‘Kampoeng Batja’, Rintisan Alumnus Universitas Muhammadiyah Jember yang Pernah Raih Juara Taman Baca Tingkat Nasional

Potret ruangan dalam di 'Kampoeng Batja', Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. (Foto: Dr. Nadiyah/Agitasi)

Jember, Agitasi.id Berjalan menyusuri trotoar dengan terik matahari yang begitu panas menerangi bumi. Memasuki lorong yang sempit dan berliku-liku, hingga akhirnya nampak rumah terbuat dari kayu yang terletak di pojok kampung. Tertulis dengan jelas “Kampoeng Batja”.

Sebuah kampung yang telah banyak menarik perhatian para pembaca buku dan pernah meraih juara tingkat nasional. ‘Kampoeng Batja’ atau kerap dikenal dengan sebutan Kampung Baca berada di Jalan Nusa Indah, Jember Lor, Kecamatan Patrang.

Bacaan Lainnya

Bangunan Kampoeng Batja begitu sederhana. Banyak deretan buku yang berbaris rapi di dalamnya, dan di sisi belakang ada taman baca yang letaknya berdekatan dengan sungai.

Kampoeng Batja di dalamnya memiliki semacam museum barang antik. Banyak alat-alat klasik terpampang dan berjejer rapi, mengingatkan pada pengunjung akan uniknya perkakas zaman terdahulu.

Adanya Kampoeng Batja di Kabupaten Jember merupakan hasil rintisan Iman Suligi (69). Seorang alumnus Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Jember, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Kampoeng Batja berdiri sejak 7 Maret 2009.

“Tanggal berdirinya tempat ini sama seperti tanggal lahir saya 7 Maret,” kata Iman Suligi kepada Agitasi, Selasa (24/06/2025) siang hari.   

Banyak mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi yang kerap datang ke Kampung Baca. Terkadang juga dijadikan sebagai tempat kuliah lapangan (program fakultatif), yang mana dibimbing langsung oleh Iman Suligi. 

Pengunjung yang berminat ke Kampoeng Batja, justru bukan masyarakat setempat, melainkan penduduk dari luar Kabupaten Jember.

“Karena mungkin di sini memang bukan daerahnya orang-orang yang dipaksa untuk membaca. Kalau seandainya di sini tempat kayak dosen mungkin banyak yang akan mengunjunginya,” ucapnya saat ditemui reporter Agitasi.

Buku-buku yang berjejer rapi di Kampung Baca berjumlah sekitar enam ribuan. Sebagian besar didapat dari hasil prestasi. Tak hanya dari prestasi, tetapi juga dari donasi-donasi penerbit buku, yang memang bersedia memberikannya kepada Kampoeng Batja.

Baca Juga :  Putusan MK Pada Sengketa Capres-Cawapres Masih Dikritik Sejumlah Pihak

“Jadi kita pernah jadi juara nasional untuk taman baca. Dari prestasi itu pihak penyelenggara hadiahnya buku selain duit. Buku kita itu banyak sekali, tapi gak ada yang beli saya, jadi dari donasi penerbit buku-buku,” ujar Iman Suligi.

Sertifikat penghargaan yang diperoleh oleh Kampoeng Batja. (Foto: Dr. Nadiyah/Agitasi)

Namun, buku-buku di Kampoeng Batja ternyata tidak dijualbelikan. Tetapi boleh dipinjam dengan memberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai jaminannya. Meskipun banyak dari kalangan mahasiswa atau pengunjung yang ingin membelinya. Sayangnya, Iman Suligi tak memperbolehkannya.

Buku-buku akan dijualbelikan ketika sudah tidak relevan dengan misi yang ada di Kampung Baca.

“Buku yang saya jual yaitu, buku yang berlebih atau buku yang sudah tidak relevan dengan misi di sini. Contohnya tentang perpajakan, itu kurang bermanfaat, untuk di sini loh ya, nanti saya jual,” ujarnya.

Penulis: Nur Aini

Reporter: Nur Aini

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *