Jember, Agitasi.id – Peringati Hari Lahir Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Komunitas Gusdurian Jember menggelar kegiatan menonton bersama film dokumenter “Menolak Punah” di Aula Perpustakaan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember), Selasa (6/10/2026). Kegiatan ini juga menyoroti keprihatinan terhadap masalah Sampah.
Acara ini diikuti kurang lebih 70 peserta, termasuk beberapa diantaranya komunitas pegiat lingkungan, siswa, mahasiswa.
Penggerak Gusdurian Jember, Fatia Inast Tsuroyah, menyampaikan kegiatan ini hadir untuk memperingati harlah GusDur sebagai refleksi atas kesadaran lingkungan yang terjadi dan pola konsumsi pakaian yang berlebihan di kalangan anak muda, aktivitas ini membawa semangat gagasan dari GusDur tentang “merusak alam, merusak kemanusiaan”.
Ia menyoroti banyaknya sampah yang dibuang sembarangan di sungai dan jalanan, termasuk di kawasan Jembatan Ajung yang mengancam ekosistem serta kesehatan masyarakat.
“Kami menyadari bahwa kalau pemerintah terasa jauh, maka kitalah yang harus mulai mencegah penumpukan sampah. Sampah yang terus menumpuk dapat mematikan ikan, merusak ekosistem sungai, hingga mikroplastik masuk ke tubuh kita lewat makanan,” ujar Fatia saat di tanya agitasi.
Pihaknya telah mengundang pemerintah untuk hadir dalam kegiatan ini, namun hingga acara dimulai tidak ada perwakilan yang hadir.
Fatia berharap pemerintah Kabupaten Jember memberikan Solusi dengan pengelolaan sampah di sungai, pasar tanjung, dan pinggir jalan dengan usul segera menyusun dan menindaklanjuti peraturan daerah terkait sanksi pembuangan sampah, serta menegakkan aturan yang ada.
“Kesadaran saja tidak cukup, kita butuh peran pemerintah. Surat edaran sudah ada, tapi implementasinya masih belum terasa. Kami ingin aturan itu benar-benar dirawat dan dijalankan secara konsisten, bukan sekadar muncul lalu hilang,” tegasnya.
Pemantik diskusi, Dina Putu Ayu Kristiyanti yang juga mewakili komunitas Sobung Sarka dan pendidik di SMAK Santo Paulus, menegaskan pengelolaan sampah saat ini sudah dalam kondisi darurat.
Ia menekankan penanganan tidak bisa hanya mengandalkan perorangan, melainkan butuh kolaborasi dengan pemerintah.
“ Pemerintah sebagai pemegang regulasi, supaya nanti yang dilakukan masarakat lebih sistematis, massif, luas dan konsisten,” kata Dina.
Namun, dengan kentalnya Indonesia dengan nilai-nilai agama Dina mengungkapkan bahwa pemuka agama juga memiliki peran penting untuk mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengelola sampah dan juga lingkungan.
“Kebersihan dan menjaga alam bukan sekadar urusan rapi dan indah, melainkan bagian dari tanggung jawab iman kita. Menjaga ciptaan Tuhan adalah wujud nyata keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” Jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat tanpa memandang agama maupun latar belakang untuk bersatu menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Hasil diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal gerakan berkelanjutan dari akar rumput hingga menjangkau kebijakan pemerintah.
Penulis: ABD MOKIT
Editor: Nadila Sania Sulistia