AGITASI.ID – Kehidupan orang-orang agung tidak seluruhnya memuaskan, kecuali pada sedikit momen-momen agung tertentu.

Sokrates menikmati perjamuan sesekali. Ia juga mesti lumayan mendapatkan kepuasan dari percakapannya saat hemlock sedang bereaksi, tetapi sebagain besar hidupnya habis dalam senyap bersama Xanthippe, melakukan gerak badan saat sore hari, dan mungkin berjumpa beberapa kawan di jalan. Kant pun dikatakan tak pernah bepergian lebih dari 10 mil dari Koningsberg sepanjang hidupnya. Darwin, setelah pergi keliling dunia, Ia menghabiskan sisa hidupnya di rumahnya sendiri. Marx, setelah memantik beberapa revolusi, memutuskan untuk menikmati hari-harinya di British Museum. Al Ghazali, sebelum mencium kafannya sendiri, Ia sempat mendirikan madrasah di kampung halamannya. Muhammad, setelah revolusi moralnya menuai kesempurnaan nilai, di akhir hayatnya Ia lebih banyak bersama Aisyah, dan menikmati momen dengan sedikit mengeluhkan rasa sakit sisa racun Zainab binti Harits.

Jika diakumulasi, maka bisa dikatakan bahwa sebuah kehidupan yang “tenang” adalah karakteristik orang-orang “agung”, dan bahwa kesenangan-kesenangan mereka bukanlah jenis yang akan tampak asik bagi mata luar.

Dua puluh enam jam baru saja saya lalui tanpa ponsel sebab rusak. Spontan saya merasa “agung” dan “tenang” menikmati momen tersebut, momen yang jauh dari ketegangan saraf berlebih, puasa sosial media memang sesekali butuh untuk disiplin mental. Momen ini begitu saya sebut agung sebab tak seperti biasanya saya memperhatikan hal-hal di dekat saya: teman, lingkungan, kesehatan, pekerjaan kos dan banyak hal lainnya  yang justru seringkali tak saya hiraukan meskipun berada dekat di sekeliling. Body care dan nafsu makan yang tak seperti biasanya pun ikut mewarnai 26 jam ini. Sebelum pada akhirnya saya kembali hidup di tengah-tengah masyarakat urban modern yang susah terhindar dari saraf yang lelah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related News