agitasi.id – Mata air dan air mata merupakan dua istilah yang berbeda. Secara bahasa keduanya berasal dari dua diksi yang sama, yaitu “mata” dan “air”. Namun ketika dua susunan kata tersebut diartikan secara terminologi akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ketika seseorang menyebut “Mata air” berarti yang dimaksud tempat air atau sumber air yang mengair secara alamiah. Dan ketika “Air mata” berarti yang dimaksud adalah air yang keluar dari mata, contoh ketika menangis. Jadi, jangan dibolak-balik.

Mata air merupakan hal fundamental dalam rantai kehidupan makhluk hidup di Bumi. Namun terkadang mata air juga bisa menjadi petaka. Jika aliran air mengalir dengan volume besar bertamu ke pemukiman warga, tanpa salam, menggenang menyerupai kolam. Sebanarnya tidak menjadi persoalan kalau unsur air tersebut bervolume kecil. Tapi beda persoalan kalau yang hadir gelombang arus di padang pemukiman berwarna cokelat mencolok. Hati-hati, itu bukan kolam susu coklat.

Dialah banjir yang tak hanya bersumber dari mata air melainkan juga hasil dari sumbang eksternal berupa curah hujan deras. Hal ini bukan tentang takhayul dan mitologi komunitas tertentu untuk membentuk moralitas kolektif namun alpa dengan moralitas kebijakan dalam struktur politik kenegaraan. Kehadiran mitologi bencana menyasar masyarakat kecil seakan-akan yang membuat kerusakan hanyalah mereka. Sedang dosa politik dengan hadirnya industri ekstraktif tak pernah tersentuh mitologi itu.

Pada awal tahun 2021 lalu, curah hujan mengeroyok bumi Jember tanpa bosannya. Akibatnya tanah tidak sanggup meminum habis limpahan air coklat dipermukaan. Oleh karena akar pohon telah tersingkir oleh tangan besi pem[bangun?]an perusahaan dan aktivitas illegal serta legal loging, padahal pohon merupakan salah satu makhluk hidup yang berperan dalam peresapan air tanah. Namun itu hanya sebatas teoritik dalam ruang-ruang kelas tak berwujud dalam tafsir perumusan kebijakan dan etika lingkungan hidup.

Sambutan cuaca diawal tahun 2021 lalu harus diambil pelajaran penting untuk kita, memang tidak bisa dinafikan bahwa hujan merupakan hukum alam namun banjir adalah hukuman alam atas ulah tangan manusia. Dalam pandangan ilmu pengetahuan jelas bahwa ada relasi aktivitas manusia dengan kerusakan bumi, begitu juga dalam firman Tuhan pada penganut agama bahwa kerusakan didarat dan dibumi ada hubungannya dengan perbuatan manusia. Pesan ini oleh masyarakat awam dimanifestasikan dalam cerita-cerita diluar nalar akademik yang berkaitan dengan maksiat dan bencana. Namun benar adanya jika ditelaah lebih mendalam menggunakan pendefinisian dan bangunan epistemic yang rasional.

Politisasi Air, Pohon, dan Manusia

Tiga variabel penting ini berkaitan erat dalam siklus kehidupan yang mutual namun sikap antroposentrik materil menghilangkan salah satunya. Sehingga berdampak buruk pada semua makhluk hidup, termasuk hewan. Hal ini dapat dilihat dalam rekaman sejarah Jember tentang banjir bandang yang terjadi baru berumur dini. Artinya ada aktivitas perusakan lingkungan akibat sifat antroposentrik seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya konsumerisme masyarakat dalam label besar kapitalistik serta percaturan bisnis besar global.

Sebelumnya belum ada catatan banjir di daerah Jember hingga memenuhi beberapa titik pemukiman masyarakat,  asumsi penulis hal ini berkaitan dengan hadirnya industry ekstraktif yang mengeksploitasi hutan untuk mitos kesejahteraan dan penumpukan kekayaan sekelompok orang (oligarki). Sekelompok orang ini adalah pendonor besar dalam perebutan kursi panas penentu kebijakan secara masif sistematis dan rakus.

Balas budi donor berupa kebijakan yang membuka karpet merah untuk pemodal besar dengan menghisap tanah garapan rakyat dan jernihnya air di aliran sungai kaki gunung Argopuro. Orang baru menyadari ketika tanahnya sudah dijual ke pihak perusahaan dan sekelompok orang berdosa dalam bencana ini mengucapkan bela sungkawa sebagai bentuk kepedulian palsu pada masyarakat melalui media dengan pesona pamor. Alhasil kita berada dalam lingkaran pembodohan besar.

Lingkaran pembodohan ini dipelihara dengan Gobels baru dalam propaganda besar sistem meraup untung oleh orang lokal sendiri, hingga pikiran orang mati dengan rangkaian kalimat dan iming-iming gaji untuk pekerja asli daerah. Hingga hari ini iming-iming sejahtera oleh perkawinan sistem dan industri ekstraktif memuntahkan banjir melahap semua yang ditemuinya dalam perjalanan panjang sifat air.

Demikian sinopsis pembangunan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan lingkungan hidup. Harus diakui bahwa kita memang kalah dalam survive sistem dangelan (Baca: Kocak) oleh mental penakluk oligarki. Hingga berujung menadah tangan ke langit meminta ampun padahal mengamini mitologi tanpa telaah secara mendalam maksud dibalik pesan mitos itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.