Pesantren dalam Pusaran Framing Media Sesat

Screenshoot cuplikan dari tayangan program Xpose Uncensored Trans7, pada Senin (13/10/2025).

AGITASI.IDJagat maya kembali geger karena framing media yang disajikan kepada publik. Kali ini bukan karena perdebatan teologis atau wacana politik, melainkan tayangan televisi yang menyinggung pesantren dengan narasi sesat.

Stasiun televisi Trans7 milik Chairul Tanjung, dalam program Xpose Uncensored menampilkan cuplikan kegiatan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri pada Senin, 13 Oktober 2025 (Tempo.co).

Bacaan Lainnya

Dalam sekejap, tayangan itu menyulut reaksi amarah netizen, terutama dari kalangan santri dan alumni pesantren di Provinsi Jawa Timur termasuk yang berada di Kabupaten Jember.

Pesantren yang sedari dulu menjadi tempat pencetak moral dan intelektual bangsa, justru digoreng lewat narasi yang menyesatkan penonton.

Media tampak begitu mudah menggiring opini tanpa adanya verifikasi, seolah kejar tayang lebih penting daripada kebenaran sumber informasi. Fenomena ini menjadi tanda tanya besar, apakah media kini lebih setia pada algoritma (mesin pencari) semata daripada nurani?.

Padahal, Pondok Pesantren Lirboyo bukan sekadar institusi pendidikan agama semata. Pesantren ini didirikan oleh KH. Abdul Karim pada tahun 1910  ini telah menorehkan sejarah panjang dalam perjuangan bangsa.

Dari sinilah lahir para ulama dan cendekiawan muslim seperti; KH. Mahrus Aly, KH. Said Aqil Siradj, hingga Ning Imaz Fatimatuz Zahra.

Perlu kita ketahui bersama, dalam peristiwa 10 November 1945, sumbangsih para santri Lirboyo ikut turun ke medan perang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Narasi semacam itu yang seharusnya disampaikan oleh media, bukan dipelintir menjadi stigma sosial.

Sayangnya, kecenderungan media kini lebih sering diarahkan oleh trending topic ketimbang valid topic. Di tengah ledakan informasi digital, banyak narasi berita kehilangan daya kritis karena tunduk pada logika algoritma.

Baca Juga :  JEMBER : KOTA SERIBU GUMUK YANG MULAI REMUK

Akibatnya, yang muncul di depan mata penonton bukan pencerahan, melainkan kebingungan.

Masyarakat dibanjiri opini tanpa dasar, seolah setiap isu yang viral otomatis pantas dan bisa dipercaya. Pada konteks inilah, kasus tayangan tentang pesantren menjadi cerminan, bahwa media telah kehilangan disiplin verifikasi, sehingga publik kehilangan daya seleksi.

Trend isu pesantren berseliweran dalam algoritma pencarian google, bermula saat peristiwa ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, pada Senin (29/09/2025) pekan lalu (Tempo.co).

Bangunan bersejarah yang telah berdiri itu roboh dan menelan korban. Namun, alih-alih berempati dan mendorong refleksi, sebagian media massa justru menjadikan tragedi ini sebagai bahan eksploitasi pemberitaan.

Judul dibuat bombastis, narasi disusun tidak sesuai fakta, dan kembali lagi, pesantren dijadikan kambing hitam.

Padahal, pesantren merupakan laboratorium sosial para santri belajar menjadi manusia  yang berilmu, beradab, dan memiliki jiwa pengabdian.

Namun, sebagian kalangan yang membaca dunia pesantren dengan kacamata modern sering menudingnya feodal dan ketinggalan zaman. Tuduhan itu mengabaikan hakikat pendidikan pesantren yang mana telah menanamkan nilai sosial dan spiritual.

Adanya kegiatan Ro’an (kerja bakti), perilaku ta’dzim (penghormatan pada guru), dan tirakat (latihan spiritual) bukanlah bentuk feodalisme, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang membentuk kepribadian santri.

Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai bukanlah penghambaan. Perbuatan ini merupakan epistemologis dalam Islam yang menegaskan pentingnya ilmu disertai moralitas.

Selama ini media massa gagal memahami konteks ini, sehingga terjebak pada nalar yang dangkal. Logika yang dibangun hanya “upah dan kerja”.

Mengutip penjelasan Pakar Komunikasi Publik UIN KHAS Jember, Dr. Kun Wazis terhadap kontroversi jurnalistik era Revolusi Industri. Ia menyebut fenomena ini sebagai crisis of journalism ethics di era digital.

Baca Juga :  BANJIR ; Antara Mata Air dan Air Mata

Menurutnya, banyak media kini dikendalikan oleh algoritma dan SEO ketimbang nilai-nilai kebenaran. “Kalau semua berita hanya mengikuti apa yang trending, maka media kehilangan fungsi kontrol sosial dan edukatifnya,” ujarnya.

Dirinya menegaskan pentingnya prinsip jurnalistik CCTV: Cek, Cermati, Teliti, Verifikasi. Tanpa prinsip ini, media hanya menjadi produsen konten, bukan penjaga akal sehat publik.

“Sekarang banyak konten yang terlihat nyata, padahal hasil rekayasa digital. Karena itu, setiap jurnalis wajib menerapkan CCTV, bukan hanya 5W+1H,” katanya.

Di tengah gempuran kecerdasan buatan dan derasnya arus disinformasi, prinsip ini menjadi pagar moral yang menentukan masihkah media memegang nurani atau sekadar mengejar sensasi semata.

Pesantren dan media sejatinya memiliki tanggung jawab yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren mendidik melalui nilai dan teladan, sedangkan media melalui informasi yang kredibel.

Oleh karena itu, pesantren yang kehilangan teladan, maka akan menjadi lembaga formal tanpa ruh. Begitupun media yang kehilangan etikanya, maka hanya akan menjadi mesin opini tanpa makna.

Para santri hari ini tidak boleh hanya pandai mengkaji kitab kuning, tetapi harus mampu menulis, meneliti, dan berkontribusi di ruang digital.

Adanya Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober, bukan sekadar euforia seremonial mengenang perjuangan masa lalu, tetapi momentum untuk memperbarui komitmen moral dan intelektual.

Penulis: Ilham Hidayatullah (Waka 3 PAC GP Ansor Tempurejo, dan Kabiro Hubungan Lintas Agama PC PMII Jember 2024-2025).

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *