AGITASI.ID-Hadirnya oposisi ditengah demokrasi merupakan keniscayaan. Demokrasi sendiri menghalalkan keberadaannya. Alasannya karena ditakutkan pemangku kekuasaan malakukan kekhilafan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi. Istilah kerennya itu untuk menciptakan Cheks and Balance. Oleh karenanya, oposisi berperan sebagai kontrol kekuasaan dari luar. Atau dengan kalimat lain, eksistensi oposisi bertali-temali dengan kepentingan menegakkan kedaulatan rakyat itu sendiri.

Meskipun keberadaan oposisi terkadang menjengkelkan penguasa, tetapi alasan diatas logis dan dapat diterima akal. Kang Mahbub Djunaidi dalam esainya memfatwahkan bahwa selain oposisi banyak rupanya, oposisi juga banyak tingkahnya. Hakekat oposisi adalah para lawan norma politik sosial yang tidak disetujuinya. Setiap apa saja yang tidak disetujui gerombolan oposan, pasti akan dikritik habis-habisan. Tujuannya untuk memerosotkan martabat yang dianggap lawan, kalau bisa menjungkirkannya. Subtansinya, yang penting oposisi.

Kemudian adakah di kampus UIN KHAS Jember oposisi? Oposisi yang konsisten mengkritik setiap kebijakan yang membelot. Oposisi yang permanen menjadi jiwa kedaulatan dan kepentingan rakyat. Melakukan upaya pengkoreksian yang ditujuakan guna meluruskan jalannya kekuasaan. Kalau semisal ada, oposisi bermacam apa itu?

Di kampus UIN Khas Jember ada media yang mengaku oposan atas jabatan intra kampus. Instagram merupakan platform yang dipilih untuk memfasilitasi wacana kritiknya. Nama media di instagramnya @uinkhas_shitpost, dengan mengatasnamakan keresahan mahasiswa sebagai landasan kritiknya. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari telisiki posisi media @uinkhas_shitpost di kampus UIN KHAS Jember.

  • Awal Munculnya dan Kritik Atas Kabinet Kerja Progresif

Angkasa kampus UIN Khas Jember digemparkan dengan kemunculan media di platform instagram. Bisa dikata media tersebut kontroversial. Lebih-lebih bagi mahasiswa yang bersangkutan atas kritik yang disampaikan @uinkhas_shitpost. Saya sebagai mahasiswa biasa, sebenarnya enggan untuk ikut berkontribusi mengkepoi dan menstalkingi. Sialnya, salah satu teman yang kurang ajar memaksa saya untuk terlibat mengkepoi akun mediaanya. Alhasil saya ikut menyimak bagaimana @uinkhas_shitpost mengkritik tanpa ampun Kabinet Progresif.

Media @uinkhas_shitpost pertama kali muncul di dunia akademisi UIN Khas Jember satu tahun yang lalu. Tepatnya saat priode Kabinet kerja Progresif menjabat pada masa priode 2019-2020. Mula-mula viralisasi media ini dengan cara mengkritik habis-habisan Kabinet Progresif. Memposting foto jelek ketua dan wakilnya, baik ketua Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) maupun Dawan Eksekutif Mahasiwa Universitas(DEMA-U). Lengkap dengan kalimat yang cukup nyentrik. Sehingga tak jarang membuat pembaca berang, khususnya yang kebetulan menjabat.

@uinkhas_shitpost mendeklarasikan bahwa medianya merupakan media oposisi kekuasaan. Hal ini jelas terlihat dalam biodata akun Instagramnya. Tertulis disana, KAMI BUZZER MAHASISWA YANG RESAH, dengan hurup kapital. Anti domninasi absolut, anti diskriminasi, egaliter, dan agitator menjadi jargon kebanggaannya. Entah media tersebut benar-benar menjadi penyambung apsirasi masyarakat yang resah atau tidak. Artinya  medianya adalah wakil daripada keresahan mahasiswa terhadap jabatan kekuasaan.

Kritikannya cukup asik, nyentrik, bahkan sedikit nguawor. Ngawor, karena media tersebut tak segan untuk memposting wajah unyu ketua pejabat intra. Asik dan nyentrik karena poin kritiknya menggunakan diksi unik. Misal poin kritiknya terhadap SEMA; deketin anggota dewan biar kayak dewan beneran, mondar-mandir buat konsolidasi tempat ngopi, selanjutnya sama kayak kerjanya yang diawasi (DEMA). Kemudian ditambah dengan pertanyaan “Masih yakin ini wakil mahasiswa kita?”. Walaupun kritikannya tanpa data dan tak layak berada di dunia akademisi, poin kritikan ini cukup membuat saya cengar-cengir ketika membacanya.

Tidak cukup sampai disana, media ini juga banyak mengkritik Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA-U). Salah satu postingan tertanggal 17 Desember 2020, @uinkhas_shitpost mengajak pembaca untuk mengetahui program kerja dari Kabinet Progresif. Poin kritikannya begini; tukang bikin pamflet ucapan selamat, humas kedua kampus, baksos kayak dinsos. Ngopi teros sampek asam lambung, nyempil di aksi tapi gak paham subtansi, dan tidur di kantor. Dilengkapi dengan hastag #bubarkandema #demagakguna #mositidakpercayadema. Ya lagi-lagi kurang subtansial, tidak lebih hanya menjengkelkan. Tetapi dalam hal ini, bukan berarti saya jengkel terhadap @uinkhas_shitpost. Saya hanya mau bilang, kalau kritikannya disertai dengan data otentik dengan langkah akademis pasti lebih keren.

Dari postingan ini banyak mahasiswa yang menghujat, mencela, akan tetapi ada juga yang mendukung. Komentar yang tidak sepakat dengan media ini misalnya, “postingan ini bisa dilaporkan loh min, atas penyalahgunaan foto dan pencemaran nama baik”. Ada juga yang mengomentari editannya kayak anak SD. Memang benar desain dari postingannya tidak bisa dikatakan bagus, bahkan lebih pantas dikatakan jelek. Tetapi desain tidak penting, yang penting adalah kritikan yang disampaikan. Namun menurut saya kritikannya receh dan kurang subtansial. Media tersebut kurang serius sejak dalam dalam mengkritik.

  • Uin Khas ShitPost Media Oposan Kekuasaan yang Momentuman

Sekarang, Kabinet Progresif telah purna masa jabatannya. Kabinet Kerja Progresif lengser dan diregenerasi oleh Kabinet Revolutif 2020-2021. Sepertinya regenerasi jabatan intra ini juga berpengaruh atas media oposisi ini. Pasalnya, media yang mendeklarasikan diri sebagai oposan kekuasaan sekarang tidak getol mengritik lagi. Hal ini yang kemudian membuat saya kecewa sekaligus curiga terhadap posisi media @uinkhas_shitpost sebagai oposan kekuasaan.

Pertama, saya sebagai penyimak setia media @uinkhas_shitpost merasa kecewa. Kekecewaan ini karena oposisi kekuasaan sudah adem ayem. Entah apa penyebab ke-adem-ayeman tersebut. Sebenarnya dengan hadirnya media yang mengakusisi oposisi ini, pejabat intra akan lebih serius menjabat. Minimal pejabat intra tersebut takut wajah unyu-nya diposting di intagramnya. Meskipun motivasi semacam ini tergolong lucu sekali.

@uinkhas_shitpost sebagai media oposan kekuasaan sudah redup sekarang. Hal ini  pasti membuat followersnya kecewa, termasuk saya. Apakah mahasiswa tidak resah atas Kabinet Revolutif? Kok ya sekarang jarang mengkritik. Apakah Dewan Revolutif sudah mantap dan terkontrol kerjanya? Kok @uinkhas_shitpost yang katanya mengontrol fungsi dan wewenang dari luar sekarang adem-ayem klemar-klemer. Apakah Kabiet Kerja Revolutif sudah benar-benar Cheks and Balance sehingga jarang dipantau dan dikritisi. Padahal tidak ada kepemimpinan yang sukses sempurna dalam menjabat.

Kedua, saya curiga terhadap @uinkhas_shitpost sebagi media yang katanya oposisi atas jabatan kekuasan. Sebenarnya ini hanya sebatas kecurigaan saya. Dan kecurigaanpun tidak baik katanya. Saya menduga bahwa jangan-jangan media @uinkhas_shitpost dibuat hanya untuk menghantam Kabinet Kerja Progresif 2019-2020 tahun lalu. Kemudian dari sana media tersebut ingin dilirik mahasiswa Uin Khas Jember. Sebenarnya kritik tersebut bukan murni atas keresahan mahasiswa. Melainkan media tersebut lahir dari traumatik, atau dari barisan sakit hati. Terbukti kritiknya hanya momentuman pada Kabinet Progresif saja. Kritikannya-pun tidak berbasis data.

Lebih ekstremnya begini, bisa saja admin @uinkhas_shitpost yang sampai sekarang misterius itu adalah patner Kabinet Revolutif 2020-2021. Atau bahkan adminnya adalah salah satu dari struktural pengurus Kabinet Revolutif. Artinya Blio (admin @uinkhas_shitpost), sekarang menjabat ditatanan intra kampus. Blio sibuk akan program kerjanya, sehingga jarang bahkan lupa akan tugasnya mengkritik, bisa saja kan. Meskipun asumsi ini hanya sebatas kecurigaan, tetapi kecurigaan ini tidak tertolak oleh nalar akal. Faktor ini yang kemudian mejadikan media @uinkhas_shitpost tidak bisa dikatakan oposisi. Kalau meminjam istilah Kang Mahbub Djunaidi, @uinkhas_shitpost  ini bukan oposan yang permanen. tidak lebih hanya oposan yang bodrexkan. Kritiknya hanya didasarkan pada kepentingan tertentu saja. Kepada pembaca saya ingin berpesan, hati-hati dan jangan mudah terprofokasi. Akan lebih baiknya kalau pembaca tidak menelan mentah-mentah wacana yang berterbangan di media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.