DARI ARISTOTELES: Belajar Melawan Budidaya Dogma Senioritas

Gambar ilustrasi opini Arif Prasetyo Huzaeri

Oleh: Arif Prasetyo Huzaeri*

AGITASI.ID- Perseteruan Galileo dengan Gereja menjadi cerita populer dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Akibat mempromosikan pemikiran Heliosentris, Galileo Galilei mendapatkan pemeriksaan oleh Inkuisisi Gereja. Kemudian berlanjut dengan vonis bahwa yang berbeda dari pendapat Gereja, termasuk tentang pusat tata surya, dinyatakan bersalah. Oleh karena itu kesalahan tersebut termuat dalam buku yang berjudul Dialogue Concerning the Two Chief World System. Sebagai buku ilmiah maka kesalahan itu bersifat ilmiah.

Peristiwa tersebut menunjukkan nilai kebenaran dari lembaga agama yang tidak bisa ditawar, harga mati. Tidak dibedakan mana yang merupakan tafsir dari para ahli agama, yang merupakan perorangan atau kumpulan dan mana yang merupakan sebuah doktrin wajib, tidak bisa diganggu gugat tanpa mesti peduli matahari akan terbit dari kaki langit yang mana. Mengingat potensi manusia adalah adanya kepemilikan untuk melakukan kesalahan, sebagaimana ia memiliki kemampuan untuk meraih kebenaran. Ini tidak menjadi pertimbangan, lebih-lebih ketika para manusia itu berlindung di belakang tembok bangunan agama.

Berbeda halnya dengan seorang ilmuwan. Apa yang ia pikirkan dan temukan tentang kebenaran ilmiah akan memperoleh falsifikasi, entah pada era dimana ia hidup atau setelah berabad-abad ia wafat. Kurang mewah apa sosok Aristoteles dengan ide-ide briliannya. Gagasannya tentang kosmologi sempat mencengkeram kebudayaan Eropa, hingga abad 17.

Sampai akhirnya, setelah ditemukan pandangan baru mengenai kosmologi yang lebih akurat, lebih valid, sekalipun tetap meletakkan catatan kaki kepada maha filsuf Yunani ini. Maka pikirannya dipandang tidak lebih dari bualan belaka dan telah usang. Mau dibuang pernah keren pada masanya, mau digunakan ada yang lebih canggih. Sehingga mirip-mirip barang antik, sebaiknya diletakkan di ruang tamu. Pada Abad 20, Betrand Russel pernah bilang “Setelah Tuhan menciptakan manusia, Ia menyerahkan kepada Aristoteles untuk mengajarinya berpikir.”

Sosok Aristoteles memang benar-benar antik, tetapi pikirannya yang hidup itu tidak berarti harus diterima tanpa ada penolakan. Tidak mungkin, terus menjelma menjadi wujud keabadian tanpa kenal batas. Pikiran harus menerima untuk dipersalahkan.

Baca Juga :  PLATFORM INSTAGRAM UINKHAS CANTIK BANYAK MUDHARAT, MENDING DIHAPUS

Ketika pandangan Aristoteles tidak lagi digunakan karena kalah saing, tidak ada pandangan yang keluar dari kalangan ilmuwan dan masyarakat untuk menyebut temuan baru saintis yang mampu mengangkangi kebenaran ilmiah dari Aristoteles sebagai bid’ah atau sesat. Dimana telah sama-sama diketahui reputasi kebenarannya, yakni pernah merengkuh dan jadi sumber berabad-abad kebudayaan Eropa bahkan dunia.

Disinilah perbedaan utamanya, dari dimensi lembaga agama dan dimensi ilmiah. Lembaga agama menghasilkan dogma, sedangkan ilmu pengetahuan menghasilkan kemungkinan-kemungkinan. Sekalipun hari itu kemungkinan dari sebuah temuan ilmiah belum terbantah. “Belum” bukan berarti tidak akan menjadi “pernah”. Berbeda dengan lembaga agama, tidak ada mekanisme koreksi atas segala pendapat dan tafsirannya. Lembaga ilmiah mempunyai mekanisme koreksi diri, wajib atau pasti pasti ada. Jika kelak atau mungkin hari ini, didapati lembaga ilmiah–semisal Universitas–menolak untuk dikoreksi pendapat-pendapatnya. Maka perlu dipertanyakan statusnya.

Lantas bagaimana lembaga organisasi dengan seabrek desain kaderisasi serta tradisi senioritasnya. Apakah pedapat senior sama dengan para mufassir yang tak boleh dibantah? Bukankah tidak lebih tepat diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan agar organisasi terus berkembang secara progresif?. Semua senior semestinya mengaktifkan mekanisme koreksi diri. Mengapa demikian? Jelas sekali jawabannya, bahwa ia bukan berasal dari lembaga agama tetapi dari lembaga yang mencari kebenaran berdasarkan pengalaman yang lebih dulu. Yang tertua bisa jadi benar, karena adanya akumulasi banyak pengalaman. Tetapi jangan lupa Aristoteles lebih senior dari Newton, sampai saatnya yang terdahulu juga memiliki masa expirednya sendiri.

Kesadaran semacam ini perlu pula dimiliki oleh para junior. Mereka harus berani menciptakan realitas intersubjektif, yang menyatakan bahwa para suhu pernah keren pada masanya. Tetapi dasar kerennya itu belum tentu bisa digunakan pada hari ini. Anggap saja pada rezim senior anu, punya gawai Blackberry yang dianggap keren. Tetapi kalau sekarang mau meniru menggunakan gawai yang sama, jelas dianggap kolot sekali.

Baca Juga :  REKTOR DISEBUT TOKOH ORGANISASINYA, KADER PMII JEMBER MERADANG

Pikiran Aristoteles saja bisa hari jadi barang antik, yang hampir tertimbun oleh pikiran generasi setelahnya. Lalu, bagaimana dengan senior-senior yang tidak pernah berpikir layaknya Aristoteles ini. Al-Mukarrom Aristoteles punya murid seorang Raja yang nyaris menguasai seluruh daratan dunia, lalu bagaimana kabar senior yang punya junior yang karirnya suram? Maka, setidaknya jangan sekali-kali organisasimu dianggap sebagai representasi lembaga agama yang hanya dihidupi dengan budidaya dogma.

*Alumni Fukultas Adab dan Humaniora UIN KHAS Jember dan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Mumbulsari, Jembe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *