Trauma Konflik Lama, Warga Ajung Tolak Pembangunan Bronjong di Bantaran Sungai Bedadung oleh Pihak UIN KHAS Jember

Trauma Konflik Lama, Warga Ajung Tolak Pembangunan Bronjong di Bantaran Sungai Bedadung oleh Pihak UIN KHAS Jember
Trauma Konflik Lama, Warga Ajung Tolak Pembangunan Bronjong di Bantaran Sungai Bedadung oleh Pihak UIN KHAS Jember

Jember, Agitasi.id – Trauma konflik lama, warga Ajung Dusun Klanceng RT 01/RW 03, RT 05/RW 02, kembali menyuarakan penolakan terhadap pembangunan bronjong di bantaran Sungai Bedadung, oleh pihak Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, pada Kamis (17/9/2026).

Menurut Munir, salah satu warga Ajung, yang akrab disapa Fendi, penolakan ini bermula pada trauma konflik lama yang pernah terjadi, di Desa Ajung Dusun Klanceng, sekitar sembilan tahun lalu. Saat itu, pihak kampus yang masih berstatus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) melakukan pembangunan pengamanan di bantaran Sungai Bedadung (semacam plengsengan).

Bacaan Lainnya

Warga sempat menyuarakan penolakan tersebut, namun pihak UIN KHAS tetap menolak dan melanjutkan pembangunan.

“Sembilan tahun yang lalu, sempat menyampaikan ke beberapa pihak, termasuk kejaksaan, pemerintah daerah, dan kampus yang ketika itu masih berstatus IAIN, namun menurut saya itu belum berhasil, karena tidak ada pembongkaran pada saat itu,” tegas Fendi, saat dikonfirmasi agitasi.id, pada Sabtu (19/9/2026)

Fendi juga mengatakan bahwa ada beberapa warga Ajung, Dusun Klanceng, RT 05/RW 02 bagian barat yang sempat dikumpulkan dalam sebuh pertemuan dan diiming-imingi (serangan Fajar) oleh pihak UIN KHAS, namun warga yang lain tidak. Alhasil, tidak semua warga Ajung Dusun Klanceng ikut serta dalam menyuarakan penolakan tersebut.

“dulu itu warga Ajung, Dusun Klanceng RT 05/ RW 02 dirapatkan tapi hanya itu, yang lain tidak, dan juga dikasih iming-iming, makanya mereka diam tidak ikut campur dulu. Dan sekarang warga sana sudah merasa menyesal, karena sudah mulai kerasa atas gejolak banjir yang terjadi,” kata Fendi

Baca Juga :  ANALISIS SOSIO HISTORIS: "COCOKOLOGI BABUN-SOEHARTO"

Pembangunan Picu Kekhawatiran Warga

Konflik Kembali muncul pada saat salah satu warga Ajung mengetahui bahwa terdapat aktifitas penggerukan tanah di pinggiran Sungai Bedadung dengan menggunakan alat berat atau ekskavator. Menurut Fendi, aktivitas tersebut diketahui warga secara langsung dan tidak ada konfirmasi apapun dari pihak UIN KHAS terhadap warga sekitar.

“Kemarin ada teman kan ke sungai itu untuk ambil batu. Kebetulan melihat ada Bego itu sedang melakukan penggerukan disekitar sungai, gara-gara melihat itu temen saya langsung memberikan informasi itu kepada saya, dan saya langsung pergi ke Sungai itu, padahal saya sudah lama tidak ke sungai”, ujar Fendi

Namun, kata Fendi, UIN KHAS melakukan Pembangunan itu untuk melindung aset kampus. Sebenarnya warga tidak mempermaslahkan Pembangunan tersebut, yang dipermasalahkan arah aliran air Sungai. Yang memicu ke khawatiran warga karena lebih besar dan deras mengarah ke pemukiman warga sekitar.

“Sudah sangat bagus, karena ini mau dibangun bantalan-bantalan untuk pengamanan aset di UIN KHAS, tapi yang kami permasalahkan itu aliran air yang diarahkan ke Selatan dan itu memungkinkan air Sungai lebih besar dan deras ke arah pemukinan warga,” ujarnya.

Kesepakatan Jadi Jalan Penyelesaian

Fendi Mengkonfirmasi bahwa Konflik tersebut kemudian dibahas dalam pertemuan antara pihak UIN KHAS dengan Pemerintah Desa Ajung, Kepala Dusun, Ketua RW/RT, serta mengundang tokoh Masyarakat.

Didalam pertemuan tersebut, pihak pertama membuat surat perjanjian kesepakatan bersama, yang berisi mengenai bahwa, pihak pertama sanggup membongkar Bronjong yang berada di sebelah Selatan. Dan bronjong yang sebelah timur jangan sampai melewati putung Sungai Bedadung.

“Setelah itu besoknya pihak UIN KHAS langsung membongkar Bronjong itu, sesuai dengan apa yang warga minta, saya melihat sendiri,” kata Fendi

Baca Juga :  PBAK UIN KHAS Jember; Rektor Joget Berdiri, Mahasiswa Joget Berlari.

Tokoh Masyarakat Ajung, yang kerap di sapa Abah Yati, mengapresiasi bahwa respon dari pihak UIN KHAS sudah sangat bagus, karena aspirasi warga Ajung dapat diterima dan diakomodasi oleh pihak kampus.

“Pihak UIN KHAS sendiri sudah sangat bagus, kalok dari warga kurang kesana pihak sana mengiyakan, kan itu bagus, karena emang pemimpin yang dulu dan sekarang sudah berbeda. Dari Musyawarah itu konflik ini sudah selesai dan sudah ada kesepakan,” jelasnya.

Penulis: Nur Aini

Editor: Nadila Sania Sulistia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *