Tembakau Jember, Dulu Penggerak Ekonomi Petani, Kini Merosot Drastis

Tembakau yang sedang dijemur milik Aliyah, seorang petani di Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Rabu (27/08/2025). Foto: Naufal/Agitasi

Jember, Agitasi.idTembakau di Kabupaten Jember mengalami penurunan harga secara drastis. Tanaman yang dulunya menjadi penggerak roda perokonomian petani di Bumi Pandhalungan itu, kini tak punya daya tawar di mata perusahaan. Selain itu, pengaruh faktor perubahan iklim yang tidak menentu di tahun 2025 diduga jadi salah satu penyebabnya.

Kabupaten Jember erat sekali kaitannya dengan julukan Kota Tembakau. Banyak masyarakat yang berharap dari rupiah hasil panen tembakau. Sebab, tembakau sudah menjadi komoditas utama di pedesaan.

Bacaan Lainnya

“Sesudahnya nanam padi pertama, pasti masyarakat di sini menanam tembakau,” tutur Aliyah, petani tembakau perempuan di  Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember pada Rabu (27/08/2025) siang hari.

Aliyah menanam tembakau sejak sekitar tahun 2016. Tidak hanya warga setempat saja, melainkan masyarakat daerah lain juga turut serta menanam dengan cara menyewa lahan pertanian.

Menurut pengakuan Aliyah, suaminya tidak peduli soal untung dan rugi dalam menanam tembakau, karena baginya sudah menjadi kebiasaan.

“Kalau bapak meskipun untung atau rugi tetep menanam tembakau, kayak sudah menjadi kebiasan,” kata Aliyah saat ditemui Agitasi.

Bukan menjadi rahasia umum lagi. Jika daerah dataran tinggi memang cocok untuk menanam tembakau. Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa beberapa wilayah di Kabupaten Jember sering dijumpai tembakau saat musim tanamnya.

Tidak hanya letak geografis yang strategis tetapi kualitas yang dihasilkan juga berbanding lurus dengan peminatnya. Sebab tembakau Jember sudah dikenal dengan rasanya yang enak.

Baca Juga :  Gus Saif Ungkap Alasan Pendirian Pondok Ashri Jember

“Ya, kualitasnya bagus, itu lagi warnanya cukup cerah,” kata Aliyah.

Tembakau yang ditanam para petani di Kabupaten Jember memiliki dua jenis cara panen, yaitu pertama, ada yang ditusuk dengan sujen kemudian dioven di gudang tembakau dan kedua, dijemur di atas sasag. Tidak ada perbedaan penanaman di antara keduanya, hanya cara memanennya saja yang berbeda.

Tetapi, tembakau di Kabupaten Jember kini harganya menurun. Para petani banyak yang memutar otak, agar harga jual dan produksi tetap mendapat keuntungan, salah satunya dengan cara mengurangi jumlah pekerja (buruh).

“Sekarang ini harga tembakau mencapai Rp 400.000;/Kuintal, atau sekitar Rp 4.000;/Kg. Dengan harga seperti itu kalau dikerjakan berdua sama bapak (suami) masih untung, tapi kalau dikerjakan bareng-bareng ya sedikit (untung) gitu,” tutur Aliyah.

Para pengepul sudah jarang melakukan pengambilan tembakau pada petani lokal di Kabupaten Jember. Begitupun, beberapa gudang tembakau yang berada di daerah setempat sempat tutup. Hal ini diprediksi akan terus berlangsung hingga gudang-gudang tembakau dibuka lagi.

Reporter dan Penulis: M. Ilyas A. Syahroni

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *