Martir Kritik dari Pesantren, Gus Saif Menolak Tua dan Bungkam

AGITASI.ID- Membicarakan sosok kiai di lingkaran kultur pesantren, khususnya di wilayah Tapal Kuda, biasanya akan menggiring imajinasi kita pada satu prototipe yang seragam. Bayangkan seorang figur berwibawa, bersorban, duduk di kursi kebesaran, menerima tamu yang datang bergantian untuk mencium tangan, lalu memberikan wejangan yang berpusat pada urusan surga, neraka, fadhilah ibadah, atau sekadar membagikan air doa dalam kemasan botol air mineral. Konstruksi sosial telah meletakkan kiai sebagai sosok sakral. Mereka adalah wakil Tuhan di bumi yang tugasnya menjaga moralitas umat lewat pengajian kitab kuning dan wirid malam.

Prototipe ini berbeda dengan KH. M. Ayyub Saiful Ridjal As. Segala ekspektasi standar tentang kiai pada kebiasaan umumnya rontok seketika saat bertemu keturunan KH. Chalim Shiddiq ini. Sosok yang akrab disapa Gus Saif ini, adalah anomali yang menyenangkan sekaligus menampar nalar mapan.

Bacaan Lainnya

Beliau memiliki gagasan, langkah, dan rekam jejak yang terasa wagu jika diukur memakai kacamata elitisme kiai zaman sekarang. Alih-alih duduk manis menanti setoran penghormatan dari santri dan masyarakat, beliau justru tampil layaknya seorang martir kritik bagi pemerintah, sekaligus aktor pengayom yang tangannya kotor bergelimang urusan akar rumput.

Usianya sudah menginjak 71 tahun. Secara biologis, raga itu pasti telah merekam banyak kelelahan. Kulitnya jelas sudah tidak segar lagi, ditandai dengan kerutan yang memetakan asam garam kehidupan. Hampir seluruh rambut, bahkan alisnya, sudah memutih sempurna. Pada titik usia ini, kebanyakan kiai sepuh akan memilih berdiam di mihrab, memperbanyak ibadah sunnah, dan menanti panggilan Sang Khalik dengan tenang. Gus Saif memilih jalan sunyi yang berkebalikan. Semangatnya menyala-nyala, menolak tunduk pada usia.

Keunikan paling mencolok dari beliau adalah penolakannya terhadap gelar “Kiai”. Dalam tradisi pesantren, gelar kiai adalah puncak pencapaian status sosial yang diidam-idamkan, sebuah legitimasi keilmuan dan karisma. Gus Saif justru emoh dipanggil demikian. Beliau bersikukuh meminta masyarakat memanggilnya “Gus” saja. Alasannya sangat sederhana namun cukup kritis, “biar tidak pernah dirasa dan merasa tua”, katanya.

Merasa terus muda, di mata Gus Saif, bukanlah bentuk penyangkalan psikologis atau krisis identitas masa tua, tapi sebagai kesadaran untuk pernah lemah. Kesadaran ini mutlak diperlukan untuk merawat stamina agar terus bermanfaat dan berinovasi bagi masyarakat. Ketika seseorang merasa sudah kiai dan sudah tua, ada kecenderungan untuk merasa “selesai” dengan urusan duniawi, lalu membatasi ruang gerak pada hal-hal yang berbau langit. Kebanyakan lupa pada tugas kekhalifahan. Beliau jarang meributkan kualitas ibadah vertikal masyarakat. Baginya, indikator mutlak seorang muslim yang baik adalah mereka yang setiap hari kepalanya mendidih memikirkan cara untuk menebar manfaat pada sesama manusia.

Masuklah ke ruang tamunya, Anda akan kembali menemukan dekonstruksi budaya yang jenaka. Ruang tamu kiai umumnya dihiasi rak berisi jajaran kitab kuning, kaligrafi mentereng, tasbih raksasa, atau setidaknya tumpukan buku agama yang memberi kesan intelektual nan sakral. Di ruang tamu Gus Saif, pemandangan itu digantikan oleh sebuah kotak yang selalu tersedia. Isinya ternyata tumpukan stiker.

Baca Juga :  Widji Thukul: Aktivis HAM yang Melawan dengan Sastra

Setiap tamu yang datang membawa rupa-rupa masalah mulai dari problem utang, keluarga, hingga urusan eksistensial akan diajak berbincang santai. Di sela-sela obrolan itulah beliau menyelipkan stiker-stiker tersebut. Pendekatan dakwah yang sangat pop-culture. Isi stiker itu beraneka ragam. Ada yang memuat kredo atau nasihat para ulama tentang cara berbangsa dan beragama yang waras. Ada pula yang berisi doa-doa krusial yang menurut beliau wajib dipahami oleh umat Muslim, tanpa harus terjebak pada ritual yang memberatkan. Stiker ini dibawa pulang, ditempel di pintu, kaca jendela, atau lemari, menjadi pengingat harian yang bekerja lebih efektif daripada pidato dua jam di atas mimbar.

Wacana dan pengetahuan kritis yang mengudara di ruang tamunya sangat jauh dari kesan normatif. Jika tamu kiai biasanya bertanya soal hukum fikih wudu yang batal karena bersentuhan atau hukum tahlilan, tamu Gus Saif sering kali diajak membedah anatomi ketidakadilan sosial. Salah satu diskursus favorit yang kerap meledak di ruang tamunya adalah konflik agraria.

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqi Puteri (Ashri), beliau tentu sibuk membimbing ratusan santriwati. Di luar urusan kurikulum pesantren, mata batinnya terus menyoroti ketimpangan struktural. Gus Saif memandang bahwa akar kemiskinan dan penderitaan masyarakat hari ini bermuara pada persoalan pengelolaan tanah negara yang orientasinya gelap. Beliau secara spesifik menyoroti operasional PTP (PT Perkebunan Nusantara) di Jember yang dinilai kurang transparan. Kebijakan-kebijakan yang lahir kerap kali melenceng dari semangat menyejahterakan rakyat, malah meminggirkan masyarakat lokal. Dalam kacamata Gus Saif, tata kelola yang macet dan menyalahi aturan ini wajib ditinjau ulang, dibongkar, lalu dikembalikan pada khitahnya.

Sikap kritis ini bahkan dituntaskan hingga ke jalanan. Di saat banyak kiai lebih suka bermain aman, menerima kunjungan pejabat menjelang pilkada, atau menjadi stempel kebijakan pemerintah demi dana hibah, Gus Saif mengambil posisi berbeda. Beliau dengan entengnya melebur bersama massa, berpanas-panasan, turun ke jalan terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi. Sangat epik membayangkan seorang pria 71 tahun, berambut putih, berdiri di barisan depan menyuarakan ketimpangan Undang-Undang Agraria. Beliau sadar betul bahwa doa di atas sajadah harus dibarengi dengan teriakan di depan kantor pemerintahan agar keadilan tidak sekadar menjadi teks mati di dalam kitab-kitab suci.

Rekam jejak pemikiran liarnya ini selalu bermuara pada kontribusi nyata. Sasaran tembak utamanya adalah kelompok rentan dan kaum lanjut usia. Logika filantropi masyarakat umum biasanya berjalan searah yakni kita yang kuat menolong kaum mustada’afin karena mereka miskin, lemah, dan sangat membutuhkan bantuan kita. Ada arogansi terselubung dalam cara pandang ini. Gus Saif memutarbalikkan logika tersebut 180 derajat. Beliau mengajarkan bahwa kitalah yang sebenarnya cacat, miskin makna, dan sangat membutuhkan mereka. Pelayanan terhadap kelompok rentan adalah cara kita memanusiakan diri sendiri. Keberadaan mereka adalah jalan tol bagi kita untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Baca Juga :  HAM DI ATAS SEGALANYA: Quo Vadis Sepakbola Indonesia?

Fondasi teologis dari sikap radikalnya ini berpijak pada sebuah hadis, Innama tunshoruna wa turhamuna wa turzaquna bidlu’afaikum (“Kalian ditolong, disayangi, dan diberi rezeki oleh Allah SWT, tidak lain karena sebab membela orang-orang lemah di antara kalian”). Dalil ini membatalkan seluruh argumen kesombongan kelas menengah atas. Kelompok lemah bukanlah objek eksploitasi pahala, melainkan subjek yang menopang keseimbangan spiritual alam semesta.

Manifestasi dari gagasan tersebut mewujud dalam bentuk Rumah Indah Sehat (RIS) yang didirikan di Baratan Wetan, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Lewat instrumen ini, Gus Saif merajut ekosistem pelayanan medis dan pendidikan alternatif bagi kaum papa. Saat ini, beliau bahkan sedang merumuskan kurikulum Pendidikan Orang Usia Lanjut (POUL). Tentu, usahanya ini adalah tamparan bagi sistem pendidikan kita yang selalu berorientasi pada usia produktif untuk mencetak robot-robot pekerja. Gus Saif melihat bahwa para sepuh ini butuh ruang aktualisasi, butuh diedukasi agar masa tuanya berdaya, tidak merasa dibuang oleh keluarganya sendiri.

Gebrakan lain yang tak kalah mengagumkan adalah kepeduliannya pada isu perempuan. Di tengah budaya patriarki yang sering kali mengakar kuat dalam doktrin tradisional, Gus Saif justru tampil sebagai feminis berpeci. Beliau menginisiasi LKP2I (Lembaga Kepedulian Pemberdayaan Perempuan Independen). Target audiens dari program ini sangat spesifik dan sangat rentan: para janda.

Selama puluhan tahun, masyarakat kita memelihara stigma negatif terhadap status janda. Mereka kerap dijadikan objek pergunjingan, dipandang sebelah mata, bahkan dianggap ancaman sosial. Gus Saif memberangus stigma itu lewat ranah bahasa dan ranah ekonomi sekaligus. Beliau mengganti nomenklatur “janda” menjadi “Perempuan Independen”.

Perubahan semantik demikian sangat penting untuk mengembalikan martabat dan harga diri mereka. Setelah mentalnya ditegakkan, LKP2I memberikan pelatihan kewirausahaan secara masif. Tujuannya, membangun kemandirian ekonomi agar para perempuan tangguh ini tidak perlu menengadahkan tangan kepada siapa pun, apalagi menjadi korban struktur yang timpang.

Garis besarnya, Gus Saif adalah pembaharu yang menolak tua, menolak mapan, dan menolak diam. Beliau paham betul bahwa pesantren harus dihuni aktor perlawanan terhadap ketidakadilan. Untuk merawat semua optimisme gila ini, Gus Saif selalu memegang teguh tiga pilar kewarasan dalam bergerak. Pertama, inisiatif, keberanian ekstrem untuk memulai langkah tanpa perlu menunggu komando, tepuk tangan, apalagi suntikan dana dari orang lain. Kedua, kreatif yakni kemampuan meramu cara-cara absurd namun solutif untuk memecahkan masalah keseharian, mulai dari bagi-bagi stiker hingga membuat lembaga perempuan. Ketiga, inovati, memastikan bahwa setiap gerakan yang lahir menghasilkan dampak perombakan yang bisa dirasakan langsung oleh denyut nadi masyarakat.

Penulis: Asri Lailatus Sa’adah

Editor: Mashur Imam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *