Di Taswirul Afkar PC Ansor Jember! Savic Ali: Revolusi Pakai Bendera NU, Sulit

Gambar Di Taswirul Afkar PC Ansor Jember! Savic Ali: Revolusi Pakai Bendera NU Sulit (Sumber: Istimewa)

AGITASI.ID – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Jember sukses menyelenggarakan acara Malam Taswirul Afkar yang bertempat di Aula Universitas Islam Jember,04/11.

Forum diskusi ini menjadi ruang refleksi pergerakan, di mana Savic Ali hadir membagikan pandangannya terkait tantangan perjuangan idealisme, demokrasi, dan sejarah gerakan kultural Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam pemaparannya, Savic menyoroti besarnya tantangan dan konsekuensi dalam mempertahankan idealisme di tengah dinamika saat ini.

“Memperjuangkan sesuatu yang ideal, beresiko”, ungkapnya di hadapan para peserta.

Ia juga mengkritisi sulitnya menitipkan gagasan-gagasan murni melalui jalur politik praktis.

“Orang yang kita kenal di Partai, susah dititipin sesuatu yang ideal, cukup beresiko”, ungkapnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya figur-figur yang tangguh untuk menegakkan nilai-nilai kebangsaan.

“Kalau kita memperjungkan demokrasi, kita perlu mencari orang yang berani mengambil resiko”, tandasnya.

Savic kemudian mengingatkan kembali pada sejarah keberanian para muassis (pendiri) NU dalam menghadapi tantangan di masa lalu.

“Mbah Wahab, Mbah Hasyim berani mengambil resiko”, ujarnya.

Untuk meneruskan jejak keberanian tersebut di era modern, ia mengajak seluruh elemen untuk merapatkan barisan.

“Kita mesti menkonsilidir civil society yang memiliki kesadaran sama”, katanya.

Terkait dengan strategi pergerakan dan konsolidasi masyarakat sipil, Savic memberikan catatan penting. Menurutnya, jika sebuah perjuangan revolusioner atau pergerakan sipil hanya memakai bendera NU, hal itu cenderung sulit dilakukan.

Hal ini tidak terlepas dari realitas akar sosiologis dan demografis dari NU itu sendiri.

“NU Sunni Jawa,” tegasnya.

Sejarah membuktikan bahwa fleksibilitas gerakan tanpa terikat simbol kelembagaan justru membuahkan hasil yang masif. Pada zaman kolonial, gerakan NU jarang menggunakan bendera organisasi secara formal.

“Anak-anak kiai memilih gerakan revolusioner. Mereka tidak dilarang. Mereka memakai bendera Hizbullah dan Sabilillah”, ungkapnya.

Baca Juga :  Nadiem Tetapkan Pramuka Tidak Lagi Wajib Jadi Ekskul, Akbar Faizal Protes

Strategi peleburan tanpa atribut kelembagaan ini juga kembali terulang pada momentum reformasi 1998 saat peruntuhan rezim Orde Baru.

Elemen-elemen muda NU ikut bergerak meruntuhkan otoritarianisme tanpa membawa panji-panji organisasi.

“Tidak ada bendera NU, Ansor, bahkan hampir tidak ditemukan bendera PMII”, ungkapnya mengakhiri penjelasan. (MI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *