Agitasi.id – Jember, Mendung kali ini tidak besungguh-sungguh. Tidak pekat tidak juga putih. Namun yang pasti, mahasiswa yang kini sudah menginjak semester tua itu jengkel tatkala melihat kampusnya tidak terawat lagi. Mahfud, lelaki berumur 23 tahun mengumpat ketika melihat kampusnya kotor, khususnya di Fakultas Syariah yang terlalu banyak sampah dan tidak terawat. Bukan alang-kepalang, sekarang kampus seperti bangunan horor yang tidak berpenghuni. Bukan hanya kotor, melainkan juga ada sederet jemuran pakaian yang baru dicuci “Sejak kapan kampus alih status menjadi tempat laundry?” keluhnya.
Entah apa yang dirasakan mahasiswa ketika melihat kampus yang di cintanya sudah tidak seperti ruang-ruang belajar yang semestinya. Mahasiswa yang mempunyai kecintaan kepada tempat studinya pasti akan kecewa, kesal, jengkel, seperti yang dirasakan Mahfud sore itu. Tetapi ada juga yang tidak merasakan kejengkelan melihat kampusnya serampangan, mungkin mahasiswa macam ini sudah masuk pada kategori mahasiswa apatis.
Kompak, Pimpinan kampus dan Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Jember saat tim agitasi.id mencoba menghubungi pada tanggal 20/03/2021, tidak sekalipun direspon. Sangat disayangkan, padahal dengan begitu kita akan mendapat penjelasan perihal faktor tidak terawatnya kampus. Begitupun dengan Senat Mahasiswa Institut (SEMA-I), saat dihubungi tim agitasi.id, pengurus SEMA-I tidak memberi tanggapan. Penyebabnya karena Senat masih butuh konfirmasi ke pihak Institut. “Nanti saya konfirmasi lek ke pihak yang bersangkutan dan juga ke Institut.” Ujar salah satu pengurus SEMA-I.
Ketiganya enggan untuk menanggapi, baik Pimpinan kampus, Dekan Fakultas Syariah, dan Senat Mahasiswa Institut. Namun, tidak demikian dengan salah satu tenaga pengajar yang enggan disebut namanya, tanpa babibu ia menanggapi, “Kebersihan kampus penting untuk dijaga, darinya kampus kita menyewa CV (Cleaning Service) untuk menjaga kebersihan. Selain petugas kebersihan, semua elemen harus ikut serta menjaga kebersihan kampus tercinta ini, baik dosen dan mahasiswa. Kalaupun belakangan ini kebersihan kampus kurang terjaga, hal ini tidak ada hubungan dengan kuliah online, sebab petugas kebersihan tetap masuk meski perkuliahan dilaksanakan daring.” Ucapnya.
Dipungkiri atau tidak, kondisi kampus yang semacam ini tentu membuat beberapa mahasiswa kecewa bahkan jengkel. Entah siapa yang menjemur cucian pakaiannya di kampus. Belum lagi kampus yang kumuh dengan sampah-sampah plastik maupun daun. Siapakah yang paling bertanggung jawab atas kebersihan kampus kita? Mungkinkah ini semua murni kesalahaan (kelalaian) petugas kebersihan? Kalaupun dugaan ini benar, rasanya pimpinan juga ikut andil didalamnya, karena pimpinan mempunyai kewajiban untuk mengontrol petugas kebersihan.

Pewarta : Riyadi Muhammad
Editor : ENH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.