STATEMENT REKTOR UIN KHAS ; Kritik Habermas dan Interupsi dari Guru Besar

AGITASI.ID – Resepsi pelantikan formasi kabinet UIN KHAS Jember masa bakti 2023-2027 telah selesai digelar, tepatnya bebarengan dengan momentum hari pahlawan (10/11). Pilihan momentum yang mungkin cukup tepat, sekalian mengenang jasa pahlawan rektor sebelumnya yang tak kunjung turun jabatan. Formasi kabinet yang ditetapkan pun menuai beberapa gejolak kritik. Salah satunya adalah nyinyiran sesama guru besar. Bagaimana fenomena demikian dalam pandangan Habermas? Baca sampai akhir!.

Sambutan dari rektor baru UIN KHAS Jember pun ikut mewarnai prosesi pelantikan. Prof. Dr. Hefni, serpaan kalimat yang beliau lontarkan sedikit mengandung unsur satire dan mengundang gejolak singgungan, apalagi pembacanya sekelas guru besar.

Bacaan Lainnya

Sebagaimana redaksi di website UIN KHAS, “bahwa ketidakpatuhan terhadap rektor adalah tindakan pelanggaran keimananan. Barang siapa yang beriman kepada selain rektor maka dia musyrik, dan do’anya tidak akan terkabulkan.”

Namun, sesuai redaksi itu terdapat keterangan di bawahnya bahwa diksi “keimanan” yang disampaikan dalam konteks kepemimpinan, bukan pengertian keagamaan. Jadi, iman dalam makna setia lahir batin, perkataan dan perbuatan kepada rektor untuk mewujudkan visi dan misi UIN KHAS dan Kementerian Agama. Awas masuk kategori syirik kecil, loh.

Muncul banyak pertanyaan dari publik kemudian, sejak kapan kualitas keimanan diukur dari tindakan kepatuhan terhadap rektor? Bukankah dalam agama Islam orang yang beriman kepada selain Allah ia sudah musyrik, apalagi kalau beriman kepada rektor. Hemmh, ada-ada saja pimpinan kita ini ya, jadi kalau beriman ke selain rektor itu musyrik dan do’anya tidak akan terkabulkan guys. Sejak kapan otoritas yang berkuasa mengabulkan do’a umatnya bisa diketahui oleh rektor.

Baca Juga :  HABIB HUSAIN JA’FAR AL-HADAR; Neraka Dibuat Atas Nama Cinta

Tak lama kemudian, disusul kabar yang beredar di kalangan mahasiswa, ada status WhatsApp dari salah satu guru besar UIN KHAS, yang mana captionnya terkesan mengingatkan. Caption tersebut, bertuliskan “Sebagai pemimpin publik, harus hati-hati bicara apalagi soal keimanan.” Dari sinilah sehingga menimbulkan keramaian dalam perbincangan mahasiswa. Tak hanya menjadi topik guyon, tapi ada juga yang menanggapinya secara serius. Bagaimana tidak ramai diperbincangkan, sebagai sesama guru besar bertikai soal “keimanan”.

Memang benar, jika mengingat kabar ini terdengar sudah basi, tapi lebih basi lagi kalau sama sekali tidak ada upaya untuk merawat ingatan tersebut. Oleh karena itu, penulis akan menghadirkan kembali ingatan itu melalui framework komunikasi Jurgen Habermas.

Rasionalitas Komunikasi

Habermas mengenalkan teori komunikasinya yang Ia sebut sebagai rasionalitas komunikasi. Habermas meyakini bahwa rasionalitas komunikasi sudah ada dalam akal budi manusia, yang digunakan sebagai alat interaksi dengan sesamanya.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi tanpa dominasi di dalamnya, tidak ditunggangi kepentingan, dan poin pentingnya tidak memposisikan lawan bicara atau pendengar sebagai benda mati (objek), serta saling pengertian antar semua pihak yang bersangkutan. Walhasil, rasionalitas komunikasi yang dimaksud bisa berupa dialog intersubjektif.

Lebih lanjut mengenai rasionalitas komunikasi, setidaknya ada beberapa klaim yang harus diterapkan sehingga komunikasi bisa berjalan dengan ideal yakni; kebenaran, kejujuran, dan ketepatan.

Interupsi dari Guru Besar

Nah, lantas apa korelasi statement rektor, status WhatsApp dari salah satu guru besar UIN KHAS dan teori komunikasi Habermas?. Rupa-rupanya ada kontestasi nalar antar guru besar sebagai upaya untuk menghegemoni publik. Kira-kira mana yang lebih kuat wacananya soal “keimanan” ya.

Pendek kata, status WhatsApp dari guru besar tersebut memberi interupsi informasi bahwa “jangan bercanda soal keimanan!”. Sebenarnya hanya itu saja, namun lain soal jika status WhatsApp tersebut milik seorang guru besar, kepalang ramai untuk publik bukan?.

Baca Juga :  BINCANG-BINCANG FENOMENA CHILDFREE

Pandangan nalar rasional komunikasinya Habermas, sambutan atau komunikasi rektor itu tidak ideal karena berhenti pada entitas tindakan strategis, yang memanfaatkan jabatan struktural dan tidak memberi ruang bicara pada jajaran kabinetnya, serta hanya fokus pada tujuan kepentingannya.

Rektor sebagai pembicara memposisikan pendegar sebagai objek, yang seolah-olah mengatur dan mengontrol melalui instrumen intruksi yang tak bisa diganggu gugat. Itupun diafirmasi dengan perkataan “Barang siapa yang beriman kepada selain rektor maka dia musyrik, dan do’anya tidak akan terkabulkan.” Hal ini menjadikan para dekanat, wakil rektor (warek) dan jajaran kabinetnya terbelenggu, dan secara terpaksa menyetujui motif pemangku kekuasaan (rektor). Hal demikian jelas sama sekali tidak emansipatoris.

Setiap pernyataan dan gelagak penguasa tak bisa dilihat secara mentah-mentah. Rasa skeptis terhadap rezim kekuasaan adalah bagian dari kewaspadaan. Siapapun dan kapanpun bisa jadi makanannya, selama ia masih bersimbah pada lingkar kekuasaannya!.(*)

Penulis: Fadli Raghiel, Antonio Sigit
Editor: Sam Ridwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *