru besar, dosen, mahasiswa, tentu tak terkecuali juga pada “penulis”. Lindungilah kami, dari emosi yang terkutuk!

Terakhir, mungkin narasi Mahbub Djunaidi dalam satu esainya dapat berguna untuk menggugah kesadaran kita semua. Belio pernah mengutip Asrul Sani (kenal?, kalau enggak kenal tidak apa-apa). Begini kutipannya, “ada dua jenis manusia: ada yang duduk di sofa sebagai keharusan dan berfikir sebagai luks. Ada yang berpikir sebagai keharusan dan duduk di sofa sebagai luks”. Maksudnya, ada yang menganggap kekuasaan (sofa) sebagai keharusan dan  berpikir sebagai barang mewah. Ada yang sebaliknya, berpikir sebagai keharusan dan kekuasaan itu barang mewahnya. Kira-kira, seorang Profesor itu masuk yang mana ya?. Beruntung jika menjadi salah satunya. Yang menjadi kabar buruk adalah “sudah tidak punya sofa, masih tidak punya pikiran”. Wah ini bahaya, Astaghfirullah…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *