AGITASI.ID – Ada masa ketika tokoh sastra klasik terasa jauh, berdebu, dan ketinggalan. Lalu budaya pop datang membawa jalan pintas. Nama Ophelia meluncur dari lirik lagu, linimasa media sosial, dan potongan diskusi fandom. Ia hadir sebagai perasaan: sendu, rapuh, estetis. Banyak orang pertama kali mengenalnya lewat Taylor Swift, lalu mengira sudah cukup paham. Padahal yang didapat baru aromanya, bukan isi lukanya.
Kenal Ophelia hanya karena dengar lagu Taylor Swift mungkin memberikan nuansa melankolis, namun itu baru permukaan dari sebuah karakter yang jauh lebih kompleks dalam kanon sastra dunia.
Untuk memahami kedalaman tragisnya, kita harus kembali ke sumbernya: Ophelia dalam drama Hamlet karya William Shakespeare, sang maestro sastra Inggris. Di tangan Shakespeare, Ophelia bukan sekadar kekasih yang hancur; ia adalah representasi dramatis dari seorang perempuan Renaissance yang terjepit di antara ketaatan buta pada ayahnya (Polonius), cinta yang dimanipulasi oleh Hamlet, dan kekakuan politik istana Denmark yang korup.
Kegilaannya yang memilukan adalah kritik sosial yang tajam terhadap patriarki dan ketidakberdayaan, sementara kematiannya yang ambigu menjadi simbol kehancuran yang disebabkan oleh dunia laki-laki di sekitarnya.
Dengan membaca Hamlet, kita diajak menyelami bukan hanya kisah cinta yang gagal, tetapi sebuah studi psikologis dan sosial yang abadi tentang trauma, penindasan, dan kehilangan agensi. Maka, referensi pop menjadi pintu masuk yang menarik, namun kecemerlangan dan kepahitan karakter asli yang dirancang Shakespeare itulah yang memberikan pemahaman yang utuh dan tak tergantikan.
Kalimat panjang itu penting dihadirkan utuh, sebab Ophelia memang tak pernah hidup dalam potongan. Ia dibentuk oleh tekanan yang datang bertubi. Ayahnya gemar mengatur, menguji, memata matai. Kekasihnya sibuk dengan dendam dan eksperimen mental. Istana tempat ia tinggal dipenuhi kepentingan, gosip, dan strategi yang menuntut semua orang berfungsi sesuai peran. Di ruang semacam itu, Ophelia tumbuh tanpa bahasa untuk menyebut kehendaknya sendiri.
Menariknya, Ophelia hampir tak pernah benar benar bicara panjang. Ucapannya singkat, terpotong, penuh jeda. Diamnya sering dibaca sebagai kepatuhan. Padahal diam juga bisa berarti kelelahan. Seseorang yang terlalu lama disuruh memahami orang lain akan kehabisan tenaga untuk memahami dirinya. Polonius merasa sedang melindungi putrinya.
Hamlet merasa sedang jujur dengan kekacauannya. Keduanya lupa satu hal kecil: Ophelia manusia, bukan alat bantu karakter.
Ketika Polonius mati, dunia Ophelia runtuh tanpa sempat ia rapikan. Kesedihan datang bersamaan dengan kecurigaan. Tidak ada ruang berkabung yang aman. Orang orang di sekelilingnya sibuk menafsirkan perilakunya. Senyumnya dicurigai. Nyanyiannya dianggap aneh. Dari sini label itu muncul: gila. Label yang sering dipakai ketika sistem tak mau repot mendengar penjelasan lebih jauh.
Banyak pembaca lupa bahwa kegilaan Ophelia bukan ledakan tiba tiba. Ia akumulasi. Tekanan yang dikumpulkan rapi, lalu tumpah tanpa izin. Shakespeare tidak menuliskannya sebagai gangguan personal. Ia menyusunnya sebagai kritik. Perempuan yang hidup di bawah kendali laki laki mudah sekali dijadikan studi kasus kegagalan, padahal penyebabnya tersebar di sekeliling.
Kematian Ophelia menutup cerita dengan cara yang terasa dingin. Tenggelam. Tidak jelas disengaja atau kecelakaan. Ambiguitas itu penting. Ia menegaskan satu hal pahit: bahkan akhir hidup Ophelia pun tidak sepenuhnya miliknya. Gereja memperdebatkan statusnya. Negara membiarkan spekulasi beredar. Narasi tetap dikendalikan pihak lain.
Di titik ini, perbandingan dengan lagu pop terasa timpang. Lagu memberi ruang untuk mengulang, menangis, lalu pulih. Kesedihan menjadi pengalaman yang bisa dibagi dan dikelola. Ophelia tidak punya kemewahan itu. Ia tidak punya mikrofon, tidak punya chorus, tidak punya hak mengulang cerita dari sudut pandangnya sendiri. Yang ia miliki cuma panggung tragedi dan tubuh yang akhirnya hilang dari permukaan.
Menjadikan Ophelia sekadar ikon galau terasa terlalu ringan. Ia lebih dekat dengan potret sosial tentang bagaimana kepatuhan diproduksi, lalu dihukum. Tentang bagaimana perempuan didorong untuk mengerti semua orang, lalu disalahkan saat dirinya sendiri hancur. Tentang bagaimana sistem rapi bisa melahirkan korban yang tampak kacau.
Membaca ulang Hamlet hari ini terasa seperti bercermin. Bahasa berubah, kostum berganti, tekanannya mirip. Perempuan masih sering diminta tenang ketika ruangnya sempit. Masih sering dianggap berlebihan ketika emosi akhirnya keluar. Ophelia tidak pernah benar benar pergi. Ia cuma berganti nama.
Budaya pop boleh terus memanggilnya sebagai simbol melankolia. Itu tidak salah. Yang bermasalah ketika simbol itu dipisahkan dari konteks yang melahirkannya. Ophelia layak dibaca sebagai peringatan, bukan hiasan. Tragedinya menolak disederhanakan.
Lagu Taylor Swift bisa membuat kita berhenti sejenak, merasa ditemani. Ophelia mengajak kita menengok ke dalam sistem yang membuat perasaan jadi beban. Di situlah kesialannya bekerja. Dan di situlah, juga, relevansinya bertahan.