JEMBER : KOTA SERIBU GUMUK YANG MULAI REMUK

JEMBER, AGITASI.ID – Kabupaten Jember merupakan wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki bentang alam lengkap hal ini dikarenakan terdapat laut, pesisir, pegunungan, dan gumuk. Gumuk merupakan istilah khusus yang diberikan pada suatu bukit dengan ketinggian berkisar antara 1 meter sampai dengan 57,5 meter. Kabupaten Jember memiliki 3 (tiga) jenis gumuk yang berbeda dari jenis batuan yang terkandung yaitu gumuk batu, gumuk batu piring dan gumuk pasir. Formasi gumuk ini memberikan beberapa manfaat bagi lingkungan sekitar mulai dari ekologi, iklim makro, pemecah angin hingga penyumbang oksigen bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Dengan adanya gumuk, temperatur di sekitar gumuk menjadi relatif lebih dingin karena banyaknya jenis tanamanan yang terdapat di gumuk sehingga menurunkan temperatur sekitar kawasan.

Seiring dengan perkembangan zaman, Kab. Jember yang dulunya dikenal dengan Kota seribu gumuk sekarang sudah lagi tidak. Banyak gumuk yang di alih fungsikan ke tambang untuk diambil batu maupun pasir. Di daerah jember gumuknya dikeruk secara terus menerus diambil batu dan pasirnya entah untuk kepentingan pribadi maupun pemerintah. Kita tahu bahwa di Jember sudah Darurat akan dari gumuknya. Banyak manfaat yang dapat kita ambil salah satunya dari gumuk, yaitu Pasir dan Batu. Sebenarnya itu bukanlah suatu manfaat, akan tetapi timbul dampak kerusakan ekosistem. Ketika Gumuk itu masih ada dan berdiri kokoh, bisa menampung air hujan. Jika gumul sudah tidak ada lagi di daerah kita, maka timbullah bencana alam yang setiap tahun kita temui. Salah satu bencana alam yakni angin puting beliung.

Bacaan Lainnya
Baca Juga :  KACAUNYA BUDAYA DEMOKRASI KITA!!! (Budaya Demokrasi, Dengan Kompetisi Yang Beradab Telah Berubah Menjadi Kontestasi Yang Biadab)

Memang banyak orang yang sudah mengetahui manfaat akan adanya gumuk, tetapi kesadaran pemerintah yang nihil. Sekarang banyak gumuk yang sudah hilang entah kemana dibuat apa isi dari gumuk tersebut. Seharusnya pemerintah daerah melarang untuk melakukan tambang disekitar gumuk agar tidak mudah terjadi bencana alam. Banyak Eksploitasi alam yang terjadi di Jember. Ada sekitar 1.955 gumuk yang ada di Jember. Dan juga ada sekitar 1.670 gumuk yang terinvestasikan untuk kepentingan pemerintah daerah. Sisanya 285 gumuk yang tidak diinvestasikan. Kemudian kini yang tersisa hanya sekitar ±600 gumuk. Investasi gumuk yang sangat apik. Investasi gumuk untuk kerusakan ekosistem alam. Seharusnya tugas pemerintah itu melindungi daerah disekitar bukan malah investasi gumuk demi kepentingan yang sangat membosankan.

Setiap tahun gumuk tersebut diambil, ditambang, dikeruk secara terus-menerus, maka akan hilang satu persatu gumuk yang ada di Jember. Memang gumuk yang ada di Jember ini kepemilikannya ada yang pribadi dan juga dari Pemerintah daerah, seharusnya pemerintah daerah menerapkan aturan dalam pertambangan gumuk tersebut agar tidak terjadi pengeksploitasian alam. Kita sering melihat angin puting beliung itu merupakan salah satu dampak dari hilangnya gumuk untuk mengendalikan siklus alam. Sangat tidak elok dipandang mata jika adanya tambang gumuk.

Perlu digarisbawahi Keberadaan gumuk tersebut tersebar di beberapa wilayah kecamatan di kab. Jember, antara lain: Kecamatan Arjasa, Sumbersari, Jelbuk, Arjasa, Kalisat, Sukowono, Pakusari, Ledokombo, Sumberjambe, dan Mayang. Dalam kurun waktu Lima tahun terakhir jumlah penurununan gumuk sekitar 11%, itu disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang begitu cepat dan pengeksploitasian alam. Jika kita berjalan ke daerah Kalisat saja, banyak tempat bekas tambang gumuk. Hal ini yang memicu adanya
Ya memang selayaknya dari Pemerintah daerah Kab. Jember harus memperketat penambangan agar tidak carut marut. Banyak keresahan penduduk sekitar yang dekat dengan tambang gumuk merasa terganggu. Terutama adanya truk pengangkut tersebut. Saya berasumsi bahwa pemandangan tambang gumuk sangat tidak bagus, dan juga merusak ekosistem alam dan menyebabkan bencana alam setiap tahunnya.

Baca Juga :  DARI PADA MATI KELAPARAN, LEBIH BAIK MATI PERANG

Penulis : M.Rafil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *