Deteksi Ragam Poros Kelompok Politik Pencalonan Rektor UIN KHAS Jember

Sumber: Mashur's Grafis

AGITASI.ID- Suhu politik di kampus hijau yang terletak di kawasan Mangli, Jember, kian menghangat. Perhelatan suksesi kepemimpinan alias pemilihan Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember periode mendatang kini menjadi panggung adu strategi yang memikat perhatian publik, khususnya para pengamat dinamika perguruan tinggi Islam. Tidak kurang dari 19 nama guru besar dan akademisi senior masuk dalam bursa pencalonan. Mereka dinilai telah memenuhi persyaratan administratif dan akademis yang ketat untuk menduduki kursi nomor satu di kampus tersebut.

Namun, di balik deretan gelar akademik yang mentereng, kontestasi ini sejatinya adalah arena pertarungan jejaring, patronase, dan kelihaian bermanuver baik di tingkat lokal maupun pusat. Konstelasi pencalonan rektor UIN KHAS pada dasarnya terikat kuat oleh regulasi terbaru, yakni Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 4 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua Atas PMA Nomor 68 Tahun 2015 mengenai Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan yang Diselenggarakan oleh Pemerintah. Jika dibedah, beleid ini sebanarnya tersentral pada menteri.

Bacaan Lainnya

Tahapan suksesi memang diawali dari bawah yakn pembentukan panitia, penjaringan bakal calon, hingga pemberian pertimbangan kualitatif melalui rapat senat tertutup di tingkat universitas. Namun, muara dari segala proses tersebut berada di tangan Komisi Seleksi yang dibentuk oleh Menteri Agama, untuk kemudian keputusan absolut (hak prerogatif) penentuan rektor dijatuhkan langsung oleh Menteri Agama di Jakarta.

Artinya, kontestasi ini memiliki dua palagan utama. Secara administratif dan etika akademik, para kandidat harus mampu meraup legitimasi serta rekomendasi berbobot dari jajaran Senat UIN KHAS Jember. Namun, secara politik, nasib mereka sangat bergantung pada seberapa jauh dan seberapa kuat tentakel jejaring mereka menjangkau lingkaran elit di Kementerian Agama pusat. Pemahaman atas dua palagan inilah yang membuat ke-19 nama tersebut mengkristal ke dalam poros-poros kekuatan spesifik.

Untuk menakar peta kekuatan, ada beberapa indikator fundamental yang digunakan sebagai pisau bedah pengelompokan. Indikator pertama, adalah sentimen almamater perguruan tinggi. Sejarah membuktikan bahwa kesamaan jas almamater kerap kali bertransformasi menjadi modal sosial yang ampuh untuk membangun soliditas politik. Para kandidat yang merupakan lulusan dari rahim kampus yang sama cenderung memiliki irisan rekanan politik yang terhubung hingga ke pucuk kekuasaan birokrasi.

Indikator kedua, adalah afiliasi kekuatan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), gerbong ormas bukan sekadar entitas spiritual, melainkan mesin politik nir-partai yang sangat determinan. Jaringan ormas direkatkan oleh ideologi dan komando kultural yang solid. Di UIN KHAS Jember, yang secara geografis dan kultural berada di kawasan “Tapal Kuda” Jawa Timur, relasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) adalah keniscayaan. Namun, lantaran mayoritas kandidat berlatar belakang NU, suara nahdliyin di kampus berpotensi mengalami fragmentasi besar. Akibatnya, kelompok ormas lain yang secara kuantitas lebih kecil namun memiliki tingkat kesolidan tinggi justru berpeluang menjadi kuda hitam yang memenangkan pertandingan.

Indikator ketiga, bertumpu pada relasi kekerabatan dan kohesi politik lokal kampus, yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai ‘poros afiliasi’. Figur pada poros ini adalah tokoh pragmatis yang diikat oleh kepentingan bersama, dan relasi patron-klien dengan elit kampus terdahulu.

Baca Juga :  Meski Sempat Tidak Bisa Baca, Mustakim Terus Konsisten Jualan Buku Sejak Tahun 1963

Sementara itu, indikator partai politik praktis sengaja dieksklusi dari analisis ini. Selain karena dinamika kepartaian yang terlalu cair dan pragmatis, secara etika dan yuridis, seorang rektor tidak elok jika dilabeli sebagai perpanjangan tangan partai politik tertentu, mengingat kampus harus menjaga marwah independensi mimbar akademiknya.

Berpijak pada indikator-indikator tersebut, lanskap politik pemilihan Rektor UIN KHAS Jember mengerucut pada enam poros kekuatan utama berikut ini,

Poros Alumni Surabaya

Poros ini adalah faksi historis yang memegang akar kuat di Jember. Harus diakui, cikal bakal berdirinya UIN KHAS Jember tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Genealogi kelembagaan ini mewariskan relasi birokrasi yang terus terawat hingga kini. Jaringan alumni UIN Sunan Ampel (UINSA) dikenal memiliki penetrasi yang sangat tajam, baik di ranah politik praktis maupun di pos-pos strategis Kementerian Agama.

Secara historis, sejumlah figur jebolan UINSA tercatat selalu menduduki posisi penentu di UIN KHAS Jember, mulai dari almarhum Prof. Nur Solikin yang pernah menjabat Wakil Rektor I, Dr. Faizin yang kini menjabat Wakil Rektor III, hingga Prof. Fawaizul Umum yang memegang kursi Dekan Fakultas Dakwah.

Kedekatan kultural dengan ibu kota provinsi juga membuat lobi-lobi kelompok ini dinilai sangat efektif. Nama-nama mentereng yang masuk dalam radar poros Surabaya ini antara lain Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag., Prof. Dr. H. Ahidul Asror, M.Ag., Prof. Dr. Sri Lumatus Sa’adah, S.Ag., M.H.I., dan Prof. Dr. H. Abdul Rokhim, S.Ag., M.E.I.

Poros Alumni Yogyakarta

Jika Surabaya mengandalkan ikatan historis kelembagaan, poros Yogyakarta bertumpu pada wibawa intelektual dan jejaring birokrasi nasional. Lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dikenal memiliki tradisi akademik yang kental sekaligus jaringan yang menggurita di kementerian hingga lingkaran partai politik di senayan.

Poros ini semakin layak diperhitungkan mengingat posisi Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UIN KHAS Jember saat ini juga diduduki oleh figur alumni Yogyakarta. Kehadiran tokoh sentral dalam poros ini, yakni Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., yang sedang menjabat sebagai Wakil Rektor I, memberikan amunisi elektoral dan administratif yang sangat signifikan. Penguasaan atas birokrasi akademik internal membuat manuver poros Yogyakarta bergerak secara terukur.

Poros Alumni Malang

Arus dari barat Jember ini membawa semangat modernisasi tata kelola kampus yang selama ini menjadi ciri khas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jejaring alumni Malang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam lintasan sejarah UIN KHAS Jember. Publik kampus masih mengingat era kepemimpinan Prof. Khusnul Ridho kala institusi ini masih berstatus STAIN Jember, yang sukses meletakkan fondasi transformasi kelembagaan.

Daya rekat alumni Malang terletak pada militansi dan kesatuan visi mereka dalam mengembangkan institusi pendidikan. Tokoh-tokoh kawakan yang merepresentasikan kekuatan poros ini adalah Prof. Dr. H. Mashudi, M.Pd. dan Prof. Dr. Hj. ST. Rodliyah, M.Pd. Keduanya memiliki rekam jejak panjang dalam tata kelola kelembagaan pendidikan tinggi di Jember.

Poros Muhammadiyah

Di tengah dominasi kultur nahdliyin di kawasan Tapal Kuda, kemunculan Poros Muhammadiyah adalah oase dinamika politik yang menarik. Poros ini mendapatkan energi dari besarnya pengaruh ormas Muhammadiyah di tingkat nasional. Sebagai organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia dengan tradisi tata kelola amal usaha pendidikan yang sangat rapi, lobi-lobi elit Muhammadiyah di Jakarta sangat diperhitungkan oleh Kementerian Agama.

Peluang poros ini terbuka lebar ketika suara dominan kandidat berafiliasi NU terpecah belah akibat banyaknya calon yang maju dari gerbong yang sama, faksi Muhammadiyah yang solid bisa saja melenggang mulus sebagai jalan tengah atau titik kompromi yang dipilih oleh Menteri Agama. Para cendekiawan yang menjadi ujung tombak poros ini adalah Prof. Dr. H. Kasman, M.Fil.I. dan Prof. Dr. H. Safrudin Edi Wibowo, Lc., M.Ag.

Baca Juga :  Program Satu Hari Tanpa BBM di UIN KHAS Jember Menuai Respon Pro-Kontra Mahasiswa

Poros Afiliasi

Inilah poros tergemuk, episentrum berbagai kepentingan yang dibentuk di luar almamater perguruan tinggi. Poros Afiliasi ini lahir dari rahim kohesi sosial, relasi kekerabatan, dan pertalian patronase dengan elit-elit kampus atau mantan penguasa rektorat. Sebagian besar figur dari poros ini disokong oleh barisan jaringan yang basisnya melampaui sekat akademik, diantaranya kelompok-kelompok alumni pesantren-pesantren besar di Jawa Timur. Sebagai lainya, terindikasi memiliki kedekatan khusus, baik kekeluargaan maupun politik balas budi, dengan mantan Rektor UIN KHAS Jember. Kedekatan ini memberikan garansi dukungan tak terlihat (invisible hand) dari faksi loyalis penguasa lama. Tidak heran, jika poros ini berhasil memiliki nama-nama paling banyak dalam bursa pencalonan UIN KHAS Jember saat ini.

Deretan guru besar yang bernaung di bawah payung afiliasi ini mencakup Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag., Prof. Dr. Busriyanti, M.Ag., Prof. Dr. Moh Dahlan, M.Ag., Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, M Fil.I., Prof. Dr. Hj. Nurul Widyawati Islami Rahayu, S.Sos., M.Si., Prof. Dr. H. Moch. Imam Machfudi, S.S., M.Pd., Ph.D., Prof. Dr. Khamdan Rifa’i. SE., M.Si., hingga Prof. Dr. KH. Abdul Kholiq Syafa’at, M.A. Menariknya, jika ditelisik dari peta kekerabatan, Prof. Dr. M. Khusna Amal dari poros Yogyakarta sejatinya memiliki irisan kuat dengan poros ini berkat relasi kekeluargaannya dengan mantan Ketua STAIN Jember, yang membuktikan betapa cairnya batas antar-faksi.

Poros Lokal

Sebagai penyeimbang dari kekuatan-kekuatan ‘impor’ almamater luar, berdirilah Poros Lokal. Kelompok ini dianggap sebagai representasi ‘darah murni’ UIN KHAS Jember. Figur-figur dalam entitas ini dilabeli sebagai putra daerah, mereka yang diyakini paling menyelami denyut nadi, sosiologi, dan romantisme kampus. Kepercayaan publik internal, khususnya dari kalangan mahasiswa aktivis dan ikatan alumni UIN KHAS Jember, mengalir deras ke poros ini.

Dukungan tersebut diperkuat oleh rekam jejak mereka. Para figur lokal ini terbilang sukses saat memegang tampuk kepemimpinan di level fakultas maupun saat menjabat sebagai wakil rektor pada periode-periode sebelumnya. Mereka dianggap tahu persis cara meramu keunggulan lokal menjadi prestasi nasional. Tokoh yang menjadi magnet utama pada poros ini adalah Prof. Dr. Moch. Chotib, S.Ag., M.M. dan Prof. Dr. H. Abdul Muis, M.Si.

Peta kekuatan enam poros ini tentu belum mencapai titik ekuilibrium yang final. Seiring dengan berjalannya waktu menuju tahapan teknis penjaringan oleh Panitia Seleksi, adanya fusi dan friksi adalah keniscayaan. Hal ini bisa dipicu oleh negosiasi di ruang gelap, tukar guling kepentingan, atau keputusan figur tertentu yang pada detik-detik terakhir memilih untuk tidak mendaftarkan diri demi melapangkan jalan kolega satu porosnya.

Bahkan, jika dianalisis lebih lebar dan difokuskan pada DNA politik birokrasi UIN KHAS Jember—yang secara historis dikenal sebagai rumah besar para aktivis gerakan—peta yang rumit ini bisa saja tereduksi menjadi pertarungan biner yang jauh lebih klasik. Ketika nama-nama sudah tersaring menuju meja Menteri Agama di Jakarta, poros-poros ini bisa melebur hanya menjadi dua kubu raksasa yang saling berhadapan yakni representasi kelompok aktivis pergerakan non-aktivis atau birokrat murni. (Tim Redaksi Agitasi.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *