Jember, agitasi.id – Pelabelan teroris terhadap organisasi papua merdeka (OPM), memicu pelanggaran HAM yang membabi buta. Mahasiswa Papua di perantauan mengalami perubahan pandangan di masyarakat umum. Di antaranya, terpasangnya sepuluh spanduk dan poster bertuliskan “Mahasiswa Papua/AMP adalah teroris,” serta ujaran teror terhadap Mahasiswa Universitas Jember bernama Neki Y. Pelanggaran HAM ini terus terjadi dalam berbagai bentuk, yang paling jahat: penyiksaan, pemerkosaan, diskriminasi, penyingkiran, pembunuhan, penghilangan paksa, penangkapan sewenang-wenang, intimidasi, pengawasan, dan pengancaman, serta penutupan ruang demokrasi yang parah dan masih banyak lagi.

Atas alasan tersebut, pada tanggal 20 Mei kemarin, bertepat pada hari kebangkitan nasional, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK Jember, turun ke jalan melakukan aksi demonstran, tepatnya di depan Polres Jember. Menyuarakan aspirasinya yang berisi tentang 21 tuntutan, salah satunya adalah stop rasis terhadap mahasiswa Papua dan rakyat West Papua . Dalam aksinya  terlihat sebuah spanduk besar bertuliskan “Bebaskan seluruh tapol Papua, kawan-kawan pro-demokrasi dan berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis,” disambung dengan poster-poster kecil di belakangnya berisi foto tapol Papua, korban kekerasan serta coretan tinta berisi “cabut label teroris terhadap OPM,” adapun aktivis papua yang ditangkap ialah Victor F Yeimo, Ronald Levi, Dan Kevin Wolama.

Para mahasiswa Papua secara bergantian melakukan orasi. Dalam isi orasinya yang disimpulkan oleh tim agitasi.id adalah, adanya manipulasi sejarah terhadap bangsa West Papua, bahwa sejak 1 Desember 1961, bangsa West Papua melahirkan embrio negara West Papua (Nieuw Guinea), kemudian dicaplokkan secara sepihak oleh Sukarno melalui kekuatan militer.

“Manipulasi terhadap sejarah papua yang mana ada beberapa kesalahan terhadap peristiwa penting Papua ini juga termasuk melanggar hukum internasional. Kami juga menolak melanjutkan OTSUS JILID II, karna kami rakyat Papua tidak merasakan  hasil dari pada itu. Gerakan aksi damai ini terintegritas di seluruh Indonesia dengan tuntutan yang sama,” ujar Markus Gobai, salah satu aksi tersebut.

Aliansi mahasiswa Papua Jember juga meminta pemerintah segera menarik seluruh militer organik dan non organik dari Intan Jaya, Nduga, Puncak Jaya, Puncak Papua dan seluruh teritori West Papua.

Aksi tersebut berjalan secara kondusif, dan diakhiri dengan damai tanpa ricuh sedikitpun. Aparat kepolisian juga turut serta menemui para aksi. Selain itu, penjagaan ketat oleh pihak aparat gabungan kepolisian dengan pemasangan kawat berduri yang mengelilingi polres Jember. Penutupan arus lalu lintas pada pukul 09.00 WIB menuju polres Jember juga diberlakukan karena adanya aksi tersebut. (*)

Pewarta : Aldy dan Binti Novitasri

Editor : Erisha Njawa Himaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.