Dari Kertas ke Layar Gawai: Koran yang Kian Sepi di Tengah Ramainya Dunia Digital

Pak Nur saat diwawancarai kru Agitasi.
Pak Nur saat diwawancarai kru Agitasi.

AGITASI.ID, JEMBER-  Di tengah hiruk pikuk Kota Jember dan terik matahari yang membakar kulit, seorang pria paruh baya tampak duduk di sudut Perempatan Mangli. Saat lampu lalu lintas berubah merah, ia sigap menghampiri para pengendara untuk menawarkan koran yang dibawanya.

Pria itu adalah Nur Hasan, atau yang akrab disapa Pak Nur, seorang loper koran asal Kecamatan Ajung, Jember. Dengan penuh semangat, ia tetap menyebarkan berita dari lembar demi lembar koran, meski kini keberadaannya semakin tersisih oleh perkembangan teknologi digital dan gawai.

Bacaan Lainnya

Setiap pagi, Nur memulai aktivitasnya sejak pukul 06.00 WIB. Ia memilih berjualan di pagi hari karena waktu siang hingga sore digunakan untuk aktivitas lain.

“Saya mulai berjualan sejak pukul 06.00 WIB, biasanya pukul 08.30 WIB saya sudah pulang. Dulu saya bisa bertahan sampai pukul 13.00 WIB atau pukul 14.00 WIB, karena masih ramai pembeli. Namun, semenjak ada android, penjualan saya menurun,” ujar Nur, saat dihampiri Agitasi, pada Minggu, 24 Mei 2026.

Nur telah menjalani pekerjaan ini sejak memiliki dua anak. Ia terus bertahan hingga kini, ketika dirinya telah memiliki tiga anak dan dua cucu.

Awalnya  menjual koran hanya dijadikan pekerjaan sampingan oleh dirinya, namun sekarang sudah menjadi pekerjaan tetap. Meskipun pendapatan yang diperolehnya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.

“Kalau pendapatan itu tidak pasti. Tapi kalau dibilang cukup, Alhamdulillah cukup,”. kata Pak Nur dengan raut wajah yang datar.

Pak Nur mengambil koran bukan dari perusahaan, tetapi di Agen surat kabar Radar Jember. Penghasilan Pak Nur tidak bisa ia terima langsung saat mengambil koran, namun di keesokan harinya.

Baca Juga :  Komeng, Bentuk Perlawanan Mitos “Banyak Uang Pasti Menang”

Kendala yang sering dialami Pak Nur saat menjual koran yaitu, waktu lampu lalu lintas mati, dan saat hujan deras.

“Kalau deras hujannya saya pindah ke samping (trotoar), kalau gerimis masih bisa jualan, soalnya kalau basah korannya nggak  bisa dikembalikan kalau(koran)  yang agen, kalau (koran) yang radar itu bisa. Yang dari agen kalau sudah keluar dari rumahnya juragan, itu sudah dibilang habis, beda dari yang Radar, “ ujar Pak Nur sambil menunggu pelanggan.

Selama menjual koran, ada kisah mengharukan dari Pak Nur. Saat peristiwa COVID-19, orang yang membeli merasa takut dikarenakan adanya jarak bagi pembeli dan penjual. Yang biasanya Pak Nur membawa koran sekitar 35, 45, sampai 50, sekarang sudah menurun, akibat dampak COVID pada tahun 2019.

“Cuma sekarang saya bawanya sedikit, hanya 15 koran,” tutur Pak Nur sambil memegang tumpukan koran di tangannya.

Kontributor: M. Acung Fikrin Mustakin

Editor: Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *