Jember, Agitasi.id – Aksi demo Amarah Masyarakat Jember (AMJ) atas meninggalnya pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan, berakhir damai di dalam Markas Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur pada Sabtu (30/08/2025) siang hari.
Affan Kurniawan merupakan ojek online yang terlindas kendaraan taktis (rantis) milik Brigade Mobil (Brimob) Polri, saat bertugas mengantar orderan makanan di Kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Demo digelar untuk meminta pertanggungjawaban kepada kepolisian yang sudah melindas korban dan bentuk dukungan solidaritas ojol se-Indonesia.
“Terima kasih banget mengapresiasi ojol, untuk mendukung ojol di Indonesia,” kata Revan sebagai salah satu ojol dari Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember.
Pengumpulan massa aksi tercatat lumayan banyak dalam hitungan jam saat konsolidasi pada Jum’at (29/08/25) malam hari, di Warung Kopi Cak Nawi, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.
“Melihat forum konsolidasi yang kami angkat ataupun yang kami bahas, itu tidak hanya persoalan teknis. Karena Cipayung plus pada awalnya mengkonsolidasikan itu dan kemudian memiliki beberapa poin tuntutan. Begitupun dengan BEM se-Jember, dan juga teman-teman solidaritas Jember melawan dengan tuntutannya. Akhirnya, kami kolaborasikan hingga menjadi lima poin tuntutan,” kata Abdul Aziz Al-Fazri selaku koordinator lapangan (korlap) aksi, yang sekaligus Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember.
Adapun terkait lima tuntutan aksi AMJ di antaranya; Pertama, bebaskan seluruh massa aksi yang ditahan. Kedua, usut tuntas dan adili seluruh aparat pembunuh dari aktor lapangan hingga otak pemberi perintahnya. Ketiga, evaluasi institusi Polri secara menyeluruh. Keempat, copot Kapolri Listyo Sigit Prabowo karena telah gagal mengubah wajah represif kepolisian. Kelima, Presiden dan DPR harus segera mengevaluasi segala kebijakan yang tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Dari kelima tuntutan tersebut, hanya poin keempat yang tidak disetujui.
“Terkait poin keempat yang belum diterima, ataupun karena Kapolres itu takut akan kehilangan jabatannya, jika dia menerima poin tersebut. Atau berkomiten menuntut dicopotnya Kapolri dari jabatannya, dengan berbagai histori kelam yang telah dilakukan oleh Kapolri itu sendiri. Kapolres Jember bahkan dengan tegas ataupun dengan sadar menyampaikan bahwasannya dia takut akan jabatannya terancam,” ujar Aziz.
Meskipun dari tuntutan aksi yang disetujui oleh Kapolres Jember kecuali poin keempat, korlap mengakhiri aksi tersebut dan akan kembali membawa massa yang lebih banyak lagi.
Sebelum aksi berakhir, banyak massa yang mendengar kalau korlap pulang duluan karena ada provokator menghampirinya.
“Kami tidak pulang duluan. Akan tetapi melihat kondisi masa yang sudah sangat chaos, kami juga melihat poin sudah ditandatangani, walaupun nomor empat itu ditolak gitu ya. Kami Amarah Masyarakat Jember (AMJ) yang terdiri dari delapan elemen mahasiswa, Cipayung plus itu ada enam, kemudian BEM se-Jember dan juga solidaritas Jember melawan. Nah, jadi kami bukan untuk memilih pulang duluan, akan tetapi kami menyepakati secara kolektif, secara bersama. Kami sepakat bahwasanya aksi ini tidak berhenti pada hari ini saja. Dan poin nomor empat yang tidak disepakati, akan kami coba konsolidasikan kembali untuk membentuk gerakan baru, bahkan kami berani mengatakan kita akan turun dengan massa yang lebih banyak,” tegas Aziz saat dikonfirmasi Agitasi.
Reporter dan Penulis: Syarifah D.R Nahdiyah
Editor: Fadli Raghiel