Agitasi.id – Kegelisahan merupakan bentuk lain dari kasih sayang, memberikan perhatian lebih pada persoalan persoalan yang kita anggap kurang tepat secara procedural maupun sosio kultural. Ini merupakan prinsip dasar seorang mahasiswa yang perlu dipertahankan, melihat hiruk pikuk pergaulan mahasiswa yang cendrung melemah apatis pada persolan yang mengancam ketertiban dan merusak tatanan.

Ada pergeseran pradigma hingga pergaulan yang mengarah pada kemerosotan intelektualitas mahasiswa dan kepekaan sosial yang justru menjadi dasar tanggumg jawabnya sebagai class of struggle (kelas pejuang) hilang dari tangan mahasiswa, tidak usah membahas isu pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lewat tes wawasan kebangsaan (TWK), sebagai syarat menjadi aparatur sipil negara (ASN), apalagi membahas isu dugaan pembunuhan wakil bupati kep. Sangihe Helmud Hontong, setelah sebelumnya menolak izin tambang, hal itu hanya menjadi ilusi dan paradoks bagi temen-teman aktivis mahasiswa, jika masih bergulat pada kegiatan-kegiatan kontra produktif macam mabar, ngopi semalaman sampai lupa pada tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.

Oke, membahas ngopi bukan hanya sekedar meneguk lezatnya kopi kemudian menjadi puisi, melaikan sebagai pelengkap diskusi dan membahas visi-misi organisasi.
Ups,! hampir lupa kalo tidak semua mahasiswa berorganisasi, tapi sangat disayangkan sekali sih, mereka yang tidak berorganiasi karna hampir semua gerakan perubahan sosial dimulai dari organisasi, manegemen, hingga strategi gerakan sosial, pembebasan dan perjuangan kaum buruh dalam memperjuangkan keadilan dan melawan segala bentuk diskrimansi hingga puncaknya pada 10 Desember 1948 disahkannya universal declaration of human rights (UDHR).

Mahasiswa tidak kekurangan refrensi sejarah terkait banyaknya perubahan yang dipelopori oleh gerakan organisasi mahasiswa yang waktu itu cukup mengancam pemerintahan orde baru, sehingga soeharto, yang waktu itu menjabat sebagai presiden Selama 32 tahun tepatnya mulai dari tahun 1996 hingga 1998 membaca ancaman aktivitas kritis mahasiswa sehingga muncul gerakan “back to campus” sebagai upaya pelemahan gerakan kritis mahasiswa waktu itu hingga peristiwa trisaksti yang menewaskan 6 orang mahasiswa, peristiwa semanggi I dan II yang tidak lain itu merupakan langkah konkrit bahwa mahasiswa mempunyai andil besar dalam menetukan arah kebijakan Negara saat itu.

Saat ini bisa dikatkan mahasiswa kehilangan alat kelaminnya, budaya nalar hingga kritik tidak lagi melekat pada diri seorang mahasiswa, yang terpenting eksis di media sosial dan getol meneriakkan pembaharuan, perubahan di instanstory, story wa hingga gambar kaos bergambar tan malaka sebagai modal mereka tetap di anggap idealis dan eksis memperjuangkan isu-isu pendampingan kemasyarakatan hingga lupa cara membangun metode dan kerangka berfikir yang baik dan benar dalam melakukan gerakan gerakan sosial. belum selasai membahas mahasiswa yang mengejar eksistensi idealisnya muncul beberapa persoalan baru dikalangan aktivitas mahasiswa dalam membangun narasi perjuangan dan pembaharuan, banyak yang melupakan bangunan dasar dan kerangka konseptualnya dalam hal pengorganisiran masa dan menyiapkan manusia manusianya.

Oke, begini perubahan dan pembaharuan mustahil terwujud jika hanya mentok pada simbol-simbol teriakan “reformasi dikorupsi, hidup mahasiswa, hidup buruh, hidup perempuan yang melawan,” tapi lupa cara dan langkah mewujudkan itu semua, Che Guevara dalam aksi revolusi kuba melakukan beberapa kali perjalanan mengelilingi amerika selatan untuk membaca kondisi situasi actual hingga ekploitasi kaum buruh yang menyebabkan ketertindasan dan meledaknya kemiskinan yang hamper terjadi diseluruh penjuru kota saat itu.

Ini yang mungkin dikatakan Hasanudddin Wahid Dkk, dalam bukunya Multi Level Strategi (MLS) yang tidak lain merupakan pengurus PB PMII saat itu bahwa analisa keberhasilan gerakan harus difahami dari tiga aspek terlebih dahulu yang pertama, menganalisa kekuatan lawan yang ke kedua, menganalisa kondisi lapangan dan yang ke tiga, menganalisa kekuatan pribadi. Ini penting difahami sebagai dasar gerakan.

Kemudian kita bisa menggunakan kekuatan dari dua sisi sekaligus seperti non systemic movement ala wallerstein, gerakan ini memungkinkan untuk berjalan dalam system sambil menciptakan conditions of possibilities untuk membangun system tandingan, ataupun dengan systemic movement yang bertujuan memperkuat system yang berjalan hal ini niscaya terjadi apabila dari dua sisi tersebut sama sama saling kolabartif, aktif dan lentur dalam mengarur pola strategi gerakan yang baik, namun menjadi pasif hingga menimbulkan masalah baru jika kita sebagai actor gerakan terjebak dalam system hingga terbuai diwilayah politiknya dan tidak mampu berkembang dan memberikan dampak positif untuk lingkungannya dan na’udzubillah bukan tidak mungkin dia akan menjadi sosok oportunis dalam jubah patriotik.
Nah, hal lain yang perlu dipersiapkan adalah dengan membangun kesadaran masyarakat lewat kegiatan edukasi, sosialisasi, pendampingan terkait pemahaman dari bentuk polarisasi penindasan ala korporatif dalam mendominasi kekuasaan.

Disisi lain organisasi mahasiswa, juga harus menyiapkan system kaderisasi yang baik, guna membentuk generasi calon mahasiswa idiologis, intelektualitas dan berkarakter pejuang dalam memperjuangkan hak-hak kaum mustad’afiin, karna percuma jika hanya menyiapkan infrastruktur yang memadai kalo calon generasinya ompong pengetahuan ibarat pepatah “tong kosong nyaring bunyinya” kita malah hanya menyiapkan mahasiswa organic yang tumbuh dan berkembang menurut tuan seniornya bukan malah dari akal budinya.

Analoginya, percuma kita membelikan fasilitas yang baik seperti laptop, gadget dll, kalo tidak tau cara mengaplikasikannya. kongkritnya buat apa melakukan gerakan pembaharuan kalo tidak disertai pendidikan kepada masyarakatnya, hanya menjadi jargon eksistensial belaka ahirnya.
Maka mendambakan sebuah perubahan tatanan merupakan cita-cita ummat manusia sebagai khilafah fil ‘ard, namun cara dan konsep structural hingga kultural perlu kita kolaborasikan secara baik dan utuh demi menciptkan tatananan tanpa diskriminasi dan absolut.
HIDUP MAHASISWA!!!(*)

Penulis : Achmad Faiz, Ketua Umum Rayon Syariah 2020/2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.