JEMBER, AGITASI.ID – Hari Disabilitas Internasional (HDI) diperingati setiap 3 Desember. Pada tahun 2025 ini mengangkat tema: “Fostering disability inclusive societies for advancing social progress” (Membangun masyarakat inklusif disabilitas, untuk memajukan kemajuan sosial).
Menanggapi tema tersebut. Agitasi mewawancarai Muhammad Feriyanto, mahasiswa penyandang disabilitas dari Program Studi Hukum Keluarga, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, pada 19 Desember 2025, pekan lalu di Kafe Mato.
Wawancara itu untuk mengetahui pelayanan pada tempat pendidikan dalam menyediakan fasilitas ruang, dan sudahkah membangun lingkungan yang ramah penyandang disabilitas. Berikut penyampaian Feriyanto kepada Agitasi.
Apakah sudah ada kebijakan dari kampus (UIN KHAS) terhadap akses menuntut ilmu bagi penyandang disabilitas?
Awal masuk kuliah. Feri sempat kaget karena kan kelasnya ini di atas ya. Saya coba hubungan sama teman-teman Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA).
Akhirnya, alhamdulillah temen-temen DEMA menyuarakan buat kelasnya Feri di bawah. Tapi, dengan catatan Feri harus ikut prodi lain, karena kalau ikut prodi sendiri itu kelasnya di atas.
Terus semester dua juga sama. Feri kabarin Kepala Prodi (Kaprodi) juga masih agak bulet, tetep kelasnya di atas dan juga di (gedung) G. tapi untuk sekarang semester tiga alhamdulillah kelasnya di (gedung) D semua di bawah.
Kalau untuk kursi roda sudah disediakan di kampus ada tiga tempat masjid, BEC, sama GKT.
Apakah budaya kampus (UIN KHAS) sudah inklusif terhadap penyandang disabilitas?
Kalau untuk area fakultas syariah masih ramah. Tapi, kalau untuk area kampus dan sekitarnya masih belum.
Contohnya, di masjid, kafe mato, sama di tempat-tempat nugas. Selama ini masih kesulitan, apalagi di masjid belakang.
Inisiatif kampus (UIN KHAS) melengkapi fasilitas penyandang disabilitas, atau tunggu disuarakan?
Mengikuti Undang-undang (UU) saja. Karena kan sekarang di Jember itu semua gedung atau semua bangunan baik itu pribadi, maupun fasilitas umum harus ada jalur landai.
Tapi gak papa, Pak Warek III juga pesan:
“Udah kamu gausah khawatir. Kita UIN juga mulai berbenah. Gara-gara ada kamu dan juga temen-temenmu ini, kita mulai nyadar, ternyata bukan hanya mengikuti UU saja tapi memang ada realitanya.”
Apa kesan dan pesan Anda untuk fasilitas bagi penyandang disabilitas ke depannya?
Kesan dan juga pesan Feri ini. Kalau kesannya alhamdulillah, Feri cukup senang banget di kampus UIN, karena bertemu sama teman-teman yang bener-bener welcome (terbuka), yang Feri kira mendapat bulian, ternyata mendapat dukungan dan bantuan juga.
Pesan-pesannya. Feri harap kampus UIN ini bisa menjadi kampus yang inklusif kayak UNEJ. Di semua gedung semua kelas atau semua tempat umum itu ada aksesnya.
Terus juga harapannya Feri, ya bukan hanya di (fakultas) syariah, tapi di fakultas-fakultas lain juga menyediakan. Entah itu di rumah ibadah, fakultas lain atau tempat-tempat umum, agar lebih mudah buat temen-temen.
Penulis: Syarifah D. R. Nadiyah
Editor: Fadli Raghiel