AGITASI.ID-Program beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Jember kini sudah berjalan hampir satu tahun. Dalihnya mulia, Bupati ingin mewujudkan generasi penerus yang kompeten dan berdaya saing. Promosinya begitu masif dan pamfletnya bertebaran di berbagai sudut media sosial, sampai-sampai rasanya sangat, kudet jika ada mahasiswa Jember yang tidak tahu-menahu soal beasiswa ini.
Namun, ada yang cukup absurd dari program beasiswa keren ini. Coba perhatikan posternya. Hampir semuanya didominasi oleh wajah sang Bupati dalam balutan pakaian dinas kebesarannya. Sangat kontras dengan beasiswa pada umumnya yang menampilkan nuansa akademik atau kehidupan kampus. Yang terbaca, lebih terlihat sebagai orientasi panggung politik dan hasrat elektabilitas saja.
Pernahkah kita bertanya, mengapa Gus Fawait menamainya “Beasiswa Cinta Bergema”? Dari namanya, seolah ingin membingkai bentuk cinta Bupati kepada masyarakatnya. Seluruh posternya berupaya membentuk makna cinta tulus seorang pemimpin yang mengulurkan bantuan finansial, agar rakyatnya tak lagi pusing memikirkan biaya untuk menempuh pendidikan tinggi.
Sayangnya, seiring berjalannya program ini, ada perkembangan algoritma linimasa media sosial, khususnya di kalangan mahasiswa. Tiba-tiba, ada banyak postingan para penerima beasiswa yang memamerkan sederet pencapaian Bupati Jember. Mulai dari program aduan masyarakat, insentif guru ngaji, hingga berbagai bentuk pencitraan lainnya. Usut punya usut, dari pengakuan para penerima, rentetan unggahan tersebut adalah “kewajiban” yang dituntut oleh Pemkab Jember kepada mereka.
Memandang fenomena ini, tampaknya ada aroma interaksi transaksional yag sebenarnya sedang terjadi. Entah disadari atau tidak, ada skenario licik yang sedang terjadi. Pemerintah memberikan uang kuliah, dan sebagai gantinya, penerima harus tunduk pada kebijakan yang dibebankan. Jika syaratnya adalah pelaporan pertanggungjawaban dana atau kewajiban mengikuti kegiatan pemberdayaan mahasiswa, itu masih sangat logis. Namun, jika diwajibkan mem-posting kinerja Bupati, entah dasarnya? Tentu, benar-benar tidak koheren dan orientasinya sudah melenceng jauh. Yang terlihat hanyalah ambisi menguasai engagement media sosial demi menaikkan pamor penguasa.
Lebih parah lagi, unggahan-unggahan titipan itu tidak dilakukan di akun sembarangan, melainkan di akun media sosial pribadi milik penerima. Pada titik ini, ada anomali yang perlu dipikirkan ulang dalam-dalam. Setiap orang seharusnya memiliki otoritas dan kemerdekaan untuk berekspresi di ruang digitalnya sendiri. Ruang privat para penerima beasiswa dibajak dan disulap menjadi instrumen panggung politik kepala daerah.
Kenyataan dan perspektif lain yang membuat program beasiswa pemkab Jember ini cukup lucu dan Aneh, Alokasi anggaran untuk program ini murni berasal dari APBD. Jadi, sebenarnya biayanya dari Uang rakyat. Pajak yang dipungut dari keringat masyarakat itu sendiri. Secara sadar atau tidak, mereka sedang mengakuisisi para penerima beasiswa untuk dijadikan alat pencitraan. Akibatnya buruknya, hak pendidikan yang seharusnya murni menjadi milik rakyat, justru disetir sedemikian rupa untuk membuahkan dividen politik bagi penguasa. Sebuah manuver yang sungguh-sungguh najis.
Lalu, pertanyaannya, kenapa nama program tersebut menggunakan kata “Cinta”, mengapa realitasnya bertolak belakang? Kenyataannya nama programnya terasa sangat dipaksakan. Padahal, cinta adalah puncak moralitas tertinggi seorang makhluk. Jadi, menuntut kedalaman hati yang paling murni dan tanpa pamrih, layaknya pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya.
Cinta, sejatinya tak pernah mengharapkan kembalian sepeser pun. Dengan kata lain, kata “cinta” dalam nama beasiswa Gus Fawait, sebenarnya telah gagal dan jauh pada makna aslinya. Mengutip filsuf Erich Fromm dalam karyanya The Art of Loving, jika seseorang mencintai namun masih mengharapkan timbal balik dan tak siap dengan penderitaannya, maka itu belum matang untuk disebut cinta. Bisa saja hanya terlihat sebagai pemenuhan kebutuhan emosional semata. Dengan sudut pandang ini, sebenarnya Pemkab Jember dengan beasiswanya sedang tidak menebar cinta. Namun, hanya sedang mencuri panggung para penerima beasiswanya demi segepok citra.
Padahal, timbal balik paling nyata dari sebuah beasiswa baru akan terlihat di masa depan. Bukan saat menerima, namun ketika para penerimanya nanti sukses menjadi tokoh terpandang. Entah di kancah nasional maupun internasional, pada akhirnya akan membuat Jember bangga dengan sendirinya.
Jadi, rasanya sangat memprihatinkan. Pasalnya, dengan pola demikian Pemkab Jember diam-diam telah menistakan kesucian kata “Cinta”. Semua yang terjadi pada dasarnya hanyalah transaksi elektoral yang dibungkus packaging sok romantis. Bagi penulis, ketimbang merusak makna cinta, mending dari awal jujur saja. Ubah nama programnya jadi “Beasiswa Citra Bergema”. Nah, jadi pas dan indah didengar!
Penulis: M. Yusril Faizi