AGITASI.ID-Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) berdiri pada tahun 1990. Jaya Suprana, Pemuda Thionghoa kelahiran Denpasar yang memiliki kepribadian unik dan penuh bejibun prestasi itulah yang memprakarsai berdirinya. Terhitung sejak berdiri, Muri telah ribuan kali menganugerahkan gelar pada semua hal yang diaggapnya langka. Macam kategori antaranya; IPTEK, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, seni, dan penemuan. Masing-masing diberikan pada pribadi, yayasan, institusi, bahkan pada perusahaan. Anugerah yang diberikan kepada Rektor Universitas Islam Negeri  KHAS Jember menimbulkan gejolak dikalangan mahasiswa. Gejolak tersebut tidak mungkin timbul kalau MURI tidak menganugerahkannya pada Pak Rektor. Misalnya, diberikan pada Kampus sebagai institusi seperti yang pernah terjadi pada Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). MURI tidak mungkin salah sasaran. Karena untuk mendapat MURI perlu pengajuan dan verifikasi yang ketat. Kecuali kalau yang mengajukan memang punya kepentingan.

Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Babun Suharto S.E., M.M. termasuk salah satu pribadi yang mendapatkan Rekor Muri. Karena hanya Beliaulah satu-satunya Rektor yang mampu mentransformasi Kampus dari STAIN, IAIN, hingga UIN dalam tempo yang singkat. Tetapi anugerah tersebut menimbulkan pelbagai persoalan dilingkup mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengapresiasi dengan mempostring di story WhatApp. Ada mahasiswa yang apatis dan tidak peduli sama sekali. Ada juga yang mengapresiasi sekaligus mengkritisi. Apresiatif-kritis mahasiswa, diwakili oleh Sekjen SEMA-F.

Sekjen Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora tidak tertarik dengan penganugerahan rekor MURI pada Pak Rektor. “Saya lebih tertarik untuk menanyakan motif apa dibalik capaian Rektor. Karena; Pertama, prestasi tersebut secara tidak langsung menunjukkan keahlian Pak Babun dalam hal melobi orang atas. Kedua, transformasi dari STAIN, IAIN, Hingga UIN bisa saja didesain untuk melanggengkan jabatannya sebagai Rektor”, jelas Hisyam pada Sabtu 23 Oktober saat ditemui crew Agitasi.id di warung kopi.

Tetapi bagaimanapun, yang namanya prestasi perlu diapresiasi dan dikritisi. Entah itu prestasi rekor MURI atau rekor apa saja di tingkat Mangli. Hal ini juga disampaikan Hisyam pada Sabtu malam 22.30 WIB. “Saya mengapresiasi prestasi Pak Babun. Andai pemimpinnya bukan Pak Babun ya Boy, mungkin Kampus ini belum UIN. Itu murni jerih payah  Pak Rektor dan kelihayan Beliau dalam melobi” imbuhnya.

Berbeda dengan Sekjen SEMA-FUAH yang kritis apresiatif itu . Sebagai Presiden Mahasiswa UIN Khas Jember Mohammad Zakaria Drajad lebih klarifikatif. Terbukti ketika dihubungi via online oleh crew Agitasi.id Zaka mengklarifikasi penganugrahan rekor MURI yang diperoleh Rektor. Padahal sebenarnya klarifikasi tugas Pak Rektor, bukan tugas Presma. “Yang mendapat penghargaan itu kalau atas nama Rektor sebenarnya bukan pribadi. Tapi institusi dia sebagai Rektor atau jabatan dia sebagai Rektor. Kampus sebagai institusi kan tidak bisa diberi gelar atau penghargaan Lek”, ujarnya.

Pewarta : Muhammad Riyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.