Jember, agitasi.id – Hampir di tiap diskusi, sering saya dengar pertanyaan yang berulang-ulang dilemparkan, terkoar dalam salah satu diksi  “Peran mahasiswa apa?”.  Diksi ini menjadi panas Sehingga muncullah peran-peran mahasiswa di setiap lini, tergantung ruang lingkup. Kini banyak adagium, mulai dari adagium Peran mahasiswa di era 4.0, peran mahasiswa di zaman post-truth, peran mahasiswa di alam barzakh. Peran mahasiswa, dalam imajinasi kebanyakan orang, nyaris seperti Tuhan. Begitulah salah satunya.

Di kampus, saya percaya mahasiswa adalah kelas yang memiliki potensi membawa perubahan radikal. Masalah Birokrasi tidak diragukan lagi, Ia memiliki segala akses dan akan selalu memilih menjaga stabilitas dibanding transformasi ke arah kebaikan bersama. Maka pihak yang kedua berada di rantai makanan paling aman, sementara pihak pertama seringkali hanya jadi “tikus sawah”.

Sementara itu, para penghuni luar universitas, “masyarakat awam” umumnya percaya bahwa kampus adalah tempat produksi pengetahuan. Selain didalamnya berisi orang berpendidikan, juga terdapat orang-orang yang sering muncul dengan kisah inspiratif.

Di bagian lain, beberapa dari warga kampus dengan ekonomi merangkak lazim memeras keringat untuk membiayai kuliah, sebagiannya mengajar tak kenal waktu meski mahasiswa nya bolos demo, sisanya, populasi paling kecil, punya prestasi gemilang di kancah keilmuan dan politik akademik. Cerita itu nyata, tapi tak seindah yang diketahui khalayak.

“Ada yang menjadi politikus sejak muda,” kata seorang kawan. “Lalu meraup omzet di atas rata-rata dari anggaran acara acara besar di kampus. Sekali main ke sini dia bawa rokok dua bungkus,” Mereka adalah mahasiswa yang menjadi penderma setelah menaiki tampuk kekuasaan. Tapi ongkos politiknya ternyata cukup mahal.

Setiap satu priode, terjadilah perubahan estafet kepemimpinan, dilakukanlah kegiatan yang sesuai dengan badan tersebut. Ada yang mensukseskan ada pula yang menjadi cacing dalam lapangan. Sebut saja, Preman-Preman Pemira.

Ian Wilson, dalam bukunya yang berjudul Politik Jatah Preman, berkata bahwa preman punya peran yang kuat dalam kontestasi politik. Sejak Orde Baru, preman berbaju ormas atau paramiliter dipakai untuk menjaga status-quo Suharto. Reformasi pecah, lantas paramiliter menjadi preman freelance. Paramiliter tak menjauh dari politik, tapi kini ia bisa diperalat siapa saja yang mau jadi pejabat lewat jalur baku hantam.

Itulah salah satu dari sekian banyak kebobrokan politik nasional. Hal-hal lain ialah politik uang, parpol tanpa nilai ideologis dan semacamnya. Seakan demokrasi hanya berbicara tentang perebutan kekuasaan. Yang tak memegang kendali pemerintah dalam hal ini rakyat biasa, ia tidak perlu bertitah apa-apa. “Seolah-olah demokrasi,” Bisa jadi begitu anggapannya.

Sementara itu, saya melihat “demokrasi” skala kampus yang tak jauh berbeda dengan nasional. Keduanya seperti ayah dan anak. Betul memang kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bila Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (PEMIRA), memang cerminan Pemilihan Umum (PEMILU), maka budaya premanisme yang tetap dijaga pasca reformasi mungkin lahir dari rahim politik kampus pula.

Ini sekadar dugaan. Meskipun penggunaan preman memang tidak begitu mewujud di kampus, tapi tetap ada geng dalam PEMIRA nyatanya gembira mengintimidasi, melakukan kekerasan fisik, verbal maupun simbolik satu sama lain.

Beberapa hari sebelum pemilihan calon presiden mahasiswa, ada ribut-ribut terkait sistem yang di inisiasi oleh penyelenggara PEMIRA, penolakan adanya PEMIRA, dengan berbagai alasan yang menurut saya tidak substansial sama sekali.

Saya kira penolakan seperti itu receh dan sama sekali tidak mendidik. Ramai-ramai buat akun media yang isinya hanya teror dengan tujuan kepentingan satu geng. Ditambah lagi share-share flayer teror tidak penting seperti teriakan takbir sumbang yang saling beradu lewat toa-toa. Orang-orang itu sedang apa? Pikir saya dan beberapa kawan. Dari tahun kemaren sampai sekarang selalu bermain kotor lewat terowongan kepentingan.

Ditambah tahun lalu saya melihat segerombolan orang (geng) berpakaian necis klimis berjalan dengan gelak tawa bersenang ria sambil menyembul asap rokok dengan enaknya. Pada saat itu geng tersebut masih berkuasa, dan berhasil mengelabuhi mengelabuhi beribu-ribu mahasiswa.

Mungkin kita bisa bernapas lega karena kekerasan dan premanisme kampus kini tidak semengerikan dulu. Senior-seniornya pun mungkin akan tertawa kecut sambil berkata, “kita dulu lebih ekstrem daripada itu, Bung!”

Namun, konflik yang di lakukan geng itu tetap terjaga. Teror yang dilakukan geng itu akan terus dicatat oleh beribu-ribu mahasiswa. Dan geng peneror itu juga akan terus menjaga kekuasaan dengan intimidasi, sehalus apapun caranya. Keadaan perpolitikan kampus pun tidak akan berubah sampai seluruh civitas akademika mati keracunan tempe bongkrek dan tahu kastol.

Kembali ke soal kelas yang saya sampaikan di awal tulisan. Saya percaya mahasiswa adalah kelas yang punya potensi perubahan radikal di kampus. Tapi, konflik ini tak berbuah apa-apa. Hanya membuat status-quo aman dan nyaman. Saya tidak mengatakan kalian mesti bersatu. Itu adalah pilihan paling naif.

Dalam kontestasi Pemira, ada baiknya setiap pihak dari geng itu mulai berpikir tentang nilai dan falsafah politik. Untuk apa berpolitik? Untuk apa berkuasa?

Kalau itu tidak dipikirkan, saya takut konflik PEMIRA begitu-begitu saja. Semua peserta pemira hanya bisa menanam dan menjaga kebencian. Itu terjadi karena ketidakpuasan suatu geng. Sebab, yang dipikirkan hanya perebutan kekuasaan. Lalu premanisme politik akan dibawa hingga skala nasional nanti. Sementara itu, kita semua tahu, Pemira fana belaka, yang ada Dendam abadi.

Pada dasarnya Pemira ini adalah wadah ide revolusioner. Karena, Menduduki tampuk pemerintahan, dalam hal ini, sama seperti memegang palu sementara problematika kemahasiswaan adalah paku, memiliki kekuasaan besar ditangan pemimpin, membikin semuanya tampak seperti paku yang minta ditancap, atau undangan untuk ikut campur.

Juga yang dibutuhkan adalah komune progresif, yang setidaknya itu sama dengan apa yang di maksud Lenin dalam pernyataan What is to be done  Bahwa perjuangan bersandar pada kekuatan massa dan organisasi.

Spontanitas. Lenin menyebutnya ekonomisme, perlawanan tanpa pengorganisiran dan lebih peduli dengan persoalan sekarang dibandingkan politik dan ideologi. Artinya, bergerak begitu saja, yang penting tujuan terdekat tercapai, persis seperti geng yang dari tahun kemaren menyesaki dalam kontestasi Pemira IAIN Jember. Perjuangan macam itu, kata Lenin: ’Lebih banyak merupakan bentuk putus asa dan balas dendam daripada perjuangan’.

Perlu kiranya para geng yang selalu menyesaki Kontestasi Pemira belajar lagi tentang Student Goverment, karena itu merupakan posisi penting dalam kampus. Setidaknya tidak bodoh-bodoh amat jika menjadi preman politik.

Bagi semua Mahasiswa perlu diketahui bahwa, Sebuah kezaliman jika kita diam dan membiarkan bangku parlementarian Kampus disesaki orang-orang lalim. Ingat ! “Yang dibutuhkan adalah Komune Progresif!” Kecamkan itu….!

 

Penulis : Ilyas ahmed, Adalah Mahasiswa Yang Tinggal Di semesta Tuhan.*

Penyunting : Sayyidatul Qohwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.