agitasi.id – Ada masanya kita yang dipimpin, Ada masanya kita yang memimpin! Kalimat ini banyak diucapkan oleh seseorang dalam banyak kesempatan pidato atau sambutannya, apalagi didalam organisasi yang memang salah satu orientasinya adalah menjadikan anggotanya sebagai pemimpin. Atau minimal memiliki skiil kepemimpinan. Tetapi hal ini juga bisa dijadikan sebagai refleksi bagi para organisatoris, apakah benar kita semua harus memaksakan kehendak untuk menjadi pemimpin? Berbicara tentang pemimpin, pasti semua orang ingin menjadi pemimpin. Karena dalam mindset masyarakat kita masih tertanam bahwa pemimpin adalah mereka yang mempunyai otoritas dalam memerintah siapa saja, melakukan apa saja dan disegani banyak orang. Selain itu dari pengalaman empirik juga ternyata masih banyak orang yang berhasrat untuk menjadi pemimpin. Mereka menganggap bahwa akan banyak benefit yang diperoleh melalui kedudukan sebagai pemimpin. Sungguh kacau kan mindset semacam ini, sehingga tidak usah kaget juga jika muncul pemimpin yang berlaku otoriter dan menganggap yang dipimpimnya sebagai tempat eksploitasi. Dampak dari mindset semacam itu bisa kita lihat juga dari kondisi sosiologis saat ini. Hampir setiap kontestasi perebutan kursi kepemimpinan selalu menjadi ajang bergengsi. Mulai dari Presiden Negara, sampai Presiden Mahasiswa, Mulai dari Ketua Lembaga Negara, sampai Ketua lembaga Organisasi pun tidak luput dari manuver politik perebutan estafet kepemimpinan. Naifnya juga tidak pandang tingkatan, mulai dari tingkatan tertinggi (Pusat) sampai tingkat terendah (apa ya Istilahnya? ranting/rayon mungkin, penulis kurang tau). Tentu kondisi sosiologis yang demikian ini juga mempunya nilai plus dan minus, sehingga sudah sepatutnya hal ini kita terima sebagai keniscayaan. Tetapi yang menjadi evaluasi kita adalah, output daripada kontestasi perebutan kepemimpinan yang begitu tegang dan menghabiskan banyak hal ini apakah sudah sesuai dengan yang kita inginkan? Apakah sudah menghasilkan sosok pemimpin yang berkualitas dan memiliki kecakapan serta kelebihan dalam memimpin? Terkhusus didalam organisasi yang menjadi tempat pelatihan pemimpin masa depan tersebut. Kepemimpinan telah didefinisikan dalam banyak hal berdasarkan perspektif berbeda yang meneliti variabel seperti sifat pemimpin yang efektif, gaya kepemimpinan, konsep dan penggunaan otoritas, kemungkinan pribadi dan lingkungan, serta model dan teori kepemimpinan. Salah satu teori kepemimpinan yang mashsyhur dikhazanah intelektual Islam adalah Teori kepemimpinan Al-Mawardi. Pengertian kepemimpinan dibahas secara detail oleh AI Mawardi dengan menempatkan manusia sebagai pengemban amanat khalifatullah fil ardh, melalui mekanisme yang mengkerucut pada terpilihnya salah satu dari mereka sebagai pemimpin yang, dipatuhi dan ditaati dalam meraih cita-cita hidup di dunia maupun di akhirat. Untuk itu meletakkan kriteria pemimpin menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar, demi proses seleksi yang akurat sehingga kemudian dapat menggadang sosok pemimpin yang tepat sesuai idaman bersama. Lebih dari itu Al-Mawardi melengkapi buah pikirannya dengan memaparkan seni memimpin yang membutuhkan kelihaian tersendiri, dimana mengatur orang banyak yang memiliki pola berpikir dan keinginan yang berbeda merupakan pekerjaan yang tidak sederhana, namun sang pemimpin harus mampu menggalangnya menjadi sebuah kesatuan visi dan misi demi tercapainya cita-cita bersama. Dari teori yang dikemukakan oleh Al-mawardi tersebut ada beberapa prinsip Pokok yang harus dimiliki bahkan dijaga oleh seorang Pemimpin, yakni seni memimpin. Erat kaitannya dengan kemampuan pemimpin dalam menggalang atau mengakomodir perbedaan keinginan dan pemikiran dalam kesatuan visi dan misi sehingga terwujudlah cita-cita bersama dan juga masih mampu untuk melebur ego pribadinya demi kepentingan bersama. Maka dengan pencermatan teori Al-mawardi diatas minimal kita mampu menganalisa serta melihat, bagaiamana pemimpin kita hari ini? Masihkah ia berada di prinsip-prinsip kepemimpinan yang ideal? punya kah ia seni memimpin? Mampukah ia menggalang seluruh fikiran dan kepentingan kita bersama untuk dijadikan visi dan misinya? Masihkah ia layak tetap memimpin kita? Berangkat dari pertanyaan itu kita bisa mengevalusi kondisi sosiologis kita yang semakin hari semakin kacau ini. Jika keterbatasan instrumen dalam menganalisa yang tingkatannya tinggi, cobalah menganalisa yang tingkatannya paling rendah. inilah yang dinamakan kepedulian berbasis vertical dan horizontal, karena ini bisa menjadi angin segar bagi anggota yang dipimpin. Serta menjadi tamparan bagi pemimpin yang tidak ideal, karena sesuai dengan kata banyak orang, leadership is Action, Not Position!

Penulis : Widya Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.