Jember, agitasi.id – Setelah viral opini tentang Cabul, antara  Amoral dan “hitam putih” kehidupan. Yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini menuai banyak kontroversi, akhirnya UPM Millenium IAIN Jember, menyelenggarakan diskusi publik pada Kamis (22/4) secara virtual yakni membahas tentang hal itu dengan mendatangkan beberapa narasumber. Salah satunya adalah Dr.Miftahul Ulum. M.Si,M.Sy.M.H yang mengirim tulisan di kolom opini Radar Jember, Pada (17/4) yang lalu.

Tentu saja yang menjadi sorotan publik dan ditunggu-tunggu audiens dalam diskusi ini adalah penyampaian dari penulis opini. Sebab, para audience nampaknya sangat ingin tahu apa maksud dari isi opini tersebut. Panggil saja Bapak Ulum. Sebab diksi-diksi pada tulisannya itu sangat kontroversial dan mengejutkan, seakan-akan apa yang dilakukan oleh pelaku pencabulan itu suatu yang bisa dimaklumi, penulis dalam tulisan tersebut menganggap tidak memperhatikan keadaan si korban pencabulan yang masih di bawah umur.

Dan Yang paling mengejutkan lagi, pada saat Bapak Ulum dipersilahkan untuk menyampaikan argumennya, dia malah mengeles dengan alasan tidak boleh berbicara terlalu dalam perkara aib seseorang. “Mohon maaf, sebelum ini saya sudah di telepon oleh orang tua saya. Beliau berpesan agar saya tidak lagi membahas aib orang lain,” tuturnya sesaat setelah dia mengucap salam pembukaan. “Jika rekan-rekan meminta saya untuk mencabut tulisan saya di Radar Jember, maka saya akan siap membuat surat pernyataan. Sekali lagi mohon maaf agar tidak terlalu panjang membicarakan aib orang lain karena ini bulan ramadhan,” lanjutnya. Tak hanya itu, dia juga beralasan bahwa pada hari itu dia sedang ada jadwal mengajar mahasiswa, dan mengatakan permintaan maaf serta izin left dari zoom meeting, lebih dulu.

Tentu saja audience langsung geger akibat ulah dosen penulis opini kontroversi itu. Sudah beberapa kali oleh pemateri lain dan moderator ditegaskan bahwa ini adalah diskusi saja, bukan ajang memojokkan atau menyalah-nyalahkan. Tapi dia tetap mengelak dan tetap meninggalkan zoom meeting. Cuitan audience tetap berlanjut karena geram dengan tingkahnya yang tidak menunjukkan seorang akademisi bergelar doktor ; profesional dan berwibawa. Untung saja ada pemateri lain seperti kak Trisnadya yang menunjukan beberapa kesalahan diksi dan analisanya, sehingga diskusi publik tetap berjalan meski tanpa guess star.

Dari perilaku dosen penulis opini tersebut kita tahu, bahwa gelar tinggi tidak selamanya menjamin adab dan pemikiran kita.

Pewarta : Widya Rahmawati

Editor : Ach Chotib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.