Grafis: Feri Hidayat

JEMBER, Agitasi.id –   Cocoklogi adalah sebuah istilah yang mewakili anggapan seseorang terhadap suatu hal yang dianggapnya memiliki kemiripan. Istilah ini mulai populis pada atmosfer ide masyarakat Indonesia semenjak media-media nyentrik naik daun dan lebih banyak diminati. Kehidupan politik Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), juga tak menutup kemungkinan terafiliasi populernya istilah ini, termasuk kampus saya pribadi.

Dua tahun hidup berstatus mahasiswa di kampus ini, sekian banyak varian cocoklogi yang melintas di telinga, hanya ada satu yang membuat bulu kudu saya merinding, dan penasaran untuk benar-benar mengetahui apa alasan mereka mencocokannya. Ya! ini semua ihwal cocoklogi antara rektor Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember; Babun Suharto dengan almarhum presiden kedua Indonesia; Muhammad Soeharto. beberapa pekan terakhir, topik ini menjadi perbincangan hangat mahasiswa dan alumni kampusnya. Lebih-lebih mahasiswa dan alumni yang nafasnya di warung kopi.

Saya benar tak percaya cocoklogi ini hanya berkutat dalam kesamaan namanya saja,  yang secara kebetulan saling mengandung diksi “Suharto”. Kendati demikian, dengan segala usaha dan doa, saya mecoba memahami persamaan kedua pria hebat ini.

Misi ini saya mulai dengan memperbincangkannya bersama teman dekat sampai sesepuh kampus, tentunya pada mereka yang sepakat dengan cocoklogi yang satu ini. Walhasil banyak temuan alasan yang logis dan rasional. Berikut beberapa alasan tesebut yang bagi saya masuk akal kenapa blio berdua disamakan:

#Senyumnya yang kharismatik

Soeharto, pria gagah yang sering dijuluki dengan The Smiling General ini, memang selalu menampakkan raut mukanya yang tersenyum mempesona. Senyum demikian melambangkan ketabahan dan keikhlasan dalam menjalani hiruk pikuk kehidupan sampai ajalnya tiba. Senyumnya banyak saya lihat pada gambar-gambar yang menghiasi bagian belakang truk di jalan raya.

Senyuman serupa juga sering saya jumpai pada poster-poster di kampus. Gambar rektor hebat ini tak hanya sekali duakali terpampang. Banner maupun apalah itu selalu bersamaan dengan berbagai macam ucapan selamat dan doa restu. Mulai dari gerabang masuk perumahan sampai belakang lapangan dekat  pesawahan.

Senyum dua sosok pemimpin ini memang tak jauh beda dan banyak sama. Hanya saja embel-embel gambarnya yang mengecualikannya. Sang rektor dengan banyak model ucapan selamat serta doa, sang mantan presiden dengan gelembung kata “Piye? Enak jamanku to?”

#Sepak terjang pendidikan dan karir

Berbeda dengan presiden pertama yang masa kecilnya dipenuhi dengan semangat bersekolah dan sering kali menceritakan apa saja yang ia baca sejak kecil, termasuk juga Hatta dan Sjahrir yang sangat akrab dengan novel-novel barat karya Charles Dicknes dan Karl May, Soeharto justru lebih dekat dengan dunia pengembalaan kerbaunya. Meskipun ia juga sempat menempuh pendidikan di sekolah rakyat, namun lebih dikenal sebagai sosok yang tertarik pada kerja-kerja yang menguras keringat.

Kerja pengabdiannya juga telah menempuh banyak hal, mulai dari bertani bersama pamannya sampai dengan menjadi peracik resep obat guru ngaji di kampung halamannya.

Pendidikannya mulai terlihat semenjak ia mendaftarkan diri dan diterima sebagai anggota Koninklijk Nederlands Indsice Leger (KNIL). Bermula dari sersan yang ngos-ngosan sampai dengan diraihnya jenderal yang cukup main telunjuk tangan.

Perjuangan panjang demikian juga dapat saya lihat pada sosok panglima besar UIN KHAS Jember. Di usia mudanya, bagi saya tak cukup sebutan “pemuda” untuk blio. Kata “Lelaki” lebih cocok merujuknya kala itu.

Seyogianya seorang lelaki yang hendak memperjuangkan nasib, blio menempuh awal karirnya sebagai tukang sapu sekaligus juru ketik di bagian tata usaha, tentunya hanya dengan berbekal ijazah SMA.

Berawal dari sana sosok lelaki ini mampu berstatuskan mahasiswa, pendidikan tersebut blio jalani di luar jam kerjanya sebagai tenaga honorer di kampus saya, yang kala itu masih berstatuskan STAIN Jember. Dua tingkat dari statusnya sekarang.

Masa mudanya juga tak jarang blio dikenal sebagai seorang aktivis NU, blio sering terlibat pergulatan aksi-aksi mahasiswa pasca runtuhnya Orba, sampai juga pernah hadir ke Jakarta saat Gus Dur hendak dilengserkan secara inkonstitusional

Dari sini saja, sudah benar nampak kerasionalan cocoklogi yang beredar ini. Tak cukup kata mewakili perjuangan dua orang hebat ini, singkatnya blio-blio ini sama-sama seorang lelaki yang bergerak from zero to hero.

#Paradigma kepemimpinan

Mengulas kinerja seorang mantan presiden, siapa tak kenal dengan paradigma pembangunan sang Jenderal ini, meskipun sampai sekarang ia masih terbilag kontroversial, terutama di kalangan aktivis mahasiswa, namun juga banyak jasanya yang terkenang di benak masyarakat Indonesia yang biasa-biasa saja.

Semasa Indonesia dinahkodainya, fokus pembangunan menjalar pada hal-hal yang berjangka panjang. Berkah minyak bumi yang terusan disedot, ia mampu menaikkan persentase investasi di berbagai sektor. Pertanian pun termasuk di dalamnya, bahkan sempat menjadi persentase terbesar dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kala itu.

Pembangunan berhala-berhala infrastruktur juga tak lupa, siapa yang menghalangi niat modernisasinya, habis kepala dipenggalnya. Selain itu, melalui program Keluarga Berencana (KB), ia juga mampu menekan persentase jumlah penduduk miskin hanya dalam kurun waktu singkat, meskipun faktanya tetap saja banyak pribumi miskin sampai sekarang.

Sedikit berbeda diksi, paradigma yang melekat pada sosok rektor ini terkesan lebih keren. Ya, transformatif. Bukan hal yang biasa sejak awal kampus ini dipimpin sosok Babun, tranformasi atau peralihan status dua kali tersematkan, blio benar-benar hebat!

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, paradigma transformatif ini memang benar-benar menjadi realita yang cukup mengejutkan hingga hari ini. Dari awal dibentuknya tim khusus peralihan status yang bermula pada tahun 2009  dan semakin kokoh sampai sekarang, kinerja mereka tak bisa diremehkan. Konon tim ini bernamakan Civitas Akademika, saya tak tahu betul arti dan filosofinya apa, apalagi kinerjanya. Yang saya tahu tim ini kumpulan dari orang-orang yang tidak biasa-biasa saja.

Selain itu, tata kelola, perluasan akses maupun mutu dan daya saing pastinya semakin transformis. Tak lupa pula dari sisi keunggulan SDM serta perangkat kelembagaannya yang semakin mapan.

Usaha pemenuhan mahasiswa, jumlah guru besar, dan tenaga kerja yang berpangkat doktor sampai tukang ngecor selalu menigkat tiap tahunnya. Hal ini dapat disaksikan dari program Doktorisasi Dosen; dari 40 Dosen tahun 2014, sampai dengan 72 Dosen bersandang doktor di tahun 2018..

Tak cukup itu, seiring berkembangnya zaman dan bertambahnya animo mahasiwa untuk layak menjalani studinya, sekian macam kreativitas lahir sepanjang tahun mewarnai ketransformasiannya. Salah satu yang bagi saya begitu hebat adalah program GELARKU (Gerakan lima ratus buku), meskipun tak satupun buku yang saya baca darinya, apalagi saya terima, huh..

Di tangan blio kampus saya benar-benar terkesan transformatif melewati batas, meskipun banyak kalangan yang tak begitu sepakat dengannya menyebut hal tersebut hanya intrik pragmatis. Siapa gerangan pula mau ikut campur, hal itu omongan orang dewasa.

#KELESTARIAN JABATANNYA

Menyanggah kata almarhum Mahbub Djunaedi dalam salah satu artikelnya di kolom kompas, yang mengatakan bahwa “lestari” itu sama sekali tak ada, mungkin ia akan terbahak-bahak melihat kelestarian jabatan rektor saya yang satu ini.

Usai menuntaskan tugasnya sebagai Direktur Pascasarjana, Babun diberi kepercayaan untuk memimpin Sekolah Tinggi Keagamaan Islam Negeri (STAIN) Jember pada tahun 2012, secara otomatis pula blio terafiliasi sebagai anggota Forum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Forum ini merupakan wadah saling sapa antar perguruan tinggi Islam negeri se-Indonesia, blio juga terpilih sebagai ketua sejak tahun 2019 silam hingga sekarang.

Jabatan yang diperolehnya kala tahun itu lestari sampai sekarang. Blio baru saja dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 1 Oktober 2021. Mereka berdua memang karib dekat. Sepertinya mereka bertemu pada organisasi yang sama yaitu Gerakan Pemuda Ansor. Yaqut ketua pusatnya, sedangkan Babun mantan Ketua Cabang GP Ansor Jember.

Pelantikan barunya tadi merupakan tanda atas kelestarian jabatannya beberapa tahun kedepan. Namun yang menarik dari seremonial ini adalah ucapakan Yaqut, yang mengatakan bahwa seorang pimpinan akan terselamatkan dari kesalahan dan kekeliruan karena mendengarkan saran dan kritikan, bukan karena sanjungan dan pujian.

Untuk poin persamaannya dengan sang Jenderal, saya rasa kalian sudah bosan mendengar dongeng ini, pendek kata, Soeharto merupakan presiden terlerstari sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka dengan penuh kontroversinya.

Babun Suharto bakal jadi laku sejarah perjalanan kampus saya ini. Sampai sekarang, selain blio menerima penghargaan Anugrah TIMES Indonesia (ATI) 2020 untuk Tokoh Pria dari Jember, blio juga mendapat penghargaan sebagai rektor paling lestari, sayangnya penghargaan ini masih gentayangan di omongan publik, saya harap nanti ada pihak yang mengapresiasi capaian blio ini.  (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.