Bertemu Samanera: Titipan Pesan di Balik Tema TRISUCI Waisak 2570 Umat Buddha

Suasana malam persiapan TRISUCI Waisak 2570 di Vihara Dhamma Metta Jember
Suasana malam persiapan TRISUCI Waisak 2570 di Vihara Dhamma Metta Jember

AGITASI.ID, JEMBER- Aroma dupa perlahan memenuhi  ruang utama Vihara Dhamma Metta Jember pada Sabtu, 30 Mei 2026. Di tengah persiapan itu, tersimpan pesan sederhana yang disampaikan oleh Samanera  Punya Karo (calon Bhikkhu) di Vihara Dhamma Metta Jember, pesan  di Balik Tema TRISUCI Waisak 2570 tentang keseimbangan hidup, kepedulian sosial, dan pentingnya menjaga keharmonisan di era digital.

Tema nasional perayaan tahun ini, “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”, yang sekaligus menandai 50 tahun berdirinya Sangha Theravada Indonesia. 

Bacaan Lainnya

Trisuci Waisak sendiri memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddhattha pada 623 SM, pencapaian Pencerahan Sempurna pada usia 35 tahun di tahun 588 SM, serta Mahaparinibbana atau wafatnya Sang Buddha pada usia 80 tahun di tahun 543 SM.

Bagi Samanera Punya Karo, makna Jalan Mulia yang diangkat dalam tema tahun ini tidak sekadar berbicara tentang kehidupan rohani.

“Tema ini mengajarkan umat untuk tidak hidup dalam dua jalan ekstrem, yaitu terlalu mengejar kesenangan duniawi ataupun menyiksa diri sendiri. Jalan Mulia mengajarkan keseimbangan, mengembangkan kebijaksanaan batin sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama,” ujarnya saat ditemui Agitasi, Sabtu (30\05\2026).

Ia menjelaskan bahwa pandangan benar menjadi landasan penting dalam kehidupan umat Buddha. Kesadaran bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri mendorong lahirnya sikap welas asih, kepedulian, dan semangat untuk membantu sesama tanpa memandang perbedaan.

Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan melalui khotbah atau peribadatan, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai kegiatan sosial yang rutin dilaksanakan Vihara Dhamma Metta. Salah satunya melalui bakti sosial yang terbuka bagi seluruh masyarakat, tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang..

Baca Juga :  REKTOR DISEBUT TOKOH ORGANISASINYA, KADER PMII JEMBER MERADANG

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata pengamalan ajaran Buddha tentang kasih sayang dan kemanusiaan. Bantuan diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.

Menjelang Waisak, pengurus vihara juga mengingatkan umat untuk menjaga perilaku dan ucapan, termasuk dalam penggunaan media sosial. Di era digital, setiap unggahan memiliki dampak yang luas sehingga perlu disertai sikap bijaksana dan pertimbangan yang matang.

Ia menekankan bahwa pesan yang disebarkan melalui media sosial seharusnya mampu membangun keharmonisan, bukan justru memicu konflik atau perpecahan akibat informasi yang belum tentu benar.

Untuk memastikan seluruh umat memperoleh informasi mengenai rangkaian perayaan Waisak, pengurus memanfaatkan grup komunikasi khusus. Melalui media tersebut, jadwal dan berbagai kegiatan ibadah disampaikan secara berkala agar umat dapat mengikuti seluruh rangkaian perayaan bersama-sama.

Suasana kebersamaan juga terlihat dari kehidupan masyarakat di sekitar Vihara Dhamma Metta. Lingkungan yang dihuni oleh pemeluk berbagai agama, seperti Islam, Kristen, dan Buddha, selama ini dikenal hidup rukun dan saling menghormati, menciptakan suasana toleransi yang sangat kental.

Kontributor: Ridlo Syukron Fatahillah

Editor: Nadila Sania Sulistia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *