AGITASI.ID – Sebelumnya saya turut berduka cita atas berpulangnya kawan-kawan supporter bola di stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur Indonesia. Setiap orang tidak ada yang menghendaki kematian massal seperti yang telah terjadi. Tapi begitulah nyatanya, stadion Kanjuruhan berduka.

Tepat pada tanggal 1 Oktober 2022 pukul 20.00 WIB digelar pertandingan sepak bola liga 1 antara Arema dan Persebaya. Sedikit menyinggung kedua club lokal ini, memang sudah tidak asing kita dengar bahwa supporter yang kedua club yakni Aremania dan Bonek mania memiliki perseteruan sengit sejak dulu. Rivalitas kedua klub tersebut memang tinggi pada liga 1 nasional. Jadi tidak heran jika tensi dan gengsinya tinggi kalau sampai kalah. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Persebaya dengan skor 3-2 diatas Arema selaku tuan rumah. Karena kegagalan pertandingan tersebut kekecewaan supporter Arema tidak dapat dibendung. Dari sinilah dimulainya tragedi duka di stadion Kanjuruhan.

Namun, yang namanya kompetisi tidak melulu persoalan rivalitas atau musuh bebuyutan. Kompetisi memang diperlukan untuk terus mengasah skill semua club sepak bola. Ya, pertandingan duka Arema dan Persebaya semalam menuai masalah baru dalam dunia Sepakbola Indonesia. Sampai sekarang jumlah korban telah banyak beredar di laman website berita dan dalam laporan Dinas Kesehatan (DINKES) Kabupaten Malang kurang lebih 180-an jiwa yang sudah dikabarkan tidak bernyawa. Belum lagi yang luka-luka.

Beberapa media besar seperti Narasi dan Gusdurian masih melakukan investigasi atas tragedi tersebut. Karena memang masih simpang siur tentang kronologi yang sebenarnya. Dari pihak terkait seperti PSSI, aparat kepolisian, PT Liga Baru Indonesia yang terlibat pun belum ada yang angkat bicara terkait kejadian tersebut.

Terkait banyaknya nyawa yang melayang ini sungguh diluar dugaan. Banyak cuitan dari media sosial yang sangat menyangkan tragedi tersebut. Pasalnya dalam sejarah Indonesia, baru kali ini memakan banyak korban. Karena tidak mau menghakimi siapapun sebab tidak ada bukti kronologi yang jelas. Maka kita akan mengulas siapa yang paling bertanggung jawab dalam dunia sepak bola Indonesia.

Quo Vadis Sepakbola Indonesia

Menarik jika kita cermati perjalanan sepak bola Indonesia pada masa kepemimpinan Iwan Bule. Seperti banyak kontroversi yang ada, kepemimpinan Irwan bule banyak keterkaitan nya dengan politik kepentingan. Memang Sepak Bola tidak ada hubungan sama sekali dengan politik, namun dalam kenyataan di Indonesia, hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Tarik-menarik kepentingan terus berlangsung hingga saat ini, pemilihan kepemimpinan ketua PSSI terkesan belum memenuhi asas keterbukaan di Indonesia sebagai negara hukum.

Kontroversi lain tentang ketua PSSI adalah diangkatnya adik ipar Iwan bule, Maaike Ira Puspita sebagai wakil sekjen PSSI pada taun 2020. Pada kepemimpinan Iwan bule pula Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) sekaligus Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Somantri. Cucu dikabarkan mengangkat putranya, Pradana Aditya Wicaksana sebagai General Manager (GM) PT LIB.

Dari sini bisa kita nilai bawa ada kepentingan politik, apalagi karier Iwan bule yang berlatar belakang dari Akpol. Apa memang benar mempuni Irwan bule memimpin persatuan sepak bola seluruh Indonesia?? Bukti kongkrit prestasi sepak bola Indonesia apa selama masa kepemimpinan Iwan bule??

Tragedi Kanjuruhan juga memperlihatkan wajah elite politik kita dan para capres yang hanya sanggup membuat ucapan belasungkawa. Padahal mereka memiliki infrastruktur politik yang besar untuk mendesak proses keadilan ditegakkan.

Situasi demikian tentunya sangat tidak produktif bagi perkembangan Sepak Bola Nasional kedepan, dan ujung-ujungnya apabila Pemerintah tidak turut aktif untuk menyelesaikan masalah tersebut akan berdampak pada sanksi dari FIFA karena bertentangan dengan aturan FIFA dan akan sangat merugikan Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan kearifan dan kebijaksanaan bagi seluruh komponen yang peduli akan kemajuan Sepak Bola Indonesia, jangan sampai Sepak Bola terjerumus oleh kepentingan Politik sesaat dan mengorbankan kepentingan yang lebih besar, melalui cara-cara yang tidak menghormati aturan, mekanisme, dan etika yang ada.

Penyampaian presiden Jokowi dalam live reportt di berbagai media menanggapi hal tersebut point’ pentingnya ialah mengintruksikan kepada polri, ketua PSSI, kemenpora untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan sepak bola prosedur pengamanan penyelenggaraan. Saya sebagai masyarakat sipil penikmat sepak bola lokal terkejut dong atas pernyataan tersebut. Evaluasi, evaluasi, dan evaluasi terus itu hal yang klise. Hal yang tidak kalah penting adalah tanggung jawab PSSI, masak sekelas Iwan bule menanggapinya dengan minta maaf. Woi, ini nyawa. Jangan main-main. Hak hidup adalah hal dasar dalam konsep Hak Asasi Manusia.

Lalu, bagaimana solusi negara yang paling bertanggung jawab dalam hal ini? Mari kita tunggu progres Pemerintah dan PSSI untuk mengembalikan kittah sepak bola Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *